Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Yakin



Hari-hari yang dilalui laura terasa sepi setiap kali sang suami telah berangkat kerja. Meski beberapa kali ketika suami keluar kota ia selalu dititipkan kerumah orang tuanya. tetap sama saja di rumah besar itu tak ada yang bisa di lakukan oleh laura. Laura mulai berfikir untuk mengisi kesibukannya dengan kembali terjun ke dunia melukis. Rasanya sudah lama juga ia tak memainkan jarinya di atas kanvas. Tapi ia kembali urung ketika melihat uang di tabungannya yang sudah semakin menipis. Apalagi terpotong untuk ongkos ke surabaya beberapa waktu lalu yang tak sedikit. mungkin ia harus menunda dulu keinginannya itu.


" kamu lagi mikirin apa ?" tanya ustadz A'ab yang dari tadi sibuk mempersiapkan ulangan harian untuk para muridnya besok kepada sang istri.


" ga papa ko, !" jawab laura menyembunyikan kehendak hatinya itu dari sang suami.


Tapi ustadz A'ab selalu tahu saat laura tengah memikirkan sesuatu. Dan itu tak pernah bisa di sembunyikan darinya. ia menutup Laptopnya dan segera menghampiri sang istri yang tengah duduk di tepi ranjang.


" kamu tahu, aku selalu tahu setiap kali ada yang kamu fikirkan, ceritalah !" ujar Ustadz A'ab membelai lembut rambut sang istri yang tergerai indah.


" aku pengen melukis lagi, !" jawab laura dengan wajah tertunduk


" bagus donk, untuk mengisi kesibukan kamu dirumah !"


" tapi,..


" uangnya masih kan ?" tanya ustadz A'ab memotong ucapan sang istri.


Laura hanya terdiam saat sang suami bertanya tentang itu. karena memang itulah yang jadi pikirannya saat ini. Dan ustadz A'ab tahu ketika istrinya diam berarti itulah yang menjadi pikiranya. Dengan lembut di dongakkanlah wajah cantik itu menghadap wajah nya.


" kamu percaya bahwa Allah sudah mencukupi kebutuhan kita ?" tanya ustadz A'ab dan laura mengangguk.


" Lalu sekarang apa yang kamu ragukan ? uang itu hanya sebatas simbol, Allah telah mengatur kebutuhan kita hari ini, besok dan seterusnya, dan kita harus yakin bahwa Allah maha mencukupi segala kebutuhan kita !"


Laura kembali terdiam mencerna setiap kata yang di ucapkan sang suami. Tapi tetap saja tak mungkin ia mengesampingkan kebutuhan rumah tangga demi kepuasan hatinya.


" ya udah, pakai jilbabnya kita beli perlengkapan lukisnya !" ujar Ustadz A'ab lembut pada sang istri.


" Tapi huby, gimana....


"ssstt....katanya yakin kalau Allah sudah mencukupi kebutuhan kita ? sudah cepet sana pakai jilbab, aku manasin motor dulu !" dengan segera membungkam mulut laura dengan jari telunjuknya kemudian mendaratkan satu kecupan di bibir mungil itu sebelum akhirnya benar-benar keluar setelah menyahut kunci motor yang berada di atas meja kecil samping tempat tidur.


Ustadz A'ab memang suami yang sangat spesial bagi Laura. Dengan segera ia menurut perintah sang suami mengenakan jilbab kemudian menyusul sang suami yang sudah siap mengojeknya.


" sudah siap tuan putri ?" tanya ustadz A'ab begitu laura keluar dari dalam rumah.


Laura hanya tersenyum malu sebelum kemudian duduk di jok belakang sang suami. melingkarkan tangan nya di perut sang suami dengan erat. Betapa bersyukurnya ia mempunyai suami yang begitu mengertinya seperti itu.


Tak lama keduanya telah sampai di toko perlengkapan lukis yang di tuju laura. Mata laura memang selalu berbinar melihat peralatan lukis yang sudah lama tak ia mainkan itu. Niat laura hanya membeli satu kanvas dan beberapa peralatan seserhana dulu untuk media lukisnya mengingat uang yang mereka bawa juga pas-pasan. Yang terpenting bisa menghibur diri ketika di tinggal sang suami bekerja.


" sudah ?" tanya ustadz A'ab pada sang istri yang di sambut dengan anggukan bahagia oleh laura.


Laura kembali berfikir saat melihat uang di dompetnya hanya tinggal beberapa saja. Mungkin hanya tinggal cukup untuk makan sehari. sedangkan sang suami gajian masih satu minggu lagi.


" Huby, uang nya tinggal ini !" Laura memperlihatkan isi dompetnya pada sang suami.


Ustadz A'ab tersenyum sebelum akhirnya menjawab perkataan sang istri.


" iya, uang kita hari ini tinggal itu yang besok masih di simpan sama Allah !" jawabnya dengan lembut.


" Tapi kamu gajiannya kan baru minggu depan, bukankah kalau tausiyah juga ga pernah ambil bayaran ?" tanya laura.


" Rizky bukan hanya berupa gaji, Insya Allah selama kita berjuang di jalan Allah, Allah sudah mencukupkan segalanya !" jawab ustadz A'ab yang lagi-lagi dengan begitu lembut.


Laura sudah tak bisa berkata apapun jika sang suami sudah berkata demikian. ia hanya bisa bersyukur memiliki suami yang begitu spesial itu. Tak sedikitpun memiliki ketakutan pada dunia kecuali pada penciptanya. Menghadapi segalanya dengan rasa syukur dan tenang. Menyerahkan semua yang ada dalam kehidupannya kepada Allah SWT.


" besok hari apa ?" tanya ustadz A'ab pada laura yang masih terdiam memandangnya dengan kekaguman.


" senin, tadi kan ahad !" jawab laura.


" puasa yuk, sudah lama juga kita ndak puasa kan !" ajak ustadz A'ab yang langsung di sambut senyuman hangat oleh sang istri.


Alhamdulillah telah kau hadirkan lelaki yang begitu luar biasa ini dalam hidupku ya Allah, lelaki yang hanya menautkan hatinya padamu, memasrahkan segala urusannya padaMu, betapa beruntungnya aku kau sandingkan dengannya, aku yang masih dalam segala kekurangan iman ini, Terima kasih ya Allah terima kasih


Laura membelai lembut pipi sang suami. menyusuri setiap inci wajah tampan itu dengan jari mungilnya. Mengisyaratkan betapa besar rasa syukurnya saat ini.


" Tidur yuk !" ajak ustadz A'ab kemudian dan laura kembali mengangguk.


Laura beranjak membuka jilbab yang menutupi kepalanya. mencuci muka dan berwudlu sebelum kembali menghampiri suaminya yang telah menunggu di atas ranjang.


" Huby mau ?" tanya laura menawarkan dirinya kepada sang suami. Tak ada yang dapat ia lakukan untuk membalas perlakuan baik sang suami kepadanya kecuali melayaninya dengan sepenuh hati.


" mau apa ?" ustadz A'ab balik bertanya berpura-pura tak mengetahui apa yang di maksud sang istri.


" Terima kasih telah memperlakukanku dengan sangat baik, maka izinkanlah aku melayanimu dengan sepenuh hatiku !" jawab laura dengan seluas senyum manisnya.


" Uhibbuki fillah !" ujar Ustadz A'ab mencium kening sang istri kemudian membawanya terbenam kedalam selimut tebal dan melakukan kewajibanya memberikan nafkah batin pada sang istri.


Dan terjadilah peperangan indah di antara keduanya. memang sungguh indah rumah tangga jika kita selalu melibatkan Allah di dalamnya. Tak ada ketakutan kekurangan dalam hal apapun. senantiasa bersyukur di samping ikhtiyar dan do'a.