Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Malam pertunangan



Meski belum pernah melihat gadis yang bernama putri. Malam ini Handika dan Ratih mengantar anak laki-lakinya untuk melamar gadis yang sudah menjadi pilihannya. Gadis yang mampu menaklukan hati seorang kevin.


Kevan yang dari pagi sudah uring-uringan karena kevin minta menikah barenganpun ikut mengantar saudara kembarnya itu. Ia penasaran bagaimana wanita yang sudah menjadikan kevin segila itu sampai minta di nikahkan dengan mendadak.


Sebenarnya laura juga ingin sekali turut ikut mengantar kakak laki-lakinya itu. Ia juga penasaran sama wanita yang sudah berhasil mengambil hati kakak laki-lakinya yang pecicilan itu. Tapi apalah daya, luka bekas operasinya belum sembuh betul. Ditambah dua kurcaci kecil yang tak mungkin ia tinggalkan. Meski begitu laura sudah berpesan kepada kevan untuk mengambil dokumentasi acara lamaran sang kakak. Mengingat suaminya juga tak ikut karena menemaninya dirumah bersama kedua buah hati mereka.


" mau ngapain loe kak ? udah rapi bukannya berangkat malah nyasar kesini !" Tanya laura melihat kakaknya yang sudah rapi dengan Jaz hitam berdasi itu justru masuk kedalam kamarnya.


" gue mau pamitan sama ponakan gue dulu dek, mau minta do'a restu !" jawab kevin melenggang begitu saja menghampiri 2 bocah mungil yang telah tertidur lelap di box masing-masing.


" Ngapain minta do'a restu sama bocah belum ngerti ?" heran laura yang hanya di acuhkan oleh sang kakak dan lebih memilih berceloteh dengan kedua bayi tidur menggemaskan itu.


setelah puas berbicara ngalor ngidul dengan kedua bocah yang bahkan takkan mendengar omongannya itu kevin berpamitan dengan adik serta adik iparnya. Tak lupa minta do'a restu agar di beri kelancaran dalam acaranya nanti.


Sementara di ruang tamu semua telah siap menunggu kevin. Tapi laki-laki itu tak juga keluar dari kamar keponakan kembarnya membuat kevan semakin geram. sudah memaksa lamaran dan nikah mendadak malah dia sesantai itu batin kevan.


" ayo vin, keburu kemaleman !" teriak kevan kesal.


Tak ada kegugupan, tak juga nampak rasa bersalah diwajah anak lelaki yang satu itu telah membuat orang tua dan saudaranya menunggu. Dia justru keluar dari kamar si kembar dengan santainya tersenyum kepada Semua orang yang sudah siap mengeluarkan tanduk ingin menyeruduknya. Tapi percuma meladeni kevin hanya akan memperlambat urusan mereka.


" lets go ma, pa !" ucap kevin melenggang melewati orang tua dan saudara kembarnya dengan senyum tanpa dosa. Kalau saja bukan untuk urusan penting pastilah Handika dan Ratih sudah akan menghentikan langkah anak laki-lakinya itu dan menjewer dua kupingnya sampai puas. Bisa-bisanya disaat seperti ini masih bisa bersikap santai kaya di pantai sementara emosi kedua orang tuanya sudah naik 8 oktaf.


Keluarga putri sempat kaget saat kevin mengatakan malam itu juga akan membawa orang tuanya kerumah. pasalnya baru saja semalam kevin bertemu dengan keluarga mereka, tiba-tiba secepat itu pula kevin membawa kedua orang tuanya. Apalagi kevin juga mengatakan bahwa akan menikahi putri 3 minggu lagi bersmaan dengan saudara kembarnya kevan. Tapi karena putri tidak menolak, Ayahnya pun juga tak bisa menolak. Meski ia seorang single parent tapi banyak kerabat yang bisa membantu mempersiapkan pernikahan mereka yang mendadak itu.


Karena serba mendadak lamaran sekaligus pertunangan ini di lakukan sesederhana mungkin dan seadanya. kebahagiaan bukan ternilai dari seberapa mewah acaranya tapi bagaimana kita memaknainya. Lagi pula putri memang menginginkan acara yang sederhana seperti saat ini dari pada acara besar yang menghamburkan banyak uang.


