Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Bukan salah siapa-siapa



" A..by....!" ucap laura lirih meski matanya hampir saja tak dapat di buka.


" kamu pasti kuat sayang, bertahanlah demi anak kita, demi aku !" ucap ustadz A'ab mengecup kening sang istri yang sudah sangat pucat.


Dalam hati tak hentinya ustadz A'ab berdo'a untuk keselamatan istri dan anak yang ada di dalam kandunganya. Dan saat ini mata laura sudah benar-benar terpejam. Hatinya semakin teriris, do'a dari mulutnya tak henti terucap. Karena hanya itu yang dapat di lakukan. memohon pada dzat yang Maha menghidup dan mematikan.


sesampainya dirumah sakit ustadz A'ab tak ingin membuang waktu ia segera berlari membawa istri nya ke IGD ditemani pengunjung toko yang dari tadi masih setia menemani dan membawa barang-barang ustadz A'ab yang dari tadi sudah tak di perhatikan karena hanya terfokus pada istrinya.


" ini barang-barang bapak !" ujar pria pengunjung toko itu menyerahkan semua barang milik laura dan ustadz A'ab yang tadi di tinggalkan.


"Terima kasih pak !" jawab ustadz A'ab mencoba tegar meski tidak sebenarnya begitu.


" sabar ya pak, saya pamit dulu semoga istri dan anak bapak baik-baik saja !" ujar orang itu lagi menepuk pundak ustadz A'ab.


" Aamiin, semoga Allah membalas kebaikan bapak !" ujar ustadz A'ab.


Sementara dokter tengah menangani laura di dalam ruang IGD ustadz A'ab segera mengabari semua keluarga tentang apa yang terjadi pada Laura. Terus merutuki dirinya sendiri yang tak bisa melindungi istri dan anaknya.


Tak lama keluarga laura segera tiba di rumah sakit bersama dengan bu khomsah. Melihat anaknya terduduk lemas di lantai dengan frustasi bu khomsah segera menghampirinya memberi kekuatan.


" ibu, aku tidak bisa menjaga istri dan anakku !" sesal ustadz A'ab dalam pelukan sang ibu.


" ibu tahu kamu merasa terpukul nak, tapi semua yang terjadi atas kehendak Allah, jika kamu terus menyalahkan dirimu sendiri sama saja dengan menyalahkan takdir Allah!" bu khomsah membelai lembut rambut anak semata wayangnya memberi ketenangan.


Handika dan Ratih memang sama terpuruknya, tapi sebagai orang tua mereka juga berusaha untuk menguatkan sang menantu yang saat ini tengah membutuhkan dukungan mereka. mereka tak lantas menyalahkan menantu yang sudah mereka anggap sebagai anak sendiri itu mengenai apa yang terjadi pada Laura. Karena mereka juga tahu tak mungkin jika sang menantu akan membiarkan anak kesayangan mereka celaka.


" Maaf pa, A'ab tidak bisa menjaga laura!" ustadz A'ab beralih memeluk ayah mertua yang dari tadi juga mencoba menguatkannya.


" Bukankah kamu yang mengajarkan papa tentang takdir Allah, kenapa sekarang jadi seperti ini ?" ujar Handika membalas pelukan sang menantu menguatkan.


Dokter paruh baya yang menangani laura akhirnya keluar dari ruangan. Dengan segera para keluarga yang menunggu bagaimana hasilnya segera menghampiri dokter paruh baya itu dan menanyakan bagaimana kondisi laura.


" Bagaimana kondisi istri saya dokter ?" tanya ustadz A'ab dengan segera.


" istri bapak kehilangan banyak darah kondisinya sangat lemah, kami harus segera melakukan operasi caesar untuk setidaknya menyelamatkan salah satunya, tapi kami akan tetap berusaha untuk menyelamatkan keduanya !" ucap dokter itu membuat ustadz A'ab semakin melemah.


" lakukan yang terbaik untuk anak saya dokter,!" Handika membuka suara melihat sang menantu seperti tak mampu lagi berucap mendengar perkataan dari dokter mengenai kondisi sang istri.


setelah mendapat persetujuan dari pihak keluarga, dokter segera melaksanakan tugasnya membedah perut laura. Sementara keluarga yang berada di luar tak hentinya mengucap do'a untuk keselamatan laura dan anak yang ada di dalam kandungannya.


