Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
penjelasan



Sesampainya di kedai laura segera membuka pintu mobil yang baru saja selesai di parkir. Tanpa menoleh dua orang di belakang yang sudah begitu gemas dengan tingkahnya. Laura berjalan menguatkan kakinya yang sebenarnya masih gemetar karena belum makan dari pagi. untung di depan kedai ada ATM jadi dia bisa mengambil uang dulu disana. Tak peduli jika kedua orang yang membuntutinya sudah mengerutu, laura hanya perpura-pura seoalah tidak mengetahuinya.


" mbendino koyo ngene fit (setiap hari seperti ini fit )?" tanya ustadz A'ab pada fitri saat menunggu laura yang masih di dalam ATM.


"yo begitulah ustadz, keras kepala banget !" jawab fitri dan sang ustadz mengangguk.


Tak lama laura keluar dengan senyuman khasnya membuat kedua orang yang menunggunya semakin gemas karena tak ada merasa bersalahnya.


" wes ra ndang mangano seng akeh, ojo pingsan pingsan wae, wes syok aku (udah ra, na makan yang banyak jangan pingsan terus, udah syok aku )!" cibir fitri pada sahabat yang baru saja keluar dari ATM itu.


"pasti fit, udah masuk yuk !" jawab laura mantap tanpa rasa bersalah.


Kedua orang yang dari tadi mengekor hanya mendengus melihat gadis yang sok kuat itu.


sesampainya di dalam laura segera memesan banyak makanan enak yang bisa menjadi pengisi kekosongan perutnya. tak lupa meminta fitri dan ustadz A'ab juga memesan makanan untuk diri mereka masing-masing.


"makanan wes segini banyaknya kamu masih mau pesen lagi buat di bungkus ra ?" tanya fitri melihat jajaran makanan di atas meja dan laura masih meminta pelayan untuk membungkuskan makanan untuknya.


" buat temen-temen yang lain fit, !" ujar laura enteng dengan binar mata sudah siap menyerbu hidangan lezat yang ada di hadapannya.


" Do'a dulu, jangan asal di telen aja biar berkah !" ujar ustadz A'ab mengambil sendok yang sudah hampir sampai di dalam mulut mungil laura.


"ck, si ustadz bisa nggak sih ngingetinya baik-baik ga pake ngrebut sendoknya aku juga kali !" gerutu laura pada orang yang telah menggagalkan suapan pertamanya itu.


" La wong makan angger mangap wae kog ora ndungo sek (la wong makan asal makan aja kog, ga mau do'a dulu ) !" sahut fitri menimpali.


"kan bisa baik-baik ngingetinya, emang ga pernah ada manis-manisnya aja tu orang sama aku !" gerutu laura masih tak terima.


" Husss, gak sopan ra !" tegur fitri.


Tak berniat menimpali lagi laura memilih mengambil alih sendoknya dengan kasar dan mulai memakan makanan yang gagal di makan. tak lupa membisikan do'a sebelum makan sambil melirik kearah orang yang tadi telah merampas sendoknya. Namun hanya di tanggapi gelengan oleh orang yang di maksud.


"ra,..!" fitri membuka suara setelah beberapa saat ketiga orang itu terdiam dan fokus pada makanan masing-masing.


"hemmh,


"jadi ceritane gimana tadi pagi ?" tanya fitri meminta penjelasan.


" Biasalah fit, kamu tahu sendiri kan sahabatmu ini cantiknya ga ketulungan ? ya biasa mereka yang sirik suka buat fitnah murahan kek gitu !" Terang laura santai seolah tak menjadikan masalah apa yang telah menimpanya.


"huk..huk...!" pernyataan laura yang asal nyeplos itu membuat sang ustadz yang masih sibuk dengan makananya menjadi tersedak.


" ya Allah ustadz, ustadz ndak papa ?" tanya fitri khawatir sambil menyodorkan minuman pada sang ustadz.


" pasti ga do'a dulu, makanya keselek !" cibir laura kembali menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Laura...!" tegur fitri memperingakan.


" coba bilang sekali lagi ? bukannya ga do'a tapi keselek karena omonganmu yang nglantur itu !" ujar ustadz A'ab tak terima setelah di rasa tenggorokannya nyaman.


" Alesan ....


"ustadz, laura stop, aku lagi bicara serius iki !" fitri melerai kedua orang itu dan mulai menatap laura serius.


Ustadz A'ab yang masih tak terima dengan perkataan laura berniat membantah lagi namun segera di stop tangan fitri yang terangkat kearahnya. Dan kali ini wajah konyol itu berubah menjadi benar-benar serius.


