
2 Tahun Kemudian🌷
hueeek..
huekkk...
Ustadz A'ab yang hendak berangkat kerja pagi ini terpaksa harus mengurungkan niatnya. Mengingat dari pagi badan laura begitu lemas dan pucat. semua makanan yang masuk keluar begitu cepat. Begitupun seterusnya, apapun yang masuk ke mulut laura selalu kembali keluar. Membuat ustadz A'ab semakin panik sementara tubuh laura semakin tak berdaya.
" kita kerumah sakit ya sayang?" ucap ustadz A'ab dalam kepanikannya mengusap keringat dingin yang membasahi kening sang istri. Sementara laura yang sudah berada pada titik terlemasnya hanya menjawab dengan sebuah kedipan pelan.
Dengan segera ustadz A'ab membopong tubuh mungil ibu dua anaknya itu kedalam mobil dan membawanya kerumah sakit. Sedangkan si kembar memang sejak pagi tadi sudah di jemput kevin dan putri untuk ikut kerumah mereka dengan alasan oma dan opanya sudah rindu.
Kebetulan dokter jaga saat itu adalah kevan. Tentu kevan juga panik melihat wajah pucat sang adik yang berada di gendongan adik
iparnya. Dengan segera ia mengambil alih tubuh sang adik dari adik iparnya dan membawanya masuk kedalam ruang IGD.
" laura kenapa kak ?" tanya ustadz A'ab begitu kevan keluar dari ruang IGD.
Kevan hanya menjawab dengan sebuah senyuman. Merangkul adik iparnya dan menjabat tangan kanannya. Membuat ustadz A'ab semakin penasaran sebenarnya apa yang terjadi pada sang istri.
" selamat pak Aufa, si kembar mau punya adek !" ucap kevan dalam jabatan tangannya.
" ha...kak kevan serius?" tanya ustadz A'ab memastikan.
" mending kamu bawa laura ke poli kandungan sekarang, dia butuh vitamin dan obat untuk meredakan mualnya !" ujar kevan menepuk bahu adik iparnya kemudian berpamitan untuk melanjutkan tugasnya.
" Alhamdulillah!" ucap ustadz A'ab mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan kemudian bergegas menghampiri sang istri yang berada di dalam ruangan.
Di dalam ruangan laura telah menyambut suaminya dengan seulas senyum manisnya meski dengan wajah yang masih pucat. karena Kevan juga telah mengatakan pada Laura tentang bagaimana kondisinya.
cup..
"terima kasih sayang, !" ucap ustadz A'ab mengecup kening sang istri.
Laura hanya mengangguk dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya. Ia sangat bersyukur dengan kondisinya yang saat ini. kembali di beri amanah untuk mengandung dalam waktu yang begitu singkat.
" kita periksa kandungan kamu sekarang ya, wajah kamu masih pucat sekali !" ucap ustadz A'ab membelai lembut kepala sang istri.
Dan lagi laura hanya menjawab dengan senyuman dan anggukan singkat.
Setelah dari poli kandungan dan mengetahui bagaimana kondisi calon bayi mereka, Laura dan ustadz A'ab segera mengabari keluarga dan sahabat yang lain tentang berita bahagia ini. Ucapan selamat dan do'a terbaik dari para sahabat untuk pasangan ini membuat mereka semakin bahagia.
Rencana awal pasangan ini memang akan tinggal di surabaya berniat untuk menemani sang ibu yang hidup seorang diri disana. Namun tidak mendapat izin dari sang ibu jika harus meninggalkan dan menjual rumah yang mereka bangun dan mereka desain dengan hasil keringat mereka sendiri apalagi baru beberapa saat di tempati. Jika memang yang menjadi alasan adalah dirinya, maka ia merasa masih kuat dan sehat. Masih bisa menjalani hidupnya dengan mengabdi pada pesantren. lain cerita kalau beliau sudah tak berdaya nanti maka akan ikut tinggal bersama anak dan menantunya.
Sesampainya dirumah ternyata semua orang sudah menyambut mereka. termasuk si kembar yang juga ikut bersama oma dan opanya beserta kevin juga putri.
" umi kenapa bi?" tanya fatimah menghampiri abi dan uminya yang nampak lemas duduk di shofa ruang keluarga bersama keluarga yang lain.
" umi lagi sakit sayang, jadi umi belum bisa menemani fatimah dan kakak main, !" jawab ustadz A'ab membelai lembut kepala sang anak memberi pengertian.
