
Aryun adalah santri putri yang sebaya dengan fitri dan laura. Aryun dan sari berteman dekat sejak awal masuk pesantren di kelas 1 tsanawiyah. Aryun adalah penggemar berat santri putra bernama reza itulah mengapa di awal laura masuk pesantren aryun sudah menunjukkan rasa ketidak sukaannya pada laura. mengingat hari pertama MOS saja respon reza sudah sangat terlihat bahwa pria yang di kagumi selama ini lebih tertarik pada santri baru itu.
Kebetulan sari mengambil jurusan yang sama dengan laura, dan di dalam kelas keduanya duduk berdampingan. awalnya laura menganggap hal yang biasa mempersilahkan sari membaca surat yang di kirim oleh reza di laci tempat mereka duduk. toh laura juga tak punya perasaan apapun pada reza dan tak berniat untuk membaca pesan-pesan yang tak penting baginya itu. Sampai di sidang pagi tadi laura baru ngeh, kalau surat yang di baca sari itu mungkin di berikan pada aryun dan di balas mengatas namakan dirinya.
Laura tak ingin mempermasalahkan hal itu, yang dia tak habis fikir adalah bagaimana sikap seorang ustadz dan ustadzah ketika menyelesaikan problem yang tengah di hadapi santrinya. Bisa-bisanya mereka hanya memutuskan sepihak tanpa menelusuri lebih lanjut. bahkan nyata tak terbuktipun seperti enggan di percaya. Atas dasar apa seorang figur agama mempunyai pemikiran demikian itu.
Atas saran dan masukan dari ustadz A'ab dan Fitri akhirnya laura setuju untuk menindak lanjuti apa yang di alaminya pagi ini. meskipun awalnya sempat menolak dengan alasan yang sama tapi akhirnya kedua orang itu mampu menggoyahkan pendirian laura.
Ustadz A'ab menyarankan agar laura tetap berhati-hati dalam bertindak. tidak grusa grusu yang akhirnya akan kembali menyulitkannya. Aisyah mungkin bisa menjadi jalan untuk menjebak aryun dalam permainannya sendiri. karena mungkin hanya aisyah yang disini bisa di anggap netral dan tidak mungkin di curigai oleh aryun. kalaupun curiga tak akan ada yang bisa dia lakukan kepada sang putra kyai itu. Sedangkan ustadz A'ab berniat untuk kembali menyelidiki izza dan fauzy yang menurutnya tak dapat memutuskan perkara dengan seenaknya itu.
" baiklah, kalau kamu sudah kenyang kita kembali ke pesantren! " ujar ustadz A'ab setalah pembicaraan berakhir.
" ustadz hari ini ga ngajar ?" tanya laura sebelum menjawab ajakan sang ustadz.
" yo ngajar, mau gimana lagi aku sudah izin minta gantikan ustadz farhan !" jawab ustadz A'ab.
"ustadz ga ngizinin fitri ?" tanya laura lagi.
"aku sudah WA neng ais, !"
Fitri dan laura bernafas lega dengan jawaban itu. karena jujur fitri juga takut kembali ke pesantren karena tadi dia tak izin terlebih dahulu pada pengurus. tapi kalau sudah berurusan dengan aisyah dia yakin bahwa semua sudah baik-baik saja.
Laura beranjak meninggalkan kedua orang yang masih terdiam di tempatnya dan menuju kasir untuk membayar semua makanan yang telah di pesan juga membawakan beberapa makanan untuk teman sekamarnya.
"Sama seperti bapaknya, walaupun kaya tapi hatinya besar, Andai semua orang kaya seperti itu !" batin ustadz A'ab
Laura kembali dengan beberapa kantong plastik di tanganya. menyodorkan 1 buah kantong plastik pada ustadz A'ab dan meminta bantuan fitri untuk membawakan kantong plastik yang berisi makanan untuk teman sekamarnya.
" ini buat ?" tanya ustadz A'ab saat menerima kantong plastik itu.
" tanda terima kasih, bisa di kasihkan ibu'nya ustadz kalau ustadz udah kenyang !" jawab laura tulus.
