Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
lepaskan aku



Pagi ini Ratih sengaja datang lebih pagi untuk menemui putri kesayangannya. mengingat sore nanti sang putri akan pergi ke surabaya bersama suaminya. Meski bukan kali pertama menginjakkan kaki di rumah kontrakan sang putri, rasanya berat bagi ratih untuk melangkah masuk setiap kali memasuki pekarangan rumah itu. terus saja rasa iba merasuki dalam hatinya. Apalagi beberapa kali berkunjung kesana ia selalu mendapati laura makan dengan sangat sederhana. jauh dengan makanan istimewanya yang biasa ia nikmati di rumah.


" suamimu sudah berangkat?" tanya Ratih pada laura yang masih sibuk mencuci piring kotor bekas sarapannya dan suami.


" sudah donk ma, mama tumben pagi sekali kesininya ?" tanya laura.


" mama bawakan oleh-oleh buat mertua kamu, katanya mau ke surabaya !" jawab ratih.


" hmmm, mama udah makan ?" tanya laura duduk di kursi rotan ruang tamunya bersama sang mama.


" tadinya sih mama mau makan sama kamu, ni mama udah bawa makanan kesukaan kamu !" jawab Ratih.


" aku udah makan tadi sama ustadz, mama ga mau cobain masakan aku ?" tanya laura


Dalam hati Ratih sangat ingin menangis,tak kuasa melihat apa yang menjadi makanan sang putri. Tapi kalau laura tahu pasti laura akan menganggapnya tidak percaya bahwa laura bahagia hidup dengan sang suami meski dalam kesederhanaan. Bukan berarti ratih tak percaya, ia hanya tak tega melihat putri kesayangannya itu hidup dalam kesusahan.


" emang anak mama ini udah bisa masak ?" tanya Ratih menguatkan hatinya.


"bisa donk, mama mau cobain perkedel tahu sama tumis buncisnya laura ?" Laura balik bertanya dengan antusias menunjukan bahwa ia sudah bukan lagi anak manja yang apa-apa serba minta.


" Boleh dech, !"


Dengan antusias dan bangga laura menyodorkan hasil masakannya yang cukup simple tapi baginya sangat nikmat kepada sang mama. Apalagi ketika dinikmati bersama sang suami. Air mata ratih sudah hampir tumpah rasanya, apalagi melihat ke antusiasan laura rasanya campur aduk antara tak tega dan juga terharu dengan cara anaknya hidup dalam kesederhanaan padahal sudah terbiasa hidup mewah dan segalanya tercukupi.


"enak sekali masakan anak nya mama !" puji ratih membelai lembut kepala sang putri.


" ustadz yang ngajarin laura masak !" ujar laura dengan bangga.


" Alhamdulillah, senangnya mama punya menantu yang serba bisa!"


Tak sedikitpun ada keraguan dalam hati Ratih. ia sangat bangga dengan cara menantunya mendidik sang anak. Tapi sekali lagi ia hanya tak tega melihat anaknya hidup dalam kesusahan.


Ratih sengaja menunggu sampai menantunya pulang. sekaligus mengantar anak dan menantunya pergi ke bandara. Mana mungkin tega ia membiarkan anak dan menantunya berangkat sendiri naik motor.


" Assalamualaikum!" salam ustadz A'ab yang sengaja izin pulang lebih awal karena jam pelajarannya telah usai.


" wa'alaikumussalam !" Laura menyambut kehadiran suami dengan senyuman hangat dan tak lupa mencium tangannya dan di balas ciuman kening oleh sang suami.


" Ada mama, apa kabar ma ?" Dengan sopan ustadz A'ab menyapa sang mertua.


" Alhamdulillah mama baik, gimana sekolah baru kamu ?" Ratih balik bertanya.


" Alhamdulillah enak ko ma, !"


Ratih yang memang hafal betul bagaimana sifat anaknya hanya menggeleng.


" saya masuk dulu ma, mau siap-siap !" pamit ustadz A'ab pada sang mertua yang di jawab dengan anggukan oleh Ratih.


