
Laura masih berjuang di dalam ruang ICU dengan berbagai macam alat menempel di tubuhnya. Melihat itu Handika teringat laura kecil yang dulu juga pernah berjuang dengan bantuan alat-alat medis itu hingga sampai di titik ini. Handika yakin kalau kali ini laura juga akan mampu melewatinya.
" papa yakin kamu pasti bisa melewati semua ini nak !" ujar Handika mengelus rambut panjang anak kesayangannya yang terurai dengan indah.
Karena masih belum dipindah keruang perawatan laura tak boleh di kunjungi banyak orang. Hanya satu orang yang di perbolehlan menemani laura di ruang ICU ini. Jadi satu persatu keluarga bergilir masuk untuk memberikan semangat setelah itu membiarkan ustadz A'ab untuk menemani laura di dalam ruangan itu.
" Terima kasih sayang, terima kasih telah berjuang memberiku Fatimah dan Ali sekaligus, maafkan aku yang tak bisa menjagamu ini !" ucap ustadz A'ab mencium punggung tangan sang istri dengan air mata yang tak bisa terbendung disisi sang istri yang masih memperjuangkan hidupnya itu.
Sementara itu Handika telah memesan kamar VVIP untuk ruang rawat laura nanti karena Handika sudah optimis bahwa laura pastilah bisa melewati masa kritisnya. sementara ini kamar itu akan dihuni dua cucunya di temani sang istri dan besannya. Ia ingin cucunya lebih terurus jika bersama keluarganya. Handika juga sudah menyewa pengacara untuk mengurus Andra atas tindakannya mencelakai putri kesayangannya.
Berita kejadian yang menimpa laura dengan cepat menyebar keseluruh keluarga dan para sahabat laura. Kevan yang memang kontraknya di Amerika tinggal bulan ini memutuskan untuk mempercepat menyelesaikan laporannya agar bisa segera pulang ke Indonesia dan meminta surat tugas untuk Jadi dokter di tanah air. sementara kevin langsung meluncur ketanah air begitu mendapat kabar tentang adik kesayangannya.
Karena keadaan si kembar tak perlu ada yang di khawatirkan, kedua bayi itu langsung bisa di pindah keruang perawatan yang di pesan oleh Handika. Saat ini keduanya telah berada di gendongan sang nenek. Satu di gendongan Ratih yang bayi laki-laki, dan yang perempuan berada di gendongan bu khomsah. Air mata Ratih yang sejak tadi tertahan dan berusaha kuat akhirnya tumpah setelah melihat bayi mungil yang ada di gendongannya begitu mirip dengan sang ibu. Hati ratih merasa teriris melihat bayi kecil yang harusnya mendapat ASI pertama dari sang ibu itu harus minum susu pendukung karena ibunya tengah berjuang antara hidup dan mati.
" Kasian sekali kamu nak, do'akan umy semoga bisa berkumpul bersama kita lagi ya sayang !" ujar Ratih membelai lembut wajah mungil yang ada di gendongannya dengan air mata yang semakin menjadi.
" Laura pasti akan segera melewati semua ini ma, papa yakin karena anak kita adalah anak yang kuat !" Ujar Handika menguatkan sang istri.
" Allah sesuai prasangka Hambanya bu Ratih, kita harus yakin kalau laura mampu melewati semua ini !" imbuh bu khomsah menguatkan besannya.
Jika saat kecelakaan beberapa tahun lalu dokter bilang bahwa keadaan laura baik hanya kemungkinan sulit berjalan saja membuat laura tertidur selama itu. Bagaimana dengan saat ini yang bahkan untuk hidup pun dokter tidak berani memberi jaminan. Tapi pada kenyataanya hidup itu bukan dari jaminan dokter atau siapapun itu. Semua milik Allah dan pasti akan kembali padaNya. Hanya Allah yang berhak menentukan hidup dan mati seseorang. Jadi yang bisa di lakukan keluarga laura saat ini adalah meminta pada dzat yang Maha Memberi keselamatan pada laura.
