Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Langkah baru



Malam hari seperti biasa selepas sholat isya pasangan laura dan ustadz A'ab selalu melakukan rutinitas mereka bertadarus Al Qur'an. setelahnya akan di gunakan untuk saling bercerita berbagi untuk mempererat hubungan mereka. saling mengenal satu sama lain lebih jauh lagi.


" Terima kasih bidadariku, semoga aku bisa menjadi imam yang baik untukmu dan keluarga kecil kita !" ujar Ustadz A'ab membawa tubuh mungil sang istri kedalam pelukannya.


" kenapa kamu selalu berterima kasih ? aku sudah cukup bahagia menjadi istrimu, aku yakin bahwa kamu bisa menjadi imam yang baik untukku !" laura menatap dalam mata sang suami.


cup..satu kecupan di layangkan ustadz A'ab di kening sang istri. mengeratkan pelukan menyalurkan perasaan tulus yang dimiliki.


" ra, !"


" hmmm,


" aku boleh ngomong sesuatu ? " izin ustadz A'ab.


Laura mengrenyitkan kening, kenapa harus izin pikirnya. sebelum akhirnya mengangguk tanpa protesan.


" kamu tadi belanja pakai uang siapa ? " tanya ustadz A'ab membuat laura semakin tak mengerti dengan arah yang dibicarakan sang suami.


" ya uangnya aku sendiri lah hub, uangnya siapa lagi !"jawab laura.


" dari mana? papa ?" tanya ustadz A'ab lagi membuat laura terdiam sejenak berfikir.


" kenapa tiba-tiba tanya gitu ?" laura balik bertanya.


Ustadz A'ab menarik nafas panjang, manata kata agar apa yang diucapkan tak menyakiti perempuan kesayangannya.


" laura sabrina, sejak hari aku mengucapkan ijab qobul, kamu adalah tanggung jawabku, segala keperluanmu harusnya juga aku yang menanggungnya, tapi selama satu bulan ini untuk makanmu saja masih numpang sama papa, aku merasa jadi suami yang tidak bertanggung jawab padamu !" ustadz A'ab menatap serius sang istri.


Sedangkan laura merasa bersalah mendengar ucapan sang suami. karena selama ini ia terus saja menghamburkan uang yang tanpa sadar ternyata itu membuat suaminya merasa tidak nyaman. Meskipun tak kan masalah bagi orang tuanya yang memang terlalu menyayanginya. Tapi tentu semua itu harus mendapat izin dari suami.


" maaf !" sesal laura lirih.


"hey kenapa minta maaf sayang ? aku tidak marah, aku hanya ingin kita belajar mandiri, biarkan aku melaksanakan tugasku sebagai suamimu, bertanggung jawab atas kamu dan anak-anak kita nanti!" Dengan tulus ustadz A'ab berucap tak ingin membuat sang istri terluka.


Memang benar apa yang dikatakan suaminya. Tidak seharusnya ia bergantung pada orang tuanya sedangkan ia sudah bersuami. Layaknya wanita bersuami melakukan apapun harus dengan izin suaminya.


Setelah berdiskusi tentang masa depan mereka, keduanya memutuskan untuk tinggal berpisah dengan kedua orang tua laura. Mengembalikan semua fasilitas yang telah diberikan oleh orang tua laura.


Tanpa sepengetahuan laura ustadz A'ab telah mengungkapkan niat tersebut kepada kedua mertuanya. awalnya memang ratih menolak mengingat kondisi laura yang rentan sakit dan suaminya juga sering pergi keluar kota. Tapi Handika meyakinkan sang istri bahwa putrinya akan baik-baik saja bersama sang menantu. Ia percaya bahwa sang menantu dapat menjaga putrinya dengan baik.


" kamu ndak papa kan hidup sederhana denganku ?" tanya ustadz A'ab memastikan kesediaan sang istri.


" asalkan sama kamu, dimanapun dan bagaimanapun keadaannya Insya Allah aku bersedia !" jawab laura dengan senyum tulus.


" Aamiin, emang kamu jadi ngajar dimana ?" tanya laura.


" di yayasan sekolahmu dulu !"


"whatsss ???" kaget laura membulatkan bola matanya.


" biasa aja, !" ustadz A'ab menangkup wajah sang istri dengan kedua tangannya.