Setelah keduanya selesai bersiap ternyata Handika sudah berada di halaman dan siap mengantarkan anak dan menantunya sampai ke bandara. Awal nya laura menolak, tapi dengan pengertian sang suami akhirnya dia menurut. Ia merasa jika orang tuanya masih terlalu ikut campur dalam rumah tangganya. Dan selama orang tuanya masih bersikap demikian tentu ia juga belum bisa belajar mandiri.


Sepanjang perjalanan laura terus menggerutu karena sikap kedua orang tuanya yang tak juga mau melepaskannya untuk hidup mandiri. Rasanya kesal terus di perlakukan seperti anak kecil padahal ia sudah dewasa dan berumah tangga.


" sudah ya, mama sama papa seperti itu karena saking sayangnya sama kita, udah jangan ngambek gitu, dosa tau !" ustadz A'ab mencoba memberi pengertian kepada sang istri.


" tetap aja hub, mereka keterlaluan, aku sudah nikah harusnya mereka harus merelakan aku hidup mandiri sama kamu !" Laura masih saja tak terima dengan sikap orang tuanya.


" memang benar, kamu sudah menjadi tanggung jawabku tapi masih tersisa kewajiban kamu untuk berbakti juga kepada mama sama papa !" sebisa mungkin memberi pengertian dengan lembut tak ingin membuat sang istri terluka.


Laura kembali terdiam karena sungguh ia masih kesal dengan sikap kedua orang tuanya.


" udah ach manyunnya, kita udah mau nyampe rumah loch masa iya kamu pulang dalam keadaan kaya gini? bisa-bisa Aku yang kena marah ibu ' !"ujar Ustadz A'ab membenarkan bibir manyun sang istri.


" apa hubungannya ?" heran laura menaikan satu alisnya.


"ya iyalah, tiap telpon aja yang di tanya anak wedoknya ibu mana ? bisa kena mutilasi aku kalau lihat anak wedoknya mukanya kusut kaya baju belum setrikaan gini !" jawab ustadz A'ab pura-pura bergidik.


wajah laura memerah mendengar ucapan sang suami. Memang ibu mertuanya itu begitu perhatian dengannya. mungkin karena tak punya anak perempuan jadi dia begitu menyayangi laura seperti anak kandungnya sendiri.


Berbeda dengan kedatangan sebelumnya yang sengaja merahasiakan kedatangan mereka. kali ini ustadz A'ab sudah memberi tahukan kehadiran mereka hari ini pada sang ibu. Jadi bu khomsah telah siap menantikan anak dan menantunya itu dengan senang hati.


" Assalamualaikum!" salam keduanya


" wa'alaikumussalam!" bu khomsah segera keluar dari gubuknya begitu mendengar suara orang yang di nanti-nanti telah tiba.


Menantu kesayangannya menjadi sasaran utama wanita paruh baya itu. mengabaikan wajah sang anak yang sudah mulai masam karena di nomor duakan dengan sang istri.


" apa kabar nak? ibu kangen sekali, kamu sudah makan ? ibu sudah masak spesial buat anak wedoknya ibu ini !" bu khomsah menyerbu menantu kesayangannya dengan berbagai pertanyaan membuat laura terkekeh dengan perhatian sang mertua yang berlebihan itu.


Berbeda dengan laura, sang anak justru pura-pura mendengus kesal karena merasa di nomor duakan dengan sang istri.


" udah lupa sama anak nya sendiri!" cibir ustadz A'ab pura-pura kesal.


" kamu kan sudah biasa masuk rumah, ya masuk saja ibu mau ngajak mantu nya ibu !" ujar bu khomsah mengabaikan dengusan sang anak dan merangkul sang menantu dan membawa nya masuk kedalam rumah.


Laura merasa beruntung memiliki mertua sebaik dan seperhatian bu khomsah. Tentu saja tak semua orang seberuntung dirinya. Suami yang sempurna seperti ustadz A'ab, ibu mertua sebaik bu khomsah. Dan iya, apa yang di katakan sang suami tadi juga benar kedua orangtua yang sangat menyayanginya. Hidup yang sudah lengkap sempurna.