Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
kedatangan Rania



Laura memang tak mengalami mual dan mengidam banyak hal seperti ibu hamil pada umumnya. Tapi tingkat kesensitifannya lebih tinggi, yang terkadang membuat semua orang harus mencari cara sehati-hati mungkin untuk berbicara dengannya. seperti beberapa hari lalu saat ratih meminta laura untuk tinggal di rumahnya selama hamil agar ratih bisa senantiasa memperhatikan dan menjaganya saat sang suami sedang bekerja. Laura justru uring-uringan tak berujung membuat semua orang menjadi kebingungan.


Ustadz A'ab menghentikan seluruh jadwal tausiah yang harusnya ia hadiri karena kondisi sang istri yang tak memungkinkan untuk di tinggal. Bahkan beberapa kali harus izin untuk tidak berkerja demi menenangkan sang istri tercinta. Karena tak satupun orang bisa menangani laura di saat seperti ini kecuali kelembutannya.


" Hari ini aku berangkat kerja ya, aku udah telfon mama buat nemenin kamu, istirahat cukup jaga dedeknya baik-baik!" ujar Ustadz A'ab membelai lembut kepala sang istri.


" aku ga papa ko di rumah sendiri, kenapa harus ngerepotin mama ?" tanya laura.


" iya, aku tahu kamu ga papa, tapi aku yang ndak tega biarin kamu di rumah sendiri !" ujar Ustadz A'ab hati-hati tak ingin membuat istrinya kembali tersinggung.


" Biasanya juga dirumah sendiri!" Laura masih kekeh membantah membuat sang suami rasanya ingin sekali berteriak cukup tapi tak mungkin itu di lakukan dalam kondisi emosi sang istri yang tak terkontrol seperti ini.


" Hmm, biar kamu ada teman ngobrol kalau mama disini, apa kamu mau aku antar kerumah mama ?" tutur ustadz A'ab masih dengan selembut mungkin.


" ga mau, dirumah aja, ya udah dech biar mama yang kesini !" jawab laura kemudian membuat sang suami bisa bernafas lega.


" ya sudah, aku berangkat ya !" izin ustadz A'ab yang di jawab anggukan oleh laura.


" Assalamualaikum!" satu kecupan di kening dan satu kecupan lagi di perut laura yang sudah sedikit menonjol untuk menenangkan sang istri.


" wa'alaikumussalam!" jawab laura tak lupa mencium tangan sang suami.


setelah memastikan kondisi sang istri benar-benar tenang barulah ustadz A'ab bisa pergi bekerja dengan tenang. Ia juga sudah menghubungi ibu mertuanya untuk menemani sang istri, bagaimanapun ia tak tega meninggalkan sang istri sendirian dalam keadaan yang seperti saat ini. Apalagi laura yang masih dengan ceroboh saat beraktivitas membuatnya semakin tak tega membiarkan wanitanya itu dirumah seorang diri.


Semua pekerjaan rumah telah di handle sang suami sebelum berangkat bekerja dengan alasan tak ingin istri tercintanya itu menjadi kelelahan. Sementara sang suami bekerja laura kembali berkarya dengan keahliannya menggoreskan kuas di atas kanvas. Sebelumnya tentu laura melaksanakan semua wejangan dari sang suami untuk melaksanakan sholat Dhuha dan membaca Al Qur'an agar hatinya lebih tenang dan yang pasti berharap dengan itu sensitifanya akan berkurang.


Tak lama Ratih tiba di kediaman putri tercinta. Ratih datang tak seorang diri melainkan bersama Rania yang tengah pulang ke Indonesia dan sengaja ingin menjenguk sahabat kecilnya itu. Namun saat mengunjungi rumah orang tua laura ternyata laura tak berada disana dan kebetulan ratih akan pergi kerumah laura jadi sekalian Rania ikut bersamanya.


" Laura....!" pekik Rania begitu merindukan sahabat kecil yang hampir setahun tak pernah bertemu itu.


" Astaghfirullah hal 'adziim, hampir aja gue jantungan !" kaget laura mengelus dada dan mengusap telinganya yang panas akibat pekikan keras sahabatnya itu.


" lebay loe mentang-mentang lagi bunting !" dengus laura menjatuhkan tubuhnya di ranjang kecil kamar laura.


" loe pikir gue sapi apa ? bunting,..bunting !" dengus laura tak terima dengan ucapan sahabatnya itu.


