
Setelah melewati banyak berdebatan akhirnya laura hanya bisa pasrah menjalani hukuman dari perbuatan yang bahkan tak pernah dia lakukan itu. Sesuai dengan konsekuensi yang berlaku ketika ada yang berhubungan baik lewat surat menyurat ataupun berbicara secara langsung dengan lawan jenis maka kedua orang itu di Ta'zir (hukum) berdiri di depan asrama putra untuk laura dan sebaliknya reza berdiri di depan asrama putri.
Hukuman itu bukan hal yang berat bagi seorang laura, karena di sekolah lama dia sudah biasa menerimanya. Meskipun itu juga tak pernah berlangsung lama karena setiap terkena hukuman tubuhnya yang lemah itu selalu terkulai ke lantai. ya sudahlah, itu urusan belakang. yang terpenting laura melaksanakan ta'ziran ini agar tak memperpanjang masalah dengan orang-orang yang sudah menyidangnya.
"Terserah kalian ajalah, biar kalian puas !" gerutu laura yang saat ini telah menjalani hukumannya berdiri di depan asrama putra.
Pesona laura yang memang tak diragukan lagi membuat para santri putra tak ingin melewatkan saat seperi ini. Bisa memandang puas wajah cantik laura yang saat ini tengah berdiri di depan asrama mereka. Sedangkan fitri yang baru saja menyelesaikan kelas diniyah nya segera melihat keadaan laura setelah mendengar kabar bahwa laura di pampang di depan asrama putra. Dia memang tak bisa masuk kesana karena ada batasan santri putri yang tak boleh di lewatinya. Tapi setidaknya fitri bisa melihat dari gerbang. Fitri sangat mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu, mengingat kondisi laura yang memang sangat rentan. tapi dia juga tak bisa melakukan apapun.
" ya Allah ra..ra,..aku yakin awakmu di fitnah !" gumam fitri khawatir.
Dan benar saja selang beberapa saat kedatangan fitri, tubuh laura ambruk ke lantai.
"Laura !" teriak fitri histeris langsung menghampiri laura tak peduli jika dia sudah melewati batasan yang tak boleh di lalui.
Para santri putra yang tadi menjadi penonton juga ikut panik. Tapi mereka tak berani mendekat mengingat peraturan yang ada. Fitri segera mencari bantuan untuk membawa sahabatnya itu ke klinik. tanpa berfikir panjang arah yang di tuju adalah ruang guru dan staf dan disana hanya ada satu orang yang baru saja melepas jaketnya tampak baru pulang dari perjalanan jauh. Tapi kondisi laura lebih penting dari pada harus menanyakan dari mana orang itu fitri segera menghampirinya dengan nafas yang terengah-engah.
"ustadz, tolong ustadz, bantu saya membawa laura ke klinik, dia pingsan di depan pondok putra ustadz !" ujar fitri memohon sudah tak tahu lagi harus minta tolong kepada siapa.
" kenapa lagi dia ?" tanya orang itu.
"ceritanya panjang ustadz, nanti saja yang penting ustadz bantu saya bawa laura !"
Melihat ekspresi fitri yang begitu khawatir terhadap sahabatnya sang ustadz tak tega jika harus banyak bertanya lagi. jaket yang semula sudah di sandarkan pada kursi di raih lagi dan berjalan mengikuti fitri dari belakang.
Sesampainya di lokasi segera di angkat tubuh mungil itu menuju mobil yang sudah terparkir di depan asrama putra yang memang baru saja di parkir beberapa menit lalu.
Fitri memangku sahabatnya di belakang sedangkan sang ustadz melajukan mobil dengan secepat kilat melihat kondisi lemas pasien di belakang jok mobilnya, baru kali ini dilihatnya di balik sifat cengengesan yang selama ini terlihat.
Tak membutuhkan waktu lama, setelah mobil terparkir di halaman klinik. Sang ustadz segera membopong kembali tubuh mungil itu dan berlari masuk kedalam klinik. Entah mengapa ia juga begitu panik, membuat fitri yang mengikuti dari belakang kesulitan untuk mengejarnya karena saking cepatnya sang ustadz berlari.
baru kali ini aku lihat ustadz A'ab sepanik iku, jangan-jangan....batin fitri.
kalau di awal masuk pesantren laura sempat ngedrop dan di bawa ke klinik oleh ustadz Fauzy. kali ini yang berhasil di mintai tolong fitri adalah ustadz A'ab yang baru saja pulang dari urusannya di luar kota.
