Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
kasmaran



Berkali-kali mencoba menyadarkan diri akhirnya laura percaya bahwa ini adalah kenyataan. Kenyataan Bahwa orang yang tak pernah pergi dari hatinya juga tak pernah meninggalkannya. Dan menunggunya, bahkan saat ke egoisan dan ke gigihan itu ada dalam dirinya dan menghancurkan semuanya.


" Terima kasih ya Allah, terima kasih untuk takdir indah ini, Ampuni aku atas segala kekuranganku, !" ujar laura memeluk boneka teddy pink kesayangannya.


Meskipun terasa lelah, rasanya sangat sulit untuk laura bisa memejamkan mata. pikirannya masih terus melayang-layang kesana kemari. senyam senyum sendiri bergulang guling, seperti baru pertama kali bertemu dengan sang pujaan hati apalagi saat membuka ponsel melihat pesan yang terpampang di layar paling atas dari pujaan hatinya.


📩cepat tidur, nanti malam biar ga grogi


📨 emang nanti malam ada apa ?


📩Bandel kan, di suruh tidur malah hapenan


📨 yang mulai siapa coba ?


📩 lah, apa salahnya ? cuma ngingetin buat tidur 😝


📨 😩emang nanti malem ada apa ?


📩 Tau ach, udah tidur sana, aku mau ngomong sama papa Handika 😉


Assalamualaikum.


📨wah...wah...wah...pelanggaran, ijab qobul aja belum udah berani manggil papa aku dengan sebutan papa 😑


Setelah pesannya tak berbalas laura mulai berfikir apakah benar yang di katakan pengirim pesan kalau saat ini tengah berbincang dengan papanya.


Laura sungguh merasa bosan karena dikurung di kamar tak di perbolehkan keluar dengan alasan harus istirahat untuk mempersiapkan diri untuk acara nanti malam. Acara apa itu bahkan laura tak di perbolehkan tahu. Membuatnya hanya bisa pasrah dengan semua perangkap ini.


untuk mengusir kebosanannya laura mencoba menghubungi kedua sahabatnya yang dari surabaya untuk menemaninya di dalam kamar. Kebetulan lolita ada wawancara kerja hari ini dan baru bisa menemui laura di acara malam nanti. sedangkan Rania mengurus S2nya di Singapura untuk beberapa hari jadi tidak bisa menghadiri acara pertunangan laura.


" Assalamualaikum, !" Fitri dan aisyah segera datang setelah mendapat panggilan dari laura.


" wa'alaikumussalam, sini syah aku mau gendong anak kamu !" laura dengan antusias mengulurkan kedua tangannya kepada pria kecil di gendongan aisyah.


" kamu kan di suruh tidur ra, ko ndak tidur ? emang ndak cape ?" tanya fitri yang saat ini telah memposisikan duduk di ranjang pinky laura.


" ga bisa tidur aku, bosen juga, emang mau ada acara apa sih ? emang aku mau dinikahin malam ini juga ?" jawab laura yang saat ini asyik dengan anak aisyah di gendongannya.


" emang ndak berubah kamu ra, tak piker kuliah di luar negeri kamu akan tambah pinter !" cibir fitri mengelus perut besarnya.


" kayaknya semua orang disini doyan banget ngerjain aku, dan bodohnya aku nurut aja di setir kaya gini !" dengus laura namun tetap asyik dengan balita yang ada di pangkuannya.


" Baru nyadar !" cibir fitri.


Laura hanya menggeleng saking asiknya dengan balita di pangkuannya sedangkan aisyah terkekeh melihat kedua orang yang ternyata masih sama saja meskipun sudah bertambah usia.


"oh ya fit, suami kamu yang mana ? tadi aku cuma lihat suaminya aisyah doang! " Tanya laura kemudian setelah menyerahkan kembali anak yang ada di pangkuannya kepada sang ibu.


" suamiku ndak ikut, masih kerja besok kalau kamu nikah baru ikut kesini! " jawab fitri.


" tega banget bumil di biarin sendiri !" ujar laura yang seperti biasa enteng tanpa dipikir.


" emang aku bukan manusia ra ? kamu bilang fitri sendiri ?" Sahut aisyah.


" bukan gitu syah, perutnya fitri sudah sebesar itu, masa suaminya ga ikut !" laura sudah memanyunkan bibir mungilnya.