Fatimah kecil mengangguk kemudian berlari mengikuti sang kakak yang dari tadi sudah tak bisa diam dan berlarian sana sini. Ali bukan anak yang suka bermain dengan mainan dan betah duduk. Ia lebih suka berlari, loncat dan lebih sering memanjat apapun yang bahkan menurut pemikiran orang tak bisa di panjat.
" loe kelihatan lemes banget dek ? beda banget waktu dulu hamil si kembar !" celetuk kevin melihat sang adik hanya menyandarkan kepalanya di pundak sang suami tanpa berkata sepatah katapun. Padahal biasanya paling semangat membuatnya naik darah.
" ga semua kehamilan itu mempunyai gejala sama vin, nanti kalau istrimu hamil kamu juga bakal tahu !" ucap Ratih memberi pengertian anak laki-lakinya itu.
Mendengar ucapan ibu mertuanya tanpa sadar putri mengelus perutnya yang sampai saat ini masih belum berisi. Padahal Zahra yang menikah bersamaan dengannya sudah mengandung 7 bulan. Terbesit rasa sedih disana karena belum bisa memberikan keturunan untuk sang suami. Apalagi dirinya tinggal bersama sang mertua. Beruntung Ratih dan Handika tak pernah sedikitpun menyinggung soal itu. Begitu juga dengan kevin yang lebih menikmati masa pacaran halal mereka. Meskipun tak menampik kalau kevin juga menginginkannya mengingat selama ini ia begitu dekat dengan kedua keponakannya. Tapi ya sudahlah, toh hasil pemeriksaaan dirinya dan istri sama-sama normal. Mungkin hanya belum waktunya saja.
Kevin yang menyadari ekspresi sang istri segera mendekat dan menggenggam erat tangan putri. Memberinya kekuatan, meyakinkan bahwa semua hanya masalah waktu.
" aku buatin susu dulu ya ?" ujar ustadz A'ab pada sang istri yang tak ingin beranjak dari posisi ternyamannya.
" nanti ajalah, aku masih ingin seperti ini !" jawab laura bermanja dengan suara masih terdengar lemas.
" mentang-mentang hamil manjanya kebangetan!" cibir kevin namun tak ingin di hiraukan oleh laura karena kepalanya lebih berat daripada sekedar menanggapi cibiran tidak penting seperti itu.
Laura hanya mendengar setiap obrolan yang di bicarakan orang tua, suami dan saudaranya. Meski rasanya geli setiap kevin yang berbicara tapi apalah daya saat ini ia benar-benar sedang tidak mood untuk sekedar membalas apa yang di katakan kakak laki-lakinya itu. Saking nyamannya bersandar, mata laura kini sudah mulai terpejam sampai sebuah suara mengalihkan perhatiannya.
Brakkkk....
Huaaahuaaaa......
Si jagoan panjat pinang terguling saat menaiki kursi hendak naik ke meja makan. Siapa lagi kalau bukan si Ali yang sedari tadi manjat sana sini. Padahal dari tadi fatimah sudah memperingatkan sang kakak. Tapi ya itulah ali yang dalam sehari tak terhitung berapa kali ia akan atraksi.
Kevin segera menghampiri keponakan laki-lakinya itu dan membawanya duduk bersama para orang tua yang dari tadi justru tertawa melihat bocah kecil itu terjatuh.
" kakak ga mau dengerin fa mi, makanya jatuh !" adu fatimah duduk di samping sang umi yang hanya di sambut senyuman oleh laura.
" sakit kak ?" tanya ustadz A'ab mengambil anak laki-laki dari sang kakak ipar.
" Satit...!" jawab ali masih dengan tangis sesenggukan.
" kalau sakit boleh ga kak di ulangi lagi ?" tanya ustadz A'ab lagi membelai lembut kepala anak laki-lakinya itu.
" ndak boyeh...!" jawab ali menggelengkan kepalanya.
" itu kakak tahu jawabannya, !"
Ali mulai diam menyadari kesalahannya. Tapi bukan jagoan namanya kalau setelah sakitnya hilang akan diam saja. Meski baru saja menyesali perbuatannya karena jatuh namanya anak kecil dengan cepat Ali kembali berlari kesana kemari tanpa lelah. Membuat para orang tua menggeleng dengan tingkah menggemaskan bocah kecil itu.
" kakak emang bandel !" Gerutu fatimah kecil dengan bibir mengerucut membuat para orang tua semakin gemas dibuatnya.
Laura hanya tersenyum melihat tingkah kedua anaknya yang begitu jauh berbeda itu. Fatimah yang lebih kritis dalam segala hal. sedangkan Ali jagoan yang tak pernah lelah. Melengkapi rumah tangganya bersama suami tercinta.