Selepas melaksakan sholat dzuhur ustadz A'ab tak langsung kembali ke ruangan sang istri. Ia ingin melihat kedua anaknya terlebih dahulu yang saat ini tengah bersama ibu dan mertuanya. Bagaimanapun kedua bayi itu juga membutuhkannya terlepas dari sang istri yang tengah memperjuangkan hidupnya.
" Assalamualaikum!"
" wa'alaikumussalam!"
" Bagaimana istri kamu nak ?" tanya Ratih segera melihat kedatangan sang menantu namun hanya di jawab gelengan dengan senyum di paksakan.
" Laura akan segera melewatinya ab, pasti !" ujar Handika merangkul bahu sang menantu.
" Aamiin, !"
Ustadz A'ab melangkah menuju box dimana kedua bayinya berada. Menatap satu persatu wajah mungil itu dengan senyuman.
" ngomong-ngomong siapa nama cah bagus dan cah ayu ini ab ?" tanya Bu khomsah mendekat kearah sang putra.
" sesuai dengan keinginan umy nya bu, yang cantik ini Fatimah Az Zahra, dan yang fotocopy uminya ini Ali Bin Abdirrahman !" jawab ustadz A'ab masih tak ingin beranjak dari tatapannya kepada kedua buah hatinya.
" semoga Akhlakmu seindah Fatimah dan Ali nak !" ujar bu khomsah membelai lembut pipi kedua cucunya.
Kisah Ali dan Fatimah selalu menarik bagi laura. Meski di ulang berapa kali pun tak pernah bosan ia mendengarnya. Sampai ia menginginkan anaknya akan seperti Ali dan Fatimah.
Mereka membutuhkanmu ra, Ali dan Fatimah menunggumu, lihatlah betapa lucunya kedua malaikat kecil kita ini, batin ustadz A'ab.
setelah puas melihat kedua anaknya ustadz A'ab berpamitan untuk kembali keruang ICU menemani sang istri dan menitipkan kedua anaknya pada ibu dan mertuanya.
Sementara kevin yang baru tiba di tanah air segera menuju ke rumah sakit tanpa pulang kerumah. Bagi kevin meski sering adu mulut, laura tetap adik kesayangan dan juga separuh dari nyawanya. Apalagi keduanya memang memiliki karakter yang hampir sama.
" Bagaimana kondisi laura pa ?" tanya kevin begitu sampai dirumah sakit.
" Adikmu masih kritis vin, Laura kehilangan banyak darah saat terjatuh kemarin !" jawab Handika memhuat tubuh kevin melemah seketika mendengar jawaban sang papa.
" anaknya pa ?" tanya kevin lagi dengan air mata yang sudah berurai di pipi tirusnya.
" kedua ponakanmu selamat, mereka sangat kuat !" jawab Handika.
" kevin pasti akan memberi pelajaran orang yang sudah mencelakakan laura pa, !" ucap kevin dengan amarah membara dan tangan mengepal.
" kamu mau ngapain ? papa sudah menyerahkannya ke polisi, biar pihak berwenang yang menanganinya !" ujar Handika mencoba meredam amarah anak laki-lakinya itu.
" enak sekali dia hanya di penjara, sementara adikku meregang nyawa!" ucap kevin sinis.
" Astaghfirullah hal 'adziim, Istighfar vin, itu hukum negara, selebihnya biar Allah yang membalas, kita tidak berhak melakukan itu !" ucap Handika lagi.
Kevin benar-benar kecewa saat mengetahui bahwa yang melakukan semua ini adalah Andra. Pria yang sudah di kenalnya dengan baik dan di percaya untuk menjaga laura sejak laura masih duduk di bangki SMP. Kevin tak percaya Andra akan segelap mata itu karena cinta. Terlebih sampai tega membuat orang yang di cintanya celaka.