
Ustadz A'ab pulang dengan baju yang sudah penuh dengan darah. Bu khomsah yang melihat kondisi itu berubah menjadi khawatir akan keadaan sang putra.
" Assalamualaikum...
" wa'alaikumussalam...., ini kenapa bajumu berdarah semua seperti ini nak ?" tanya ibu khawatir.
" ibuk....!" tanpa menjawab pertanyaan sang ibu ustadz A'ab memeluk wanita tercintanya itu dengan sesenggukan.
" kamu kenapa nak ? apa yang terjadi ?" bu khomsah semakin panik.
" bu,...
" iya nak, ceritalah !"
" orang yang A'ab cintai saat ini sedang sakit buk, tadi pagi tertabrak mobil dan Aku menyaksikannya sendiri, !"
Air mata itu benar-benar sudah tak bisa di sembunyikan lagi. Bahkan meski dia di anggap ustadz cengeng sekalipun rasanya sudah tak peduli.
" Inna lillahi wa inna ilaihi roji'uun, lalu bagaimana kondisinya nak ?" tanya ibu khawatir.
" Aku pulang sebelum dokter yang menanganinya keluar ruangan !" jawab ustadz A'ab lesu.
" Baiklah, segera bebersih dan sholat, nanti kita kesana lagi !" perintah bu khomsah.
" kita ??"
" iya, ibuk juga ingin melihat bagaimana kondisi calon mantu ibuk !" jawab bu khomsah.
" Bahkan aku belum mengungkapkan perasaanku, ibu sudah bilang calon mantu !"
ustadz A'ab beranjak pergi setelah merasa lebih lega telah meluapkan tangis yang sudah di tahannya dari tadi. Sempat tersenyum kecil saat sang ibu mengatakan calon mantu. Tapi tak berlangsung lama, bahkan ia belum tahu bagaimana kondisi laura saat ini.
Setelah bebersih diri, sholat dan mengadukan perasaanya pada sang pencipta ustadz A'ab nampak sudah rapi dengan ransel hitam di punggungnya membuat sang ibu mengrenyitkan kening heran.
" ada pengajian dimana lagi le, bukane tadi mau ajak ibuk jenguk calon mantu ibuk ?" tanya bu khomsah.
" siapa yang mau ngisi pengajian buk, ini A'ab juga mau ke rumah sakit !" jawab ustadz A'ab.
" lah itu ngapain bawa ransel ?"
" baju ganti, !"
" kamu mau nginep ?" tanya ibu dan di jawab satu anggukan." le, inget lo belum makhrom, disana ada keluarganya toh ?" lanjut bu khomsah dan lagi-lagi cukup di jawab satu anggukan saja.
Astaghfirullah hal 'Adziiim, ibu benar hampir saja aku lupa dengan batasanku sebagai seorang muslim dalam bergaul dengan muslimah, Ampuni hamba ya Allah....
Ustadz A'ab memutar kembali langkahnya dan berjalan menuju kamar.
" mau ngapain lagi le, sudah sore ini ?"
" Mbalikne tas bu'!" jawab ustadz A'ab sedikit berteriak.
sang ibu hanya menggeleng melihat tingkah anak semata wayang yang sedang jatuh cinta itu. Tak lama ustadz A'ab kembali, ibu dan anak itu bergegas menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan di dalam hatinya ustadz A'ab tak henti menyebut nama laura dalam do'anya. Berharap pujaan hatinya itu akan baik-baik saja. Sang ibu yang duduk di samping sang putra menguatkan dengan genggaman tangan. setidaknya ia menguatkan sang putra bahwa dalam masalah ini ia tak sendiri.
" Hati ku berdebar buk, aku takut bertemu keluarganya !" ujar ustadz A'ab saat turun dari mobilnya.
" Bismillah, koyo ora ndue gusti Allah wae ( kaya ngga punya Allah aja )!" celetuk sang ibu membuatnya mendengus meskipun perkataan itu benar.
Dengan hati berdebar ustadz A'ab dan sang ibu berjalan memasuki rumah sakit. Terlebih dahulu ustadz A'ab menuju ke pusat informasi untuk menanyakan dimana laura dirawat. Setelah mendapat petunjuk ibu dan anak itu kembali melanjutkan perjalanan.
" Bismillahirrohmaanirrohim....!" ucap ustadz A'ab saat sampai di depan pintu kamar rawat laura.
" wes, ayo !" gemas sang ibu.
" ndredeg buk,...!"
" Assalamualaikum! " salam bu khomsah.