" Terima kasih !" ujar ustadz A'ab tak menyangka di balik keseharian laura yang selama ini pecicilan mempunyai jiwa yang sangat besar.
Laura hanya menjawab dengan seulas senyuman kemudian berlalu dan keluar dari kedai tempatnya makan siang disusul ustadz A'ab dan fitri yang setia mengekor di belakang.
Tak membutuhkan waktu lama jarak kedai yang tak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk ketiga orang itu sampai di pesantren. yang ternyata disana aisyah yang tadi mendapat kabar dari ustadz A'ab mengenai kondisi laura sudah menunggu dalam keadaan panik.
" laura !" teriak aisyah begitu mobil yang di kendari ustadz A'ab sampai di halaman asrama putri.
" kamu ga papa kan ? kang A'ab sudah cerita semuanya !" Aisyah berhambur memeluk sahabat yang baru turun dari mobil itu dengan khawatir.
" aku g papa kog syah, kamu ga sekolah ?" tanya laura melihat sahabatnya itu tak berseragam.
" yo wes timbang nungguin kita, ki bantuin aku mbawa, dasar si alura mosok aku di tinggal di dalem mobil barange gak di bawa !" gerutu fitri yang baru saja turun dari mobil memberikan sebagian kantong plastik yang di bawanya pada aisyah.
" ups, sorry aku lupa fit !" laura cengengesan menggaruk tengkuk yang tertutup jilbab kuning yang di kenakannya.
" wes ceritane nanti aja ra, ayo naik dulu !" Fitri nyelonong begitu saja meniggalkan laura dan di susul aisyah yang kini tanganya juga sudah penuh dengan plastik berisi makanan.
Sementara laura yang berada di posisi paling belakang terkekeh geli melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
"ra, !" panggil ustadz A'ab yang masih berada di dalam mobil tak berniat untuk turun.
Laura yang hendak menyusul kedua sahabatnya menghentikan langkahya dan menoleh kearah suara yang memanggilnya.
" kamu benar-benar sudah tidak papa ?" tanya ustadz A'ab tulus.
Apa dia mengkhawatirkan ku ? ach,..tidak tidak, jangan terlalu berharap pada makhluk Allah ra,. ...
Laura segera menggeleng menepis pikirannya , meskipun pertanyaan itu membuat hatinya menghangat tapi ia masih tak ingin terlalu berharap.
"ra , kamu baik-baik saja kan ?" tanya ustadz A'ab sekali lagi memastikan.
" ah..iya, seperti yang ustadz lihat, aku baik-baik saja !" jawab laura sedikit gugup.
"Alhamdulillah, !" sukur ustadz A'ab dengan seulas senyum lega.
" a..aku masuk dulu nggih ustadz, Assalamualaikum! " pamit laura yang entah mengapa berubah jadi salah tingkah.
"wa'alaikumussalam! "
Laura melangkah menjauhi mobil yang masih anteng parkir di depan asrama putri selepas mengantarnya kembali dari klinik.
"ustadz...!" entah keberanian apa lagi yang membuat laura kembali memutar arah setelah beberapa langkah menjauh dari mobil itu.
" hemm, kenapa ?" tanya ustadz A'ab heran yang juga masih enggan membawa mobilnya beranjak dari halaman asrama putri.
" Terima kasih !" ujar laura sebelum akhirnya benar-benar belari meninggalkan sang ustadz entah karena malu atau gengsi yang pasti hatinya sedang berdebar saat ini.
Sedangkan sang ustadz yang mendapat perlakuan tak biasa itu saat ini juga tengah senyam senyum sendiri di dalam mobilnya.
Astagfirullah hal adziiim, kenapa dia jadi aneh seperti itu ? membuat hatiku....ach...aku ini mikir apa toh yo..yo....
Ustadz A'ab segera menepis pikirannya dan melajukan mobilnya berlalu dari halaman asrama putri menuju halaman asrama putra tempat sesungguhnya mobil itu harus berdiam diri.