" kenapa harus di bakti negara sih ? ceweknya genit-genit tau !" gerutu laura tak suka membuat sang suami terkekeh dengan keposesifan itu.


" sudah ndak ada yang genit, karena yang genit sudah jadi istriku !" jawab ustadz lagi-lagi terkekeh mengacak rambut indah sang istri.


Laura semakin memajukan bibir mungilnya karena kesal. Tak menyangka kalau yang menjadi pilihan suaminya adalah yayasan bakti negara. Tempatnya menimba ilmu sejak kecil karena memang papanya termasuk donatur di yayasan itu juga.


Sementara itu dikamarnya Ratih hanya bisa bergulang-guling tak dapat memejamkan mata. Memikirkan sang anak yang akan di bawa suaminya tinggal berpisah dengannya. Baru saja satu bulan berkumpul sudah harus berpisah lagi. Meskipun tempat yang akan ditinggali laura tak jauh dari rumahnya tetap saja rasanya berat bagi ratih untuk melepas anak perempuannya itu lagi.


Laura akan tinggal di sebuah kontrakan yang tak jauh dari tempat suaminya mengajar. Handika sudah menawarkan untuk membelikan rumah kepada sang menantu. Tapi ustadz A'ab menolak dengan alasan tidak ingin tergantung pada orang tua. ia ingin berjuang sendiri menghidupi keluarganya. Jadi sisa tabungan yang ada ia gunakan untuk membeli motor sebagai alat berkendaranya dan istri sedangkan sisanya untuk mengontrak rumah.


Orang tua mana yang tega melepas kepergian anaknya dengan kondisi yang tentu akan jauh berbeda. Laura telah menyerahkan semua barang pemberian orang tuanya kecuali ponsel dan pakaian. Ratih benar-benar tak dapat membayangkan bagaimana kehidupan putrinya yang biasa hidup dengan kemewahan tiba-tiba harus hidup pas-pasan bersama sang suami.


" ma, sudah donk ga usah sedih gitu, aku mana tega ninggalin mama dalam keadaan seperti ini !" ujar laura kepada sang mama yang masih enggan melepas kepergian sang putri.


" kamu baik-baik ya sayang, inget kalau suamimu keluar kota kamu harus pulang kesini !" pesan ratih dengan berat hati.


" mama tenang aja, kalau aku keluar kota pasti laura akan aku anter kesini, Insya Allah aku akan berusaha membuat laura selalu bahagia ma, !"ujar ustadz A'ab meyakinkan mertua perempuannya.


" mama harus percaya pada menantu kita ini, papa yakin bersama A'ab laura akan bahagia !" Begitu pun dengan Handika yang ikut meyakinkan sang istri.


Bukan tak ikhlas jika laura ikut sang suami. Tapi tentu berat melepas anak perempuan satu-satunya itu lagi. setelah bertahun-tahun lamanya terpisah. Tapi apalah daya, hak putrinya kini telah berpindah ketangan suaminya. ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaan sang putri.


" mama ga tahu kan, dulu aku di pesantren makannya sama apa ? nasi sama garam juga pernah, tapi buktinya aku baik-baik saja, bahkan aku jadi jarang sakit di pesantren, suamiku pasti tidak akan membiarkanku seperti itu kenapa mama khawatir sekali !" ujar laura berharap mamanya akan mengerti.


Ratih memeluk putri kesayangannya itu dengan sangat erat. ia juga menangkup sang menantu bersamanya. ia percaya bahwa laura akan baik-baik saja. Hanya saja masih berat untuk kembali berpisah.


" titip anak mama ya ab, kalau butuh apa-apa bilang tidak perlu sungkan, papa sama mama ada disini untuk kalian !" ujar ratih merangkul anak dan menantunya sekaligus.


" siap mama, Insya Allah aku akan berusaha menjaga anak mama dengan semampuku !" ujar Ustadz A'ab membalas pelukan sang mertua.


Setelah mendapat kelegaan hati dari ratih barulah keduanya lega untuk menjalankan komitmen mereka untuk hidup mandiri. Lagi-lagi langkah yang tak mudah bagi laura keluar dari zona nyamannya. melepas semua fasilitas kemewahan yang dimiliki dan memulai hidup sederhana bersama sang pujaan hati.