
Semenjak hamil putri lebih sering main kerumah laura hanya untuk sekedar sharing dan berbagi masalah kehamilan mereka yang berusia hampir sama dan bermain dengan si kembar untuk mengusir kebosanannya.
Di kehamilannya yang sekarang laura lebih bisa mengontrol emosi meski kondisinya tak sekuat saat hamil si kembar. Meski telah menginjak trimester kedua laura masih kesulitan untuk memasukan makanan kedalam mulutnya. Membuat kondisinya juga lemas karena tak dapat mengkonsumsi apapun kecuali susu hamil dan air putih. Beruntung karena Fatimah kecil bisa mengerti dan menggantikan posisinya untuk mengawasi sang kakak yang aktifnya kebangetan.
Karena ini kehamilan pertama bagi putri ia juga begitu menikmati. Berbeda dengan laura, putri lebih menginginkan semua makanan untuk masuk kedalam perutnya. ia juga mempunyai rasa sensitif yang tinggi terhadap apapun. Membuat kevin terkadang kualahan untuk menuruti keingingan sang istri. Tapi apa daya itu juga hasil perbuatannya mau tidak mau dia juga harus bertanggung jawab untuk menuruti semua keinginan sang istri.
" loe dulu waktu hamil si kembar emang nyebelin dek, tapi kayaknya si putri lebih ngeselin dech !" celetuk kevin yang baru saja tiba menghampiri dua wanita tersayangnya yang tengah asik mengobrol diruang tengah.
" Oh jadi aku nyebelin ??? ok fine, malam ini aku nginep sini, !" Ancam putri dengan tatapan mematikan membuat kevin bergidik dan menciut. ucapan yang menurutnya hanya guyonan itu ternyata membangunkan macan betina yang sudah tertidur pulas.
" loh, ko gitu sayang, aku ga bermaksud..., ach..dek !" dengan frustasi kevin melirik sang adik yang tengah bersandar lemas di tangan sofa memohon bantuan. Karena setengil apapun kevin akan kalah saat sang istri sudah menampakkan tatapan tajam yang mematikan itu.
" makanya mulut jangan kaya panci rombeng !" cibir laura santai acuh dengan ekspresi memelas sang kakak.
" Sudah pulang sana, ga usah ikutin aku !" ucap putri semakin ketus.
" lah ??? cobaan macam apa lagi ini ya Allah !" kevin sudah mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
Membuat laura semakin tak kuasa menahan tawa yang sedari tadi sudah berusaha di tahan melihat ekspresi kakak laki-lakinya yang ternistakan itu. Nikmat mana lagi yang kau dustakan selain bisa melihat kevin terkalahkan oleh seorang macan betina.
" dek....
" hahahaha,, bodo ach, urusin sendiri tuch macan betinanya, laki gue udah pulang !" ucap laura melenggang begitu saja meninggalkan peperangan sengit antar buaya dan macan betina menghampiri sang suami yang baru saja pulang dari bekerja.
Seperti biasa laura menyambut dengan senyum hangat dan mencium tangan sang suami yang di balas dengan kecupan mesra saling menyalurkan kerinduan masing-masing setelah seharian tak menghabiskan waktu bersama.
" gimana kondisi kamu hari ini sayang? apa sudah bisa makan ?" tanya ustadz A'ab merangkul sang istri berjalan masuk kedalam rumah yang hanya di jawab gelengan oleh laura.
Terus berjalan masuk sampai menemukan sebuah drama kolosial antara pangeran yang berjuang meruntuhkan gunung es di kutub utara. Ustadz A'ab melirik kearah sang istri meminta penjelasan akan pemandangan itu. Namun hanya dijawab dengan mengangkat bahu acuh oleh laura dan mengajak sang suami untuk masuk kedalam menghampiri kedua buah hati mereka yang tengah bermain di halaman belakang rumah.
" Astaghfirullah hal 'adziim umi, kenapa itu ali di biarkan ?" ustadz mengusap dada tak percaya melihat bocah dua tahun itu sudah bisa nangkring di atas pohon mangga belakang rumahnya. Memang tak terlalu tinggi tapi untuk bocah dua tahun? benar-benar ustadz A'ab tak habis pikir.
" emang setiap hari kan nangkring disana bi si Ali, no si adik piknik di bawahnya !" ucap laura menunjuk anak perempuannya yang duduk di kasur busa yang sengaja di pasang laura untuk berjaga.
