
Mengapa mencintaimu harus sesakit ini ? apa mungkin aku terlalu berharap sehingga aku melupakan kenyataan bahwa aku bukanlah pemilik cinta,
seperti yang pernah kau katakan,
setiap malam aku meminta pada sang pemilik cinta untuk membuatmu mencintaiku pula,
Tapi sepertinya Sang Pemilik memilihkan jodoh yang lebih baik dariku untukmu,
Dan itu artinya aku harus mundur,
Dan menggeser namamu dari sederet do'aku,...
Semenjak berita perjodohan ustadz A'ab dan aisyah menyebar laura si gadis periang kini berubah menjadi gadis pendiam dan penyendiri. Dia lebih suka menghabiskan wakunya untuk menyendiri di perpustakaan daripada harus berkumpul dan berceloteh dengan teman sekamarnya seperti biasa saat ada waktu luang. setidaknya buku-buku tebal perpustakaan tak akan mengungkit-ungkit tentang perjodohan ustadz A'ab dan aisyah. berbeda dengan teman sekamarnya yang pasti lagi hot-hotnya membicarakan hal itu.
"Assalamualaikum !" salam seseorang.
"wa'alaikumussalam, !" jawab laura.
" sangat mudah menemukanmu, sudah pasti disini, gadis penunggu perpustakaan !"
" kenapa ustadz selalu mencariku ?" tanya laura menaikkan satu alisnya.
" ndak papa, pengen aja !" jawab sang ustadz
" Ustadz kalau mau baca kan bisa di perpustakaan putra, ga harus disini !" ujar laura kembali fokus pada buku yang di baca.
Ustadz Fauzy entah mengapa akhir-akhir ini setelah berhasil meminta maaf pada laura jadi lebih sering untuk menemui laura di ruang perpustakaan putri. Dan jujur saja itu membuat laura merasa tidak nyaman apalagi mereka hanya berduaan di dalam sana. meskipun ustadz tetap saja fauzy adalah laki-laki asing bagi laura.
" kamu suka sekali membaca buku setebal itu ?" tanya ustadz fauzy tak menghiraukan perkataan laura.
"emmm,..
Hanya itu yang di utarakan laura sebagai jawaban. dan memilih lebih fokus pada buku yang ada dihadapannya.
" kamu...
" ustadz saya permisi dulu nggih, ada hal yang harus saya kerjakan di asrama !" laura lebih dulu menyeka sebelum ustadz fauzi melanjutkan pertanyaannya.
laura sudah merasa tidak nyaman dengan kehadiran ustadz fauzi dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya sangat membosankan itu. Ia lebih memilih menghindar, apalagi dengan situasi hatinya yang sangat buruk seperti ini sebelum ia tambah geram dan justru akan bersikap tidak sopan pada ustadznya itu.
" Baiklah,...!" jawab ustadz fauzi terpaksa.
"Assalamualaikum! "
" wa'alaikumussalam! "
Susah sekali menyentuh hatimu ra , apa aku tak cukup untuk membuatmu tertarik ?
Laura berlalu meninggalkan perpustakaan menuju ke kamar. Sebenarnya malas, tapi daripada harus menghadapi ustadz fauzi mungkin lebih baik kalau dia membaca di kamar dengan telinga tertutup.
" Dari mana aja ra ?" tanya fitri begitu melihat wajah laura muncul di kamar.
" biasa !" jawab laura singkat.
" sudahlah ra, reza juga ganteng kog !" goda fitri berniat menghibur sahabatnya itu.
" apa sih fit, !" gerutu laura malas memilih membaringkan tubuhnya di atas tikar.
Fitri sudah tak tahu lagi harus bagaimana menghibur sahabatnya yang tengah patah hati itu. Padahal biasanya laura yang paling semangat ngebully dia tapi sekarang laura hanya diam saja meskipun fitri sudah bertingkah konyol sekonyol apapun.
Siang itu laura berangkat sekolah seorang diri. tak seperti biasa jika dia harus menunggu fitri dulu. Dia justru nyelonong begitu saja saat berlalu dari hadapan fitri.
