
Setelah hampir 8 jam di dalam sana, tim dokter yang menangani laura akhirnya keluar dari dalam ruangannya. Dengan segera semua orang yang telah menunggu beranjak menghampiri dokter tersebut.
" bagaimana kondisi anak saya dokter ?" tanya handika
" Alhamdulillah anak bapak terselamatkan, hanya saja benturan di bagian kaki yang cukup keras membuat tulangnya retak berkeping keping, kemungkinan untuk bisa berjalan secara normal kembali mungkin sangat minim, !" terang dokter kemudian pamit pada keluarga dan semua orang di sana setelah memberitahukan dimana ruang rawat laura.
" anak kita pa,...bagaimana saat dia tahu kalau dia tidak bisa jalan lagi nanti pa,...!" tangis ratih semakin nyaring setelah mendengar penjelasan dari dokter.
" Dokter tidak bilang anak kita tidak bisa jalan ma, dia pasti bisa jalan normal lagi, pasti !" Handika mencoba meyakinkan sang istri.
" tapi pa, dokter bilang....
" ma, papa akan lakukan apapun supaya anak kita bisa berjalan lagi, termasuk berobat keluar negeri sekalipun! " Tegas Handika pada sang istri.
Semua orang yang ada disana tak kalah sedih dan frustasi dengan ratih.Laura dengan segala keceriaan dan kekonyolannya, tak bisa di bayangkan saat ia tahu bagaimana kondisinya nanti.
Semua orang berjalan menuju ruang rawat untuk melihat kondisi laura. Kecuali ustadz A'ab dan ustadz Fauzi yang lebih dulu pamit mengingat tubuhnya yang penuh dengan darah dan tak memungkinkah untuk di pakai beribadah.
Laura masih menutup matanya dengan rapat. Dengan wajah pucat rambut lurusnya yang lama tertutup rapat saat itu tergerai indah di atas bantal. Dengan selang yang terpasang di bawah hidungnya. Semua berharap kondisi itu akan segera berlalu. Laura periang akan segera kembali membuka matanya. satu persatu orang yang ada menghampirinya. mengajaknya berbicara meski tak ada sautan sedikitpun.
Fitri yang paling merasa bersalah, berceloteh ngalor ngidul berharap sahabatnya itu akan mendengarnya. air matanya terus mengalir membasahi tangan laura yang terus saja di genggamnya.
" ra, ayo bully aku lagi , kamu di cariin reza tuch,...ayo ra....
Tangis fitri semakin menjadi disetiap celotehannya teringat akan wajah ceria laura saat bersamanya.
" Fitri, laura beruntung punya teman sepertimu !" Ratih mendekat kearah fitri yang tengah terisak di samping putrinya.
" maafkan aku tante, maafkan aku tak bisa menjaganya.....!" kini fitri sudah berhambur memeluk ratih yang ada di sampingnya.
" Fitri tidak salah, fitri tahu kan kalau ini takdir !" ratih membelai lembut kepala sahabat putrinya mencoba memberi ketenangan padahal hatinya juga sama hancurnya.
Handika yang melihat sikap istrinya memiliki rasa kagum. Padahal dari tadi dirumah sampai sepanjang perjalanan dia terus saja menangis, tapi saat ini melihat putrinya terbaring ia bisa menjadi setegar itu.
Setelah dirasa cukup, keluarga ndalem berpamitan pada keluarga laura. Mengingat tanggung jawab mereka di pesantren juga masih banyak. fitri yang sebenarnya masih enggan untuk meninggalkan laura tapi dia harus ikut dengan keluarga pak yai mengingat statusnya yang masih menjadi santri.
" segera bangun ya ra, inget fitri ya jangan lupa ingatan nanti kalau bangun !" ujar fitri yang meskipun dalam keadaan sedih masih bisa nglantur.
" aku juga pamit ra, maafkan aku tidak bisa menjadi sahabat yang baik untuk kamu !" pamit aisyah.
Ratih terus memandangi wajah anak gadisnya yang tengah terbaring di ranjang yang serba putih itu. sesekali membuka kakinya yang di balut dengan perban tebal. Masih tak bisa membayangkan bagaimana reaksi anaknya ketika bangun nanti. Tapi bagaimanapun laura masih selamat ia sudah bersukur luar biasa. setidaknya apapun kondisinya nanti masih bisa berkumpul dengannya dan keluarga yang lain.
" sayang, makan dulu, dari pagi kamu belum makan !" ujar Handika membawakan makanan disisi sang istri yang masih setia memandang wajah putri kesayangannya.
" Bener tan, tante harus makan demi laura, kalau tante ga makan siapa yang jagain laura !" imbuh bobi memberi semangat.
" kira-kira sampai kapan anak kita akan tidur pa ?" tanya ratih tanpa menghiraukan perkataan sang suami dan keponakannya.
" putri kita anak yang kuat ma, mama ingat dia pernah berjuang di inkubator saat bayi selama satu bulan lebih, nyatanya dia tumbuh menjadi gadis yang sangat baik dan cantik, mama harus yakin laura akan segera bangun dari tidur cantiknya !" Handika terus menyemangati sang istri.
" papa benar, cepat bangun ya sayang !" Ratih mengecup kening sang putri kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Handika dengan telaten mendampingi dan menyuapi sang istri yang tengah terpuruk itu. bukan berarti dia tak terpuruk, tapi dirinya harus tetap tegar untuk menguatkan sang istri.
" pa,...
" iya ma,...
" menurut papa, bagaimana dengan ustadz yang menyelamatkan laura itu ? tanya ratih membuka suara.
" papa sudah beberapa kali ketemu, dan menurut papa dia anak yang baik !" jawab handika dengan seulas senyuman.
" kata bobi, laura menyukainya pa, mungkin dia bisa mempercepat pemulihan laura !" ujar ratih.
" iya kalau dia juga mencintai laura ma, kalau tidak apa anak kita tidak akan lebih terluka ?" tanya handika.
" kayaknya bobi setuju sama usulan tante ratih dech om, urusan ustadz itu suka sama laura apa nggak dipikir belakang, yang penting kehadiran ustadz itu bisa merangsang perkembangan kondisi laura !" sahut bobi.
" Benar mas, dari pengalaman yang ada orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan seseorang bisa mempercepat masa sadar ketika koma !" Reno ikut menyahuti dan sang istri hanya manggut manggut.
" anak saya tidak koma, dokter bilang hanya belum sadar !" sahut handika segera.
" yah, itu kan sama aja mas, umpamanya !" Reno mencebikkan bibir gemas dengan sang kakak.
Kedua istri dan keponakan hanya menggeleng melihat tingkah kakak beradik itu.
Ada benarnya memang usulan Ratih, yang di dukung reno dan bobi. masalahnya adalah bagaimana mungkin Handika akan meminta tolong pada orang lain yang juga belum jelas bagaimana perasaannya pada sang putri untuk menemani setiap hari. apakah tidak menjadi lebih merepotkan nantinya. Bagaimana jika ia menolak ? hemh...