Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Malam puncak



Malam itu selepas berjamaah sholat Isya semua orang telah standby pada posisinya masing-masing untuk memberikan kejutan pada laura. sedangkan fitri dan aisyah yang memang sudah di beri wewenang untuk membawa laura keluar kamar dengan mata tertutup siap melaksanakan tugasnya menggandeng laura menyusuri rumah besar itu hingga sampai di mana acara akan berlangsung.


" Udah nyampe belum sih, kayaknya jauh banget perasaan juga masih di rumah gue ini !" gerutu laura dengan mata yang masih tertutup rapat dengan kain polos hitam.


" wes, ora usah banyak omong, nurut wae !" celetuk fitri terus menggandeng laura hingga sampai di tempat tujuan.


semua orang tampak antusias menyambut kedatangan laura. Handika, Ratih, kedua saudara kembar dan tak lupa sang calon suami dan calon mertua laura berada di barisan paling depan untuk menjadi orang pertama yang laura lihat ketika matanya terbuka nanti.


" Happy birthday laura.....!" ujar semua orang saat aisyah berhasil membuka penutup mata laura.


Laura terdiam sesaat melihat saat ini rumah yang tadi waktu dia tiba masih terlihat biasa saja sudah terdesain dengan sangat indah. Di tambah lagi ia juga baru menyadari kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. seharian ini ia hampir di buat frustasi karena di kurung di kamar. Namun setelah melihat hasilnya laura merasa benar-benar bahagia.


" sini sayang !" panggil Handika pada putrinya yang masih terdiam di tempat.


" Papa, !" laura langsung berhambur memeluk sang papa merasa terharu dan bahagia dengan semua kejutan yang di berikan.


" semoga anak papa ini tambah sholihah, bahagia di dunia dan di akhiratnya !" doa Handika mengelus lembut kepala sang putri yang masih betah dalam pelukannya.


" Aamiin, makasih papa, !" laura tak kuasa menahan tangis harunya mendengar doa sang papa.


"Ehem...


Ratih yang merasa terabaikan mengeluarkan deheman.


" sama mama ga ?" ujar ratih dengan niat menggoda.


" makasih mam, laura kangen banget sama mama !" kini laura mengalihkan pelukannya kepada sang mama.


Bahagia yang tak dapat terlukiskan bagi laura. Tak dapat mengucapkan apapun kecuali rasa sukurnya pada Allah SWT yang sangat baik padanya. Menghadirkan orang-orang terkasih yang selalu menemani jalan hidupnya.


Selain acara tasyakuran bertambahnya usia laura, malam ini adalah pertunangan laura dengam ustadz A'ab yang sudah di rancang oleh Handika. Namun karena ustadz A'ab meminta untuk melamar laura terlebih dahulu sebelum acara pertunangan itu maka Handika memberikan waktu untuk ustadz A'ab melakukannya terlebih dahulu. Bagaimanapun meski sebelumnya sudah pernah terucap lamaran itu namun saat itu laura menolaknya. sehingga ustadz A'ab ingin mengulanginya, memastikan kesediaan laura untuk menjadi istrinya.


" Bismillahirrohmaanirrohim, Laura Sabrina binti Handika Surya putra maukah kamu menjadi pemyempurna separuh dari agamaku?" ustadz A'ab mengutarakan niatnya dengan lantang sedangkan laura justru terpaku dan membeku mendengar ucapan yang sebenarnya sangat di harapkan namun juga membuatnya tak dapat berkutik itu.


Entah berapa lama laura terdiam menetralisir detak jantungnya yang tak karuan. Hingga membuat seluruh kerabat dan sahabat yang ada disana merasa deg-degan menunggu jawaban dari gadis 23 tahun itu.


" kayaknya aku di tolak lagi buk, !" ujar ustadz A'ab pada sang ibu yang menemani disisinya membuat para undangan juga mendengus kecewa.


" Aaa..ustadz gimana sih, bukannya assukutu Alamaturridho ?" dengan segera laura menyauti omongan itu tak ingin orang yang melamarnya menjadi salah paham karena kediamannya.