" sendirian aja neng ?" goda reza seperti biasa.
Laura hanya berjalan acuh tanpa ekspresi berlalu dari hadapan ketiga orang itu.
"kenapa tu bocah ?" tanya reza heran melihat tingkah aneh gadis pujaannya itu yang hanya di jawab angkatan bahu oleh kedua orang temannya.
Kalau boleh memilih sepertinya laura ingin bolos sekolah hari ini. karena hari ini adalah pelajaran ustadz A'ab. Pasti akan terasa semakin sakit saat ia melihat wajah sang ustadz. Tapi bagaimanapun ia tak boleh egois dengan perasaanya sehingga dia mengesampingkan tugasnya sebagai siswa di masrasah Aliyah ini.
Dan benar saja, hatinya semakim sakit melihat orang yang saat ini berada di hadapannya. jika biasanya ia yang paling antusias untuk menyauti setiap perkataan sang ustadz kali ini laura hanya diam seribu bahasa dengan tatapan kosong.
" Laura, kamu kenapa ? apa kamu sakit ?" tanya ustadz A'ab pada laura melihat tingkah tak biasanya hari ini.
aku sakit, benar-benar sakit asal kamu tahu.
" aku baik-baik saja !" jawab laura datar.
" Baiklah, kita lanjut pelajaran !" ujar ustadz kemudian melanjutkan materi yang di pelajari.
sepanjang pelajaran tatapan laura masih sama, hanya tatapan kosong sampai pelajaran berakhir. dan itu tak luput dari perhatian sang ustadz.
Laura yang sudah merasa sesak dan tak bisa menahan air matanya memilih izin ke kamar mandi untuk menumpahkan air matanya.
" Laura,....
belum sempat sampai ke kamar mandi panggilan itu lebih dulu menghentikan langkahnya.
" kamu kenapa ?" pertanyaan yang sama dari orang yang sama untuk laura.
"aku ga papa ! " jawab laura tanpa menoleh lawan bicara.
" ra,...
" sudah ku bilang, aku ga papa ustadz !" laura mempertegas perkataannya.
" aku tahu betul seperti apa kamu, dan ga mungkin sikapmu yang seperti ini tidak ada yang terjadi padamu !" ustadz A'ab melangkah sedikit mendekat.
ustadz ga tahu seperti apa aku, buktinya ustadz tidak tahu bagaimana perasaanku....
" aku mau ke kamar mandi !" laura berlari tak menghiraukan jika orang itu masih menantikan penjelasannya.
Apa yang terjadi sebenarnya ra, kenapa kamu berubah seperti ini ? batin ustadz A'ab.
Laura menumpahkan seluruh perasaanya di dalam kamar mandi. Dadanya benar-benar sesak, dan saat ini ia hanya ingin menangis. setelah dirasa sudah benar-benar lega, dia baru mengambil air wudlu. tak berniat kembali ke kelas, laura memilih menunggu waktu sholat ashar dengan membaca Al Qur'an di dalam masjid.
Dan ternyata dari tadi ustadz A'ab masih membuntutinya dari belakang. Entah ada maksud apa, yang pasti ia tak terima jika belum mendapat penjelasan dari apa yang telah terjadi pada gadis itu.
"ra,....
Baru selangkah menginjakkan kakinya di tangga paing bawah masjid langkahnya sudah terhenti dengan panggilan itu. Kali ini laura menoleh kearah sumber suara.
mata sembab dan hidung merah yang masih sangat ketara membuat orang yang tengah memburu penjelasan itu semakin khawatir di buatnya.
" kamu ada masalah apa ? ceritalah, siapa tahu aku bisa membantu,...!" ujar ustadz A'ab.
" Terima kasih ustadz, tapi aku baik-baik saja !" laura menlanjutkan langkahnya menuju kedalam masjid.
kamu tahu saat kamu bilang baik-baik saja, justru itu membuatmu terlihat tidak baik-baik saja, sebenarnya apa yang terjadi, harus pada siapa aku tanya apa yang terjadi padamu jika kamu tak juga mau menjelaskan.