" Allah akan semakin marah jika kamu melupakanNya, saat ini Allah sedang menguji seberapa kuat imanmu,!" ucap bu khomsah lagi berhasil menyadarkan ustadz A'ab tentang kelalaiannya.


Dengan segera ia beristighfar dan berpamitan kepada semua orang tua untuk pergi sholat. Hal wajib yang sampai ia lupakan karena saking paniknya dengan kondisi sang istri. Ia lupa bahwa istrinya bukanlah miliknya, tapi milik penciptanya.


Beberapa saat sekembalinya ustadz A'ab dari melaksanakan ibadah wajibnya dokter yang menangani laura kembali keluar. Dengan segera iapun mendekat dan meminta penjelasan dari dokter.


" Alhamdulillah, kedua anak bapak lahir dengan sehat dan tanpa kurang suatu apapun !" kata dokter itu dengan seulas senyuman.


" DUA ?" semua orang yang ada disana terkejut mendengar dokter menyebut angka Dua dalam jawabanya.


" benar, bayi laki-laki dan perempuan !" ucap dokter itu lagi masih mengembangkan senyumnya.


" Lalu bagaimana dengan istri saya dokter ?"


Dokter yang semula mengembangkan senyum manis tertunduk saat ustadz A'ab menanyakan bagaimana kondisi sang istri.


" kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi darah yang di keluarkan istri bapak terlalu banyak, kami tidak bisa melakukan hal lebih dari ini !" ucap dokter itu dengan lesu.


" Jadi,...


" istri bapak masih berjuang, berdo'a saja semoga masa kritisnya segera berlalu !" ujar dokter itu menepuk bahu ustadz A'ab kemudian berpamitan kepada seluruh keluarga yang ada disana untuk kembali ketempat melaksanakan tugas yang lain.


Tubuh ustadz A'ab kembali melemah saat mendengar bahwa sang istri tidak dalam kondisi baik-baik saja. Handika segera menangkap tubuh yang hampir terlunglai itu dengan sigap.


" Kamu tidak sendiri nak, kita disini sama sedihnya, Istighfar kamu harus kuat, ingat ada dua malaikat kecil yang juga masih membutuhkanmu!" ujar Handika memberi kekuatan pada sang menantu.


Ustadz A'ab bahkan tak menyadari kalau dokter mengatakan bahwa anaknya telah lahir dengan selamat karena pikirannya hanya tertuju pada kondisi sang istri. Setelah benar-benar tenang Handika meminta sang menantu menemui kedua anaknya untuk di adzankan. Sedih tentu sangat, tapi Handika juga merasa bahagia dengan kehadiran dua cucunya yang pasti akan menambah indah harinya. setidaknya luka itu tak terlalu dalam tertanam daripada ia harus kehilangan cucu dan anaknya sekaligus.


Ustadz A'ab mendekat kearah box yang berisi putra dan putrinya sekaligus dengan bimbingan perawat rumah sakit. Ditatapnya dengan lekang dua wajah mungil itu. Bahagia pasti, ia sudah menunggunya sejak lama. Namun air matanya kembali menetes melihat anak laki-lakinya yang setiap inci wajahnya begitu mirip dengan sang istri. sementara yang perempuan hampir mirip dengannya.


Diangkatnya satu persatu bayi dalam box itu dan mulai melafadzkan adzan dengan merdu di telinga kedua anak baru lahir itu. kedua anak itu begitu tenang mendengar adzan sang ayah. Dan saat keduanya kembali terlelap ustadz A'ab meletakkan kembali dua bayi itu kedalam boxnya. Berniat ingin melihat bagaimana kondisi sang istri. Karena jujur meski ia bersyukur kedua anaknya lahir dengan selamat, pikiranya masih tertuju pada ibu dari kedua anak itu.


Ustadz tetaplah manusia yang terkadang juga mempunyai khilaf sebagai manusia normal. Ia tahu tak seharusnya ia frustasi dan terus merutuki diri karena semua yang terjadi adalah kehendak Allah. Tapi sekali lagi ia hanyalah manusia biasa. Manusia biasa yang tak luput dari salah dan lupa.


*udah Aku kabulin tuch yang minta cowok cewek😅*