Dengan segera dokter menangani laura yang telah terbaring di atas ranjang klinik. sesekali fitri melirik ustadz tampan yang ada di sebelahnya, tampak sedang membisikkan sesuatu. Tapi dia juga tak tahu apa yang sedang di ucapkan sang ustadz. Ach sudahlah dia memilih kembali fokus pada sahabatnya yang masih dalam pemeriksaan dokter jaga. dalam hatinya selalu berdo'a agar sahabatnya itu baik-baik saja.
" bagaimana dokter ?" tanya fitri segera setelah pemeriksaan selesai di lakukan.
" seperti sebelumnya, anak ini memang tidak bisa di paksakan untuk melakukan hal berat, apalagi berhubungan dengan sinar matahari tubuhnya akan cepat bereaksi !" jelas dokter wanita itu dan fitri mengangguk.
"lalu bagaimana kondisinya saat ini dokter ?" kali ini ustadz A'ab yang berbicara.
Kedua orang berada dalam ruangan itupun terdiam setelah mendengar penjelasan dari dokter. Dalam hati mereka berdoa semoga laura segera sadar dan tak perlu di bawa kerumah sakit.
"ustadz, !" fitri memberanikan diri membuka suara pada sang ustadz killer.
"hemmh...
"Matur suwun ustadz !" ujar fitri lirih karena tak tahu harus ngomong apa.
" sebenarnya apa yang terjadi fit ?" tanya ustadz A'ab.
" saya ndak tahu pasti ustadz, tadi pagi waktu mau berangkat diniyah laura di panggil keruang sidang keamanan, dan waktu pulang temen-temen bilang kalau laura di pampang di depan asrama putra !" terang fitri.
" apa mungkin karena reza ?" tebak ustadz A'ab.
Karena memang hukuman seberat itu hanya akan di jatuhkan pada santri yang berhubungan dengan lawan jenis di lingkungan pesantren, memakai dan menyentuh gadget, dan mencuri.
"kurang tahu ustadz, tapi saya berani jamin kalo laura ndak pernah berhubungan apapun sama dia, reza memang selalu godain laura setiap ketemu tapi laura ndak pernah ngrespon !" Terang fitri lagi dan sang ustadz mengangguk.
Tatapan kedua orang itu kembali fokus pada laura yang masih enggan membuka matanya. ustadz A'ab meraih ponsel yang ada di saku jaketnya, membuka aplikasi Al Qur'an dan segera melantunkan ayat yang ada di dalamnya agar hatinya lebih tenang. Sedangkan fitri memilih menenangkan diri di mushola klinik dengan sholat dhuha.
" Saya permisi sebentar nggih ustadz, nitip laura !" pamit fitri dan hanya di jawab anggukan oleh sang ustadz.
Fitri segera berlalu dari sisi laura berbaring dan menuju mushola klinik untuk sholat dhuha. sedangkan ustadz A'ab kembali melanjutkan ayat yang di baca. sesekali melirik kearah gadis yang ada di hadapannya belum juga menandakan akan terbangun dan membuka mata.
Ternyata kamu bisa seperti ini juga, aku pikir gadis seperti kamu hanya bisa membantah saja...
Terdengar lirih suara merdu menyejukan jiwa, perlahan mata yang menutup sempurna itu mulai terbuka.
Tidak mungkinlah orang itu ada disini...batin laura.
Terlihat samar, laura mencoba membuka lebih lebar lagi matanya yang masih terasa berat. berkali-kali mencoba mengalihkan pikirannya tapi sepertinya otaknya sudah gesrek waktu terjatuh tadi pikirnya.
otak gue kayaknya udah geser dech pas pingsan tadi, apa mungkin kepala gue kena batu ya ? mana mungkin si ustadz nyebelin itu ada disini ...
pikiran-pikiran itu masih melayang-layang di dalam pikirannya. sementara tubuhnya masih mengumpukan kekuatan untuk bisa bangun kembali.
"Alhamdulillah! " syukur ustadz A'ab melihat gadis di hadapanya telah membuka mata.
Meskipun masih terlihat kebingungan dan pucat di wajah gadis itu setidaknya seperti yang di katakan dokter ketika hari ini matanya sudah terbuka maka tidak ada yang perlu di khawatirkan. Dengan segera ustadz A'ab memberitahukan kondisi laura yang sudah sadarkan diri pada dokter.