" wa'alaikumussalam,..!" penghuni kamar.
Handika terkejut ketika orang yang baru di bicarakan tiba-tiba saja muncul di dalam ruangan sang anak. Sempat bimbang haruskah di bicarakan apa yang di utarakan sang istri tapi kondisinya saat ini pria itu sedang tak sendirian.
" pak, bu, bagaimana kondisi laura ?" Tanya ustadz A'ab gugup.
" Alhamdulillah, terima kasih sudah membawa anak kami kesini dengan cepat, sehingga kami masih di beri kesempatan untuk kembali berkumpul dengannya !" jawab Ratih dengan seulas senyuman.
"Alhamdulillah, tapi itu atas izin Allah bu !" ujar ustadz A'ab yang masih canggung.
Melirik kearah gadis cantik yang masih terbaring dengan mata tertutup dengan rambut tergerai indah yang baru pertama kalinya dilihat membuat hatinya berdebar amat kencang.
Astagfirullah hal adziiim, ampuni dosa mataku ya Allah, aku tidak sengaja melihatnya....
" Pak, buk, mohon maaf apakah tidak sebaiknya rambut indah itu di sembunyikan agar tidak sembarang orang yang bukan makhromnya bisa melihat !" ustadz A'ab memberanikan diri untuk berucap.
salah ndak ya aku ngomong gitu ?
Ratih dan Handika saling menatap mendapatkan perkataan itu dari ustadz A'ab. Dalam hati merasa bangga ada orang yang sedemikian perhatian dengan sang anak.
" adakah jilbabnya bu? biar saya yang pakaikan !" kini bu khomsah membuka suara.
" oh iya, sebentar...
Ratih segera mencarikan jilbab untuk menutup aurat sang putri. Dalam hati tersenyum sang anak mendapat perlakuan yang istimewa menurutnya itu.
"ini bu,..
Bu khomsah meraih jilbab instan yang di berikan Ratih dan segera memakaikannya di kepala laura yang masih anteng dalam tidurnya.
" Nah, sudah cantik !" ujar bu khomsah setelah jilbabnya terpasang rapi di kepala laura.
" Terima kasih bu, ngomong-ngomong ibu ini siapa ?" Ratih bertanya dengan lembut.
" saya juru masak keluarga pesantren, dan ibu dari anak itu !" jawab bu khomsah menunjuk sang anak yang sedari tadi menunduk menetralisir detak jantungnya.
" oalah, ibu beruntung sekali punya anak luar biasa seperti itu !" puji ratih melirik ke arah ustadz A'ab.
"Alhamdulillah bu, dia anak yang sangat baik dan tidak pernah menyakiti hati saya !" ujar bu khomsah.
Kedua wanita yang baru saja bertemu itu menjadi akrab dan saling bercerita satu sama lain. Bu khomsah terus mengeluarkan kata-kata yang bisa menyemangati Ratih. sementara ustadz A'ab yang duduk bersama Handika di shofa panjang merasa sangat canggung. padahal sebelumnya saat bertemu di pesantren ustadz A'ab tak segugup ini.
" apa kata dokter mengenai kondisi laura pak ?" ustadz A'ab membuka suara meskipun canggung.
" laura akan kesulitan berjalan normal setelah bangun nanti !" jawab Handika dengan wajah sedih.
Inna lillahi wa inna ilaihi roji'uun, semoga Allah memberikanmu kekuatan ra,...
Ustadz A'ab terdiam mendengar jawaban Handika. Dalam hati merasa sakit menerima kenyataan ini.
" ustadz , !" panggil Handika pada sang ustadz yang terdiam di hadapanya.
" panggil nama saja pak, disini posisi saya bukan seorang ustadz! "
" Baiklah, langsung saja bagaimana perasaanmu kepada putri saya ?" tanya Handika to the poin.
" maksud bapak ?" Ustadz A'ab kaget dengan pertanyaan Handika yang tiba-tiba.
" iya, bagaimana jika anak saya setelah ini tidak bisa berjalan bagaimana perasaanmu ?"
" Bismillah, kalau memang saya harus jujur, saya tertarik pada anak bapak tak memandang pada fisiknya, sejak bapak memasrahkan anak bapak pada abah sore itu, jadi apapun kondisinya nanti, tidak akan menyurutkan niat saya,!" jawab ustadz A'ab mantap.
Handika tersenyum dengan jawaban orang yang ada di hadapannya. Setidaknya dia tahu bahwa cinta sang anak tidak bertepuk sebelah tangan. Dan ada harapan untuk memancing kondisi sang anak.