" hahaha, sorry dech, !" tawa Rania lama tak melihat ekspresi kesal sahabat kecilnya itu.


" loe kesini sama siapa ? ko tahu kalau gue tinggal disini?" tanya laura sudah memposisikan diri berbaring di samping rania.


" sama nyokap loe, tuch nyokap loe masih diluar nyiapin cemilan sehat buat loe katanya !" jawab Rania.


" hmm, !" Laura mengangguk.


Tak cuma Rania, laura juga sangat merindukan sahabatnya itu. ia selalu merasa kesepian setiap kali mengingat masa kecil mereka. kini semua telah sibuk dengan urusan pribadi masing-masing. Lolita meskipun dekat juga sangat jarang ada waktu untuk menemui nya karena kesibukannya.


" perut loe udah mulai kelihatan buncit ra, udah berapa bulan ? tanya rania.


" gue udah ga ada kontak semenjak berangkat ke singapura, terakhir waktu dia nganter gue ke bandara bilang kalau masih belum bisa ngelupain elo !" jawab Rania dengan senyum miris.


" sesusah itu apa ngelupain gue ?" heran laura.


" loe ga akan merasakan karena loe langsung menemukan cinta yang juga mencintai elo ra, beda sama gue dan dia !" ujar Rania.


" loe ga ada niat buat cari yang lain ?" tanya laura.


" gue punya temen deket ra, dia juga orang indo cuma ya baru setahun gue masih belum berani buka hati gue !" jawab rania.


Bagaimanapun cinta adalah perasaan indah yang tak bisa di paksa. Tak juga bisa diminta pada siapa ia harus tumbuh. Meski sekeras apapun Rania berusaha untuk mendapatkan hati andra nyatanya sampai saat ini masih belum bisa. begitupun dengan perasaan Andra pada laura yang masih belum bisa berubah meski laura telah menemukan cintanya.


" Makan dulu yuk, biar cucunya mama sehat !" ajak ratih pada kedua orang yang tengah melepas rindu itu.


" katanya mama buatin salad buat aku, mana ?" tanya laura.


" tapi ini udah masuk waktu makan siang loch sayang, nanti habis makan aja ngemilnya !" ujar ratih.


" aku mau saladnya dulu mama, nanti aja aku makan kalau ustadz udah pulang !" rengek laura yang membuat ratih tak ingin membantah lagi karena bisa jadi pertikaian tak berujung jika dia tidak menuruti kemauan putri tercintanya itu.


" ya udah, mama ambilkan !" ujar ratih akhirnya menuruti permintaan sang anak.


Sementara obrolan antar kedua sahabat yang lama tak berjumpa itu terus berlanjut sambil laura menikmati salad buah yang dibuatkan oleh sang mama. Sampai tak terasa jika hari sudah menjelang sore dan Rania harus pamit karena tidak enak juga kalau suami laura pulang dan dirinya masih berada di kamar sahabatnya yang memang hanya satu dan digunakan bersama suaminya.


" Assalamualaikum!" salam ustadz A'ab pada sang istri yang kebetulan masih di depan rumah lepas mengantarkan rania.


" wa'alaikumussalam!" jawab laura mencium punggung tangan sang suami.


" ko di luar sayang ?" tanya ustadz A'ab lembut membelai kepala sang istri.


" habis nganterin Rania baru pulang, !" jawab laura.


Ustadz A'ab mengangguk kemudian merangkul sang istri san membawanya masuk kedalam rumah.


"Assalamualaikum, Gimana kabarnya anak aby hari ini ?" ujar Ustadz A'ab mendekatkan wajahnya di perut buncit sang istri yang sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


" wa'alaikumussalam, aku baik ko aby apa lagi kalau aby ada di samping umy !" jawab laura menirukan suara anak kecil kemudian terkekeh geli.


" itu sih maunya umy aja, !" gemas ustadz A'ab beralih dari perut menatap wajah imut sang istri kemudian mencubit gemas kedua pipinya.


" Ustadz, I Love U !" ujar laura tulus meraih kedua tangan yang tadi berada di pipinya.


" I Love U too !" jawab ustadz A'ab membawa sang istri kedalam pelukannya.


Berharap kebahagiaan ini tak lekas berakhir meski tak ada yang tahu bagaimana takdir seseorang. yang jelas harapan laura adalah bisa melewati semua halang rintang rumah tangganya bersama suami tercinta sampai maut memisahkan mereka.