Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Rencana bulan madu



kedatangan Reno menemui sepasang pengantin baru bukan dengan tangan kosong. Mengingat sang keponakan sangat suka mengeksplor alam, Reno telah menyiapkan paket bulan madu untuk keponakan tercintanya. Di resort milik keluarga sang istri, yang terletak di tengah perkebunan bunga lili, bunga kesukaan laura. kebetulan satu lokal dengan vila miliknya yang sudah di desain untuk kedua pengantin baru itu.


"aku ga mau ach kalau di vilanya om, ntar di ganggu anaknya om gimana ? om reno kan tau usilnya anak om satu-satunya itu !" protes laura mendelik ke arah sang sepupu.


" negativ mulu lo ra kalau sama gue !" sahut Bobi tak terima.


" kamu tenang aja, kalau anaknya om ini macam-macam bakal om iket di pohon nangka !" ujar reno sekenanya membuat sang anak mendengus malas selalu saja sepupunya itu yang mendapat pembelaan dari sang papa.


" kamu ga suka bulan madu ke vilanya tante ? atau kamu mau kemana ? om reno siap kog berangkatin !" wina mulai bersuara setelah beberapa saat hanya terdiam mendengar ocehan ngalor ngidul para anggota keluarganya itu.


" kog jadi papa ? kan semua uang di mama ?" protes Reno.


" om niat ga sih ngasih hadiah bulan madu buat aku ?" Laura pura-pura merajuk dan disaat seperi inilah wajahnya benar-benar terlihat menggemaskan.


Andai saja mereka Hanya berdua pastilah sang suami yang dari tadi hanya mendengar ocehan sang istri sudah melahap habis istrinya. Hanya saja ia tak ingin mengumbar kemesraan di depan orang meskipun keluarga sendiri. Rasa gemas itu hanya di salurkan lewat elusan kepala dan sesekali mencubit hidung mungil sang istri tanpa ikut banyak berkata.


" ustadz mau ga bulan madu di vilanya om ?" kini reno beralih tanya pada sang menantu.


" A'ab saja om,....


" ach iya, kamu mau ga ab bulan madu di vilanya om ? kalau om tanya sama istri kamu sampai bulan depan juga ga akan jadi, orang dia banyak maunya....!" ujar Reno melirik kearah sang keponakan yang sudah bertanduk siap melayangkan srudukan.


Ustadz A'ab terkekeh sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari adik mertuanya itu.


" Dimanapun bagi A'ab sama saja om, di rumah juga masih bisa bulan madu, yang terpenting bukan tempatnya tapi bagaimana kita melakukannya sesuai dengan apa yang telah di ajarkan Rosulullah !" jawab ustadz A'ab.


" Mantu gue itu ren !" sahut Handika mengacungkan dua jempol kagum dengan jawaban sang menantu.


" aku mau dech mas, di carikan menantu yang kaya gini, laura yang petakilan bisa dapat suami sholeh kaya gini gimana asal mulanya !" Reno tak kalah kagum dengan sang kakak.


Pernyataan itu tentu membuat laura segera melayangkan tatapan mematikannya.


" bobi juga heran pa, kog mau si ustadz sama bocah ga ada diemnya kaya gitu !" imbuh bobi membuat rahang laura semakin mengeras karena kesal.


" om sama bobi bisa aja, Justru saya yang merasa beruntung memiliki istri berkepribadian seperti laura, terlihat kasar tapi sangat lembut hatinya, !" ujar ustadz A'ab membelai lembut kepala sang istri.


Seketika pipi laura memerah, hatinya menghangat dan dadanya berdegup sangat kencang mendengar ucapan sang suami. ia sadar ketidak sempurnaannya yang belum bisa mengontrol ucapannya untuk bersikap lembut. Tapi suaminya tak pernah serta merta menuntutnya untuk bersikap seperti yang ia inginkan. Bagi ustadz A'ab, laura tetaplah istri yang sempurna di matanya. karena bagaimanapun tak ada manusia yang sempurna kecuali Penciptanya.


Meskipun melalui drama kolosial yang panjang akhirnya laura menerima hadiah bulan madu dari Reno. Dan keluarga memutuskan keduanya harus berangkat hari itu juga. Tadinya laura menolak mengingat baru saja mereka tiba dari surabaya pagi tadi. Namun apalah daya, menolak para tetua itu hanya akan menambah pusing. sementara ustadz A'ab juga hanya menurut saja apa yang sudah di rencanakan oleh para tetua itu.


" Hub,...


" hemmm....


" maaf jika keluargaku membuatmu tak nyaman! " ujar laura begitu keduanya telah berada di dalam kamar yang hanya berdua.


