
Pagi hari di meja makan terasa lebih sepi karena si kembar telah kembali merantau di negeri orang. Sementara itu tinggal sepasang pengantin baru yang menemani Handika dan Ratih. Handika yang memang sudah tak sabar untuk menimang cucu dari anak gadisnya itu berharap anak dan menantunya untuk segera mengabulkan keinginannya.
" jadi kalian mau bulan madu kemana ? papa sudah ga sabar pengen nimang cucu !" ujar handika membuka suara dalam sarapan pagi itu.
" minggu depan A'ab sudah mulai kembali on kan jadwal pa, karena satu minggu ini sudah off !" jawab ustadz A'ab berterus terang.
" apa ? kog kamu ga bilang ?" sahut laura kaget membulatkan mata menghentikan proses mengunyahnya.
" la ini barusan bilang ra, !"
Laura membuang nafas kecewa, dan mendadak malas menyentuh makanan yang ada di hadapannya. hanya membolak balikkan sendok dan memainkan makanan yang ada di dalam piring yang tadi sempat di makan dengan lahap.
" ra, udah donk ga usah ngambek gitu, aku pasti akan kosongkan jadwal lagi untuk bulan madu kita tapi ndak minggu depan, bulan ini aku menghabiskan jadwal yang masuk di bulan sebelumnya dulu, baru bulan depan aku akan mengatur ulang jadwal biar bisa ada waktu buat kamu !" bujuk ustadz A'ab tahu betul kalau saat ini sang istri tengah kecewa dengannya.
" tau ach, !" laura membanting sendok dan berlalu meninggalkan suami dan kedua orang tuanya di meja makan.
" maafkan sikap laura yang masih kekanak-kanakan ya ab, !" ujar handika mencekal tangan sang menantu yang hendak mengejar sang putri yang sudah berlari bersama kekesalannya.
Memang mudah bagi ustadz A'ab untuk menemukan sang istri. karena dia tahu betul setiap ada masalah apapun pasti gadis itu akan berlari dan mengayunkan kakinya si dalam air. seolah air itu akan membawa semua masalahnya pergi.
" ra, ayolah kamu tahu sejak awal kalau ini sudah menjadi kewajibanku, kamu harus terbiasa dengan semua ini !" ujar ustadz A'ab meraih tangan sang istri dengan tatapan memohon.
" Apa iya harus secepat itu ?" tanya laura menatap balik sang suami.
" Ra dengar, cepat atau lambat sama saja, itu sudah menjadi kewajibanku dan kamu harus mulai terbiasa, aku pasti akan meluangkan waktu untuk bulan madu kita seperti yang kamu inginkan, tapi tidak minggu depan ya, !" tulus ustadz A'ab memberi pengertian pada sang istri dengan mengelus lembut puncak kepalanya.
" kapan berangkat nya ?" tanya laura masih dengan wajah di tekuk.
"lusa aku mau ke surabaya dulu, pamit sama abah kalau sudah tidak bisa mengajar di pesantren lagi, setelah itu baru ke Bandung ngisi acara disana sekitar 3-4 hari karena beberapa tempat !" Terang ustadz A'ab selembut mungkin.
" kenapa ga ngajar di pesantren lagi ? kan kita bisa tinggal di Surabaya kalau kamu ngajar disana, lagian ibu juga sendirian kan disana ?" Tanya laura teringat akan sang mertua.
" kamu ga keberatan ikut aku kesana ?" ustadz A'ab balik bertanya dan laura menggeleng dengan seulas senyum tulus.
" aku sudah membicarakannya dengan papa, tapi tidak bisa sekarang, Mama masih ingin kamu menemaninya, bayangkan berapa lama kamu jauh darinya ? kalau ibu, aku setiap hari bertemu dengannya, dan ibu di Surabaya juga tidak sendiri banyak santri yang menemaninya disana, jadi sementara kak kevin dan kak kevan belum ada yang menikah kita tinggal disini dulu !" terang ustadz A'ab mengenai rencana kedepan mereka.