" Hmmm, anaknya siapa sih itu !" ustadz A'ab menggeleng kemudian berjalan menemani anak perempuannya yang asyik membolak balik buku cerita menunggu sampai sang kakak bosan dan turun dari bestcamp ternyamannya.
Fatimah memang suka sekali dengan buku cerita meskipun ia belum bisa membaca. Hanya untuk sekedar melihat lihat gambar di dalamnya. Fatimah juga seperti laura yang hampir tak bisa tidur tanpa cerita dari abinya. Berbeda dengan Ali yang lebih suka mendengar musik sebelum tidur. Tapi tidak sembarang musik, karena sejak kecil Laura dan ustadz A'ab sudah membiasakan mendengarkan lantunan shalawat dan Al Qur'an di telinga buah hatinya.
" bi, !" panggil fatimah.
" Apa fa bisa menjadi anak sholeha seperti putri rasulullah yang di ceritakan aby ?" tanya fatimah dengan polos.
" Aby sama umi, ngasih nama Fatimah Az Zahra sebagai do'a abi dan umi agar fa bisa menjadi sholeha seperti fatimah putri rasulullah, !" jawab ustadz A'ab membelai lembut rambut lurus sang putri.
" terus kak Ali? apa dulu ali bin abitholib juga senakal kakak ?" tanya fatimah lagi.
Ustadz A'ab tersenyum, baru menginjak 2 tahun saja sudah sekritis itu omongan fatimah. bagaimana dengan tahun-tahun berikutnya. Belum lagi saat ia bertumbuh dewasa nanti. Semoga saja ia dan istri tetap bisa mengarahkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang patuh terhadap agama.
" nak, nama kalian itu Do'a aby dan umi, bukan berarti kalau nama kakak sama dengan sahabat Ali terus sifatnya ali juga sama seperti kakak, tapi abi harap suatu saat nanti kakak punya sifat seperti Ali !" jawab ustadz A'ab lagi yang hanya di jawab dengan manggut-manggut oleh fatimah dan kembali fokus pada buku ceritanya.
Sementara laura hanya tersenyum melihat pembicaraan suami dan anaknya itu. sebelum sebuah tetesan air hangat dari pohon mengusik kenyamanan ketiganya.
" kakak...!" teriak fatimah mendongak keatas dimana kakaknya berada.
" Astaghfirullah hal 'adziim!" ustadz A'ab dan laura menggeleng menghembuskan nafas kasar.
Saking asiknya Ali berada di atas pohon sampai tak terasa kalau cairan hangatnya menghangatkan ketiga orang tersayangnya yang tengah piknik di bawah pohon. Benar-benar menggemaskan bukan Anak satu itu ?
ustadz A'ab segera mengambilnya dari atas pohon dan lebih dulu mendudukkan bocah dua tahun itu di depannya sebelum membersihkan tubuhnya.
" Kak, tempatnya kalau mau pipis itu dimana ?" tanya ustadz A'ab.
" tamal mandi !" jawab Ali menunduk karena telah menyadari kesalahannya.
" terus kakak pipis dimana ?" tanya ustadz A'ab lagi.
tanpa menjawab ali hanya menunduk dan menunjuk ke atas pohon yang tadi dari tadi menjadi bestcampnya.
" lihat, aby, umi, adek, buku-bukunya adek basah semua karena kakak, !" ucap ustadz A'ab menunjuk satu persatu apa yang di sebutkan.
" maaf !" ucap Ali kecil yang saat ini sudah sesenggukan menyadari kesalahannya.
" Aby ga marah kak, tapi kakak harus tahu kalau ada orang yang lebih tua di bawah maka kakak harus turun, kalau kakak pengen pipis jangan di tahan, tapi langsung bilang sama aby dan umi !" mungkin tidak semua bisa di bicarakan ustadz A'ab dapat dimengerti bocah dua tahun itu. Tapi sebisa mungkin ia menanamkan adab dan sopan santun itu sejak dini kepada anak-anaknya.
Terlepas dari kedua sifat kedua anaknya yang jauh berbeda, ustadz A'ab maupun laura tetap berusaha dengan seadil-adilnya memperlakukan keduanya. Tidak ingin terlalu di anggap lebih menyayangi fatimah yang lebih penurut daripada Ali yang super aktif. justru bisa dibilang perhatian keduanya lebih terfokus ke Ali karena memang anak itu masih membutuhkan bimbingan. Sementara fatimah lebih mandiri dengan sendirinya.