" kamu ini kesambet apa sih? dari tadi ngomongnya aneh ? aku ini bukan orang lain sayang, aku ini suamimu, mulai di sahkanya pernikahan kita keluargamu sudah menjadi keluargaku juga, Jadi berhentilah berkata seperti aku ini orang lain !" ujar ustadz A'ab tulus menatap wajah sang istri.


" Astagfirullah hal adziiim, lihat aku !" memegang dagu mendongakkan wajah sang istri untuk menatap keseriusannya. " Bagiku kamu istri yang sempurna, tidak usah lagi berfikir yang aneh-aneh, om Reno itu hanya bercanda, kamu lebih tahu itu !"


Lagi-lagi laura hanya bisa berkata lewat air mata. Berbeda dengan sebelumnya, laura yang selalu acuh dan cuek bebek terhadap apapun. Semenjak menikah ia berubah menjadi gadis yang sensitif dan mudah tersentuh oleh suatu hal kecil sekalipun.


"cup,,...sudah ya, aku mencintaimu sejak hari itu, 8 tahun yang lalu sampai saat ini dan Insya Allah selamanya! " ustadz A'ab menutup perkataannya dengan memeluk tubuh mungil sang istri yang semakin tak dapat menahan tangisnya.


setelah mengemasi perlengkapan yang akan mereka bawa untuk satu minggu kedepan di tempat yang sudah di siapkan sang om dan tante, laura dan ustadz A'ab keluar menghampiri para tetua yang sudah siap mengantarkan sepasang pengantin baru itu untuk berbulan madu.


" sudah siap kan ?" tanya Handika pada anak dan menantunya.


" sudah kog pa, !" jawab ustadz A'ab.


" titip anak dan menantuku ya ren, awas kalau lecet !" pesan Handika pada sang adik memberi peringatan.


" kaya sama siapa aja,..!" Dengus reno memutar malas bola matanya.


" jangan lupa, pulangnya bawain cucu buat mama !" pesan Ratih dengan terkekeh.


" Insya Allah ma, !" lagi-lagi ustadz A'ab yang menjawab sementara laura masih betah diam tak ingin berucap apapun.


" anak cantik papa kenapa muka di tekuk gitu ? ga suka mau bulan madu ?" tanya Handika pada laura yang mendadak jadi pendiam.


" Laura suka kog pa, !" jawab laura dengan senyum terpaksa masih terfikirkan apa yang tadi menjadi guyonan om dan papanya.


" ya udah berangkat sekarang yuk, mumpung belum sore, !" ajak Reno yang di sambut hangat oleh sepasang pengantin baru itu.


Setelah berpamitan dengan Handika dan Ratih, Reno segera membawa sepasang pengantin baru itu menuju ketempat tujuan. Dan masih sama laura hanya terdiam tanpa kata di sepanjang perjalanan. Ustadz A'ab tahu betul kalau istrinya itu sedang tidak baik-baik saja. ia mencoba menggenggam tangan sang istri meyakinkan bahwa yang di rasakan itu tidaklah benar. Dan hanya ketakutan yang tak beralasan.


Mata laura terperanjat begitu sampai di tempat tujuan. wajah yang sedari tadi di tekuk seketika berubah jadi berseri melihat tatanan bunga lily yang indah di pekarangan resort itu. tanpa menunggu aba-aba laura berlari meninggalkan suami beserta om dan tantenya yang baru saja memarkir mobil dihalaman resort.


" Biar barang-barangmu di masukan pelayan, sana temui istrimu, om sama tante pamit dulu !" ujar reno pada ustadz A'ab.


" Makasih ya om, tante !"


" oh ya, katakan permintaan maaf om sama laura, om tau dia sedang marah sama om, titip ya...!" ujar reno lagi menepuk pundak menantu dari kakanya itu kemudian berlalu bersama sang istri.


Setelah Reno dan wina berlalu ustadz A'ab segera menemui sang istri seperti apa yang di katakan reno. Laura tampak begitu menikmati pemandangan hamparan bunga lili yang ada di hadapanya sampai tak menyadari kehadiran sang suami yang sudah berada disisinya. Setelah melihat keadaan aman ustadz A'ab memeluk sang istri yang tak juga mau bergeming itu dari belakang.


" huby, !" kaget laura menyadari kehadiran sang suami yang dengan tiba-tiba.


" om Reno tau kalau kamu marah, dia bilang minta maaf !" ujar ustadz A'ab di telinga sang istri dengan mata yang sudah terpejam ikut menikmati pemandangan sore itu.


Laura tersenyum dengan perlakuan manis sang suami. Bersama menikmati pemandangan sore yang indah. Serasa dunia hanya milik berdua.