" Ra, aku mohon yang serius, pegel aku ga usah guyonan terus !" sekali lagi fitri memohon pada sahabatnya yang tak pernah tahu situasi itu.


"sekarang cerita yang bener, apa yang terjadi pagi tadi ?" fitri kembali meminta penjelasan.


Laura mengunyah habis makanan yang ada di dalam mulutnya dan meneguk segelas air putih barulah ia mulai membuka suara memberi penjelasan tentang apa yang sudah di alaminya pagi ini sampai dia harus menerima hukuman terberat itu.


"terus nek bukan tulisanmu, tulisane sopo ra ?" tanya fitri penasaran selepas penjelasan laura.


" siapa yang nyidang kamu ?" kali ini ustadz A'ab yang bertanya.


" ustadzah izza sama pengurus keamanan !" jawab laura.


" lalu reza ke ruang sidang putri dengan ?" ustadz A'ab kembali menyelidik.


" ustadz fauzy,..


" kenapa kamu ga tunjukin tulisanmu dan suruh mbedakan dengan yang ada di surat ?" ustadz A'ab dan fitri hanya mengangguk-angguk mendukung semua pertanyaan itu.


" udah, dasar ustadzah izzanya aja yang sensi sama aku dan g percaya, padahal tulisanya jelas-jelas beda !" gerutu laura.


" Lalu fauzy ?"


" hadech aku malah gemes lihat muka tu orang, pengen tak cabik-cabik mukanya yang sok ganteng itu, dia cuma diem dan ngiyani semua yang di katakan ust izza, kog ada gitu ustadz yang ga punya pendirian kaya gitu !" wajah laura sudah memerah karena kesal.


Apa bener yang di katakan gadis ini ? bukanya dia sangat tergila-gila dengan gadis ini ? bagaimana mungkin dia tak melakukan pembelaan sedikitpun ketika gadis yang di cintai di perlakukan tak adil ? batin ustadz A'ab


" sekarang siapa yang kamu curigai ?" tanya ustadz A'ab lagi.


" iyo ra, sopo ?" timpal fitri.


" Aryun n the geng !" jawab laura.


"kog bisa ? sejak kapan aryun nyewotin kamu ?" tanya fitri tak percaya.


" sejak pertama masuk pesantren !"


" yang bener ra ? kog kamu ndak pernah cerita ?" fitri makin tak percaya.


" loe inget beberapa hari lalu kita kena ta'zir mbak kebersihan ? itu juga ulahnya, !" terang laura lagi.


" wes ra, nek omong ojo pelit-pelit, jelasin sejelas-jelasnya !" pinta fitri serius.


sementara ini sang ustadz masih menyimak obrolan kedua santrinya itu.


" iya fit, beberapa hari lalu aku lihat sari nurunin tikar kita waktu mau berangkat diniah dan sepulang diniah kita dapat ta'ziran, dan alasan utama kenapa aku yakin bahwa itu tulisan aryun adalah karena dia sangat suka sama reza, dan dari awal aku masuk pesantren dia udah sinis aja takut kalah saing karena reza sukanya sama aku, !" terang laura yang kali ini dengan wajah serius.


"iyo sih aryun memang suka sama reza sejak MTS, tapi kog kamu ndak pernah cerita kalau kamu sering di sewoti aryun ?" tanya fitri.


" aku ga mau cari masalah aja !"


" dari tadi bilang ga mau cari masalah, justru dengan kamu diam aja kamu menambah masalah seperti ini !" ustadz A'ab mulai masuk ke dalam dialog keduanya.


" bener ra, kamu juga ndak pernah cerita kalau kamu sering dapat surat dari reza !" imbub fitri.


" aku hanya menganggap tidak pernah menerimanya !"


" Berarti akar masalahnya adalah, kamu mendapat surat dari reza yang tidak pernah kamu balas tetapi kamu tahu bahwa orang lain membacanya, dan **** nya kamu tidak segera melaporkan itu ke pihak pengurus dan membuat masalahmu semakin rumit seperti ini !" Tegas ustadz A'ab menyimpulkan semua penjelasan laura.


"ustadz, bukan membuat semakin rumit, hanya tidak ingin....


"tidak ingin memperpanjang masalah, itu lagi alasanmu...


ustadz A'ab lebih dulu menyambung perkataan itu sebelum sempat laura melanjutkan membuat si pemilik perkataan mendengus kesal.


gadis ini terlalu baik, terlalu polos, apa terlalu bodoh ? membiarkan dirinya di perlakukan semena-mena oleh orang lain padahal dia tahu....


( mohon maaf teman-teman author lupa kalo yang jahat itu aryun bukan arum🙈,...maafkan yach , )