" Demi siapa coba kaya gini ?"


Aisyah yang masih menenangkan sang buah hati kembali terkekeh melihat tingkah konyol kedua orang yang lama tak dilihatnya itu.


Ketiga orang yang lama terpisahkan itu semakin asik berbicara kesana kemari. Saling berbagi cerita selama mereka terpisahkan. Aisyah yang masih merasa bersalah karena tak sempat meminta maaf kepada laura secara langsung waktu itu juga kembali mengungkapkan penyesalannya. Namun laura sudah lama memaafkan hal itu meskipun iya, sebelum hari ini dimana dia tahu kalau ustadz A'ab tak pernah berpaling darinya sakit itu masih terasa ketika mengingat nama aisyah.


Fitri, Aisyah dan sang buah hati sudah terlelap setelah lelah ngobrol dan bercengkrama ngalor ngidul. Sedangkan laura masih saja terjaga dan mulai kembali mengotak atik ponselnya karena sudah bosan.


📩mandi gih, bauk


📨Sotoy, aku mah selalu wangi 😋


📩 idich, PD banget 😩


📨 mau bukti ?


📩mau lah, coba sini aku cium baunya 😉


📨 Astagfirullah hal adziiim, belum mukhrim 😡


📩 😂 udah pinter banget sekarang, cuma nyium baunya, nyium orangnya seminggu lagi 😋


📨Astagfirullah hal adziiim ustadz😠


📩 udah sana mandi, sholat jangan lupa baca Al Qur'an


Assalamualaikum Bidadari surgaku 😊


📨wa'alaikumussalam ustadz 😘


📩Astagfirullah hal adziiim, g kuat lihat emoticonya 🙈


📨 😝


Laura terus senyam senyum sendiri melihat pesan yang ada di ponselnya. Rasanya aneh memang, tak pernah ada kontak sedikitpun selama lebih dari 4 tahun. kalaupun selama di pesantren bertemu, berbicara juga hanya sekedarnya tak pernah sedekat ini. Di dalam kelaspun hanya perdebatan mengenai materi pelajaran. Tapi hari ini setelah kembali dari perantauannya laura di kejutkan dengan sifat baru sang ustadz yang ternyata sangat pandai menggodanya.


Selepas sholat ashar laura kembali menatap pesan yang ada di ponselnya. matanya tertuju pada sebuah pesan dimana ustadz A'ab mengatakan kalau akan menciumnya satu minggu lagi.


Apa itu artinya aku akan menikah satu minggu lagi ??? tapi kenapa papa ga pernah cerita ? apa maksud dari semua ini coba ? ini lagian apa-apaan pake di kurung di dalam kamar, ga jelas banget sih papa sama mama 😧


Diluar memang semua orang tengah sibuk menyulap rumah besar itu menjadi tempat pesta pertunangan sekaligus tasyakuran ulang tahun dan kembalinya laura ke Tanah air. Oleh karena itu laura sengaja di kurung di dalam kamar agar tak mengetahui semua rencana itu.


" semoga laura suka ya pa, !" ujar Ratih pada sang suami.


" iya ma, papa udah ga sabar punya mantu !" jawab Handika terkekeh.


" ich, papa apaan sih ? mama justru malah sedih kalau laura menikah !" Wajah ratih berubah cemberut.


" kenapa ma ? laura kan masih juga anak kita meskipun sudah menikah ?" Handika yang tahu akan ke khawatiran sang istri membawa sang istri kedalam pelukannya.


"mama takut laura jauh dari kita, gimana kalau ustadz A'ab bawa laura ke surabaya? " ke khawatiran ratih semakin menjadi membuatnha semakin terisak di dalam pelukan sang suami.


" sudah sepantasnya istri itu ikut suaminya ma, dimanapun mereka akan tinggal nantinya itu keputusan mereka, asal anak kita bahagia apa itu tidak cukup membahagiakan untuk kita ma !" Handika mencoba memberikan pengertian kepada sang istri.


Bagaimana tidak berat bagi Ratih jika harus kembali melepas anak perempuannya yang baru saja kembali kerumah setelah bertahun-tahun jauh darinya. Dan kini, saat kembali ia akan segera menjadi milik orang lain yang secara otomatis mengambil alih haknya sebagai orang tua.