Ustadz A'ab dan semua orang disana terkekeh mendengar ucapan yang di utarakan laura. padahal niat awal ustadz A'ab memang hanya bercanda. tapi dengan respon yang di luar dugaan justru membuatnya merasa gemas dan ingin terus menggoda gadis yang ada di hadapannya.


" kenapa mesti tanya lagi sih, tadi kan udah !" jawab laura dengan pipi yang sudah memerah karena malu.


" apa susahnya sih tinggal njawab !" balas ustadz A'ab.


" kebiasaan dua orang ini, ndak pernah tahu situasi dan kondisi kalau berdebat, udah mau nikah juga masih sama !" celetuk fitri di susul jempol aisyah yang membuat para tamu menggeleng karena ulah sepasang manusia yang memang benar kata fitri hanya membuang waktu padahal keduanya sudah tahu jawaban masing-masing.


" Bilang aja kalau udah laper fit, !" cibir laura yang hanya di acuhkan oleh fitri dan berjalan meninggalkan kedua orang yang memang hobi membakar suasana itu.


Setelah memperdebatkan banyak kata yang sebenarnya juga tak penting akhirnya laura mengalah dan menjawab lamaran itu dengan serius meskipun juga dengan aneh dan tak seromantis pasangan yang lain mungkin. Tapi itu cukup menjadi pembeda bahwa laura ya laura bukan yang lain. Dan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi ustadz A'ab dari seorang laura sabrina.


Setelah acara pertunangan usai dimana handika menyematkan cincin petunangan di jari calon menantu dan bu khomsah menyematkan cincin di tangan laura sebagai simbol ikatan keduanya, Para tamu undanganpun berpamitan untuk pulang. sedangkan para tamu yang dari surabaya telah disiapkan handika di paviliun samping rumahnya yang juga cukup besar dan nyaman untuk beristirahat.


Kedua Orang yang tengah kasmaran dan menahan rindu selama lebih dari 4 tahun sebelum akhirnya di satukan oleh ikatan pertunangan itu sepertinya masih butuh waktu untuk memberikan penjelasan satu sama lain. Keduanya kini sudab berada disisi kolam renang tak jauh dari tempat diadakannya acara pertunangan mereka. laura memposisikan duduk mengayun kakinya di dalam air. sementara ustadz A'ab duduk di atas kursi panjang tak jauh darinya.


" ra,...


" hemm,..


" masa sama calon suami cuma hem doang jawabnya ? " sergah ustadz A'ab tak terima dengan jawaban laura.


" mulai dech, inggih ustadz ada apa ?" laura memutar matanya malas tanpa menoleh karena sang ustadz mulai memancing perdebatan diantara keduanya.


" kakimu sudah sembuh ?" tanya ustadz A'ab kali ini serius.


" emmm, seperti yang ustadz lihat, aku sudah bisa berlari !" jawab laura sesekali menoleh kelawan bicara dan kembali menatap hamparan air di depannya.


" Alhamdulillah, jadi apakah kamu sudah merasa sempurna untuk menjadi istriku saat kamu sudah bisa berjalan seperti sedia kala ?"


Deg,


pertanyaan itu seolah menjadi tamparan bagi laura. mengingat perkataannya 5 tahun lalu saat ia mengatakan tak bisa jadi istri sempurna karena dirinya cacat pada saat itu. Bahkan saat ini ketika ia sudah bisa berjalan ia tetap bukanlah manusia sempurna karena memang tak ada manusia yang sempurna.


" Maafkan ke egoisanku ustadz !" sesal laura mengingat sikapnya yang keterlaluan 5 tahun lalu.


" Kamu tahu, bahwa selama menjadi manusia kita tidak akan pernah sempurna, dan bagiku hari dimana papa kamu membawamu kepesantren saat itu tidak akan merubah apapun dariku, sekalipun kaki dan tanganmu menghilang, aku akan berusaha menjadi kaki dan tangan itu, dan kamu mengartikan kesempurnaan itu hanya sebatas kamu bisa berjalan !" ucap ustadz A'ab panjang lebar membuat hati laura semakin tersentuh.


Laura sadar bahwa keputusannya menjauh memang salah. Tak memperbaiki apapun justru malah menyiksa dirinya selama itu. Andai saja ia tak pergi mungkin ia tak akan menahan rindu dan sakit selama itu.