Laura bangga dengan orang yang ada di hadapanya. meskipun ia tahu ibunya di kampung halaman tinggal seorang diri ia tak lantas dengan egois membawa laura kesana. Namun justru malah memikirkan perasaan sang mama yang masih punya suami dan pembantu rumah tangga yang menemani.
" buat ?"
" kangen sama fitri sama aisyah, boleh ya ?" rengek laura semakin memohon.
Dan akhirnya ustadz A'ab menyetujui permintaan sang istri. meskipun sebenarnya tidak enak dengan sang mertua karena baru kemarin kedua kakak iparnya kembali ke Amerika dan sekarang sang anak minta untuk ikut ke surabaya. Tapi dengan pengertian yang di berikan ustadz A'ab Ratihpun tidak keberatan dan mengiyakan keinginan sang putri.
" Jangan lupa setelah dari bandung segera ajak istrimu bulan madu ab, mama udah ga sabar pengen nimang cucu !" ujar Ratih berharap.
" Insya Allah ma, mau di buatin sekarang tapi masih lampu merah jadi ya sekalian nunggu pulang dari bandung aja buat cucunya !" ujar ustadz A'ab dengan nada datar namun sukses membuat wajah laura kembali memerah dan ratih terkekeh mendengar ucapan sang menantu itu.
" Jangan lupa buatin yang banyak buat mama, biar mama ga kesepian !" ujar Ratih dengan terkekeh.
" gampang itu ma, nanti A'ab buatin selusin !" jawab sang menantu meladeni permintaan sang mertua membuat wajah laura semakin memerah entah karena malu atau juga kesal di jadikan candaan suami dan mamanya.
" emang piring selusin, !" sahut laura sinis
Ustadz A'ab dan ratih terkekeh mendengar sahutan sinis itu. keduanya bukan berhenti, namun justru lebih bersemangat untuk melayangkan godaan pada laura. karena semenjak menikah laura jadi lebih sering blussing jika sedikit saja di goda meskipun itu hanya hal sepele.
" mama sama menantu sama aja, udah ach laura mau mandi !" kesal laura merasa terpojokkan oleh obrolan sang suami dan mamanya.
"mau mandi sendiri apa aku yang mandiin ?" goda ustadz A'ab menaik turunkan alisnya membuat laura semakin bergidik dan memilih berlari dari hadapan mertua dan menantu itu.
" Dasar mesum !" teriak laura dalam pelariannya.
Sedangkan Ratih dan ustadz A'ab terpingkal melihat kekesalan laura yang sudah salah tingkah itu.
" Terima kasih ya ma, telah melahirkan anak secantik dan sebaik laura, !" ujar ustadz A'ab pada sang mertua membuat hati ratih menghangat mendengar ucapan sang menantu.
" mama titip anak gadis mama ab, dulu waktu lahir mama pikir mama sudah akan kehilangan dia, melihatnya saja dulu mama ga tega, gadis kecil mama itu hidup dengan bantuan selang infus selama satu bulan lebih, Tapi Alhamdulillah Allah masih memberi kesempatan ia untuk tumbuh menjadi gadis yang seperti kamu lihat saat ini, dan mama masih di beri kesempatan untuk melihatnya menemukan jodohnya, jadi mama mohon tolong jaga dia, bahagiakan dia !" Ujar ratih tulus berharap pada sang menantu.
" Insya Allah ma, semoga aku bisa membahagiakan laura seperti harapan mama, !"
Aku tidak bisa menjanjikan apapun ra, aku tidak bisa menjanjikan seperti apa yang di minta orang tuamu, Tapi aku akan terus berusaha menjadi imam yang baik untukmu, membawamu dan keluarga kecil kita nanti bersama-sama meraih ridho Allah SWT. Dan semoga Allah meridhoi rumah tangga kita hingga sampai ke surgaNya kelak....