Handika dan Ratih terpesona pada pandangan pertama saat melihat calon menantu pilihan anaknya menuruni tangga bersama Alya adiknya. Selama ini mereka beranggapan kalau selera anaknya yang satu itu adalah wanita sexi dan bar-bar sepertinya. Tapi ternyata mereka salah, wanita pilihan kevin benar-benar seperti bidadari yang turun dari kahyangan. Terlihat dari caranya berjalan saja sudah begitu anggun dan lemah lembut.


" ga salah memang anak kita langsung ngebet pengen kawin ma !" ucap Handika takjub pada calon menantunya yang baru saja tiba diruangan yang sama dengannya itu.


"iya pa, kalau kaya gini mama juga mau jadiin mantu !" sahut ratih membuat pipi putri semakin memerah mendengar pujian dari calon mertuanya itu.


Sementara kevan hanya mendengus mendengar kedua orang tuanya yang terlalu berlebihan memuji calon adiknya itu. menurutnya tetaplah zahra yang paling cantik. so pasti karena zahra adalah pertama dan satu-satunya wanita yang ia cintai selama hidupnya.


" papa dengar nak putri ini juga dulu nyantri di surabaya juga ya ? sama dengan menantu dan anak perempuan papa ?" tanya Handika berusaha akrab dengan calon menantunya itu.


" hmmm, papa ? ach, iya om saya alumni, tapi saya sudah tidak kenal sama istrinya ustadz A'ab karena saya sudah keluar pesantren waktu itu !" jawab putri gugup apalagi saat handika memanggilkan dirinya dengan sebutan papa.


" tidak usah segugup itu, rileks saja, mulai sekarang kamu harus belajar memanggil om ini papa, karena 3 minggu lagi kamu akan jadi anaknya papa juga !" ujar Handika.


" i..iya pa,..!" meski ragu kata itu akhirnya lolos dari mulut putri membuat handika dan Ratih tersenyum lega.


Jangan ditanya bagaimana ekspresi kevin saat ini. dia hanya cengengesan sambil terus memandangi calon istrinya itu tanpa bosan. Membuat putri merasa malu juga risi dengan tatapan itu. Sementara yang lain hanya menggeleng melihat anak muda yang sedang kasmaran itu.


Dibalik kebahagiaan kevin yang telah berhasil mengikat wanita pilihannya dalam ikatan pertunangan. Ada sepasang insan yang tak kalah bahagia menghabiskan malam dingin mereka dalam kesyahduan saat kedua kurcacinya tengah terlelap dengan tenang.


" by, aku mau nanya ?" ucap laura akhirnya setelah dari tadi hanya saling diam dalam kehangatan pelukan sang masing-masing.


" jangan nanya yang tidak-tidak, aku ndak mau jawab !" ujar ustadz A'ab memperingati. mengingat kembali pertanyaan malam sebelum laura celaka karena Andra.


" aku serius ini, aku baru inget !" ucap laura serius.


"baiklah, katakan!"


" Aby pernah ngirim pesan ke aku waktu aku masih nyantri ? gimana ceritanya ?" tanya laura yang memang selama ini masih begitu penasaran dengan hal itu namun baru mengingatnya kembali sekarang.


" itu kan sudah lama banget my, kenapa baru sekarang tanyanya ?" protes ustadz A'ab yang sebenarnya dia sendiri juga tak tahu kenapa waktu itu bisa senekat itu mengirim pesan ke laura.


" tiap mau nanya lupa aku, ayolah aku sangat penasaran, sejak saat itu sampai sekarang, memangnya kamu mau lihat aku mati penasaran !" ucap laura yang langsung di bungkam kecupan singkat oleh sang suami. setiap kali laura berbicara tentang ajal di depannya, rasanya trauma malam itu masih terngiang di kepalanya.


" aku sendiri juga ndak tahu, waktu itu aku minta nomormu dari neng ais, dan entahlah tiba-tiba saja aku mengirim pesan itu, dan setelah itu aku jadi kepikiran takut dosa, makanya ndak pernah bales lagi !" terang ustadz A'ab akhirnya tak tega melihat wajah memelas sang istri.


Mengingat kejadian itu rasanya ustadz A'ab sangat malu untuk mengakuinya. Tapi bagaimanapun ia juga manusia. Jiwa mudanya berbicara saat itu. untunglah Allah segera menyadarkannya hingga ia tak terlalu larut dalam buaian dunia.