
Laura telah siap menunggu kedatangan kedua sahabatnya yang hari ini berencana akan menghabiskan hari terakhir rania di jakarta. Kebetulan hari ini sang suami juga akan di ajak oleh sang papa menyurvey beberapa sekolahan. siapa tahu ada yang cocok dan bisa kembali mengajar di jakarta untuk mengisi kesibukanya. Mau diminta membantu di perusahaan juga bukan bidangnya, jadi Handika memutuskan untuk mencarikan sekolah yang pas dan nyaman untuk sang menantu bisa menyalurkan ilmunya.
" inget, ndak usah pake make up, Jaga diri, jaga hati, ndak usah kegenitan !" pesan ustadz A'ab pada sang istri membuat laura terkekeh setiap kali mendengar keposesifan itu.
" siap bos, kamu juga awas aja genit-genit sama anak SMA! " Ancam laura dengan tatapan tajam.
" Inget umur lah aku mau genit sama anak SMA, !"
" oh,...jadi kalau seumuran mau di genitin ?"
" kayaknya ga ada dech gadis yang lebih cantik dari bidadariku ini !" ujar ustadz A'ab menjawil dagu sang istri yang sudah siap menerkamnya itu.
" gombal !"
Di tengah-tengah guyonan sepasang suami istri itu tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar yang mengalihkan obrolan keduanya.
" Lolita sama rania udah dateng sayang !" suara ratih dari balik pintu.
" oke ma, laura turun !" teriak laura dari dalam kamar.
Sepasang suami istri itu turun menemui orang yang akan membawa mereka masing-masing. Setelah lebih dulu mencium tangan suami dan kedua orang tuanya, laura berlalu bersama kedua sahabatnya menjalankan rencana awal menghabiskan waktu bersama rania sebelum besok harus lepas landas ke Singapura.
Hari ini ketiga gadis itu benar-benar menghabiskan waktu mereka untuk bersama. Menjelajahi pusat perbelanjaan, nonton dan melakukan semua hal yang memang telah lama tak mereka lakukan.
" gue ke tolilet dulu ya ra , !" pamit lolita saat mereka tengah menunggu film yang akan mereka tonton di putar.
" gue ikut lol, !" begitupun dengan rania.
Laura mendengus karena di tinggal kedua orang itu bersamaan.
" ya udah pergi sana loe berdua, !" usir Laura membuat kedua sahabatnya terkekeh sebelum akhirnya berlalu pergi ke kamar mandi.
Sambil menunggu kedua sahabatnya laura asik berbalas pesan dengan sang suami. Sebelum suara sapaan seseorang mengalihkan tatapannya dari benda pipih yang di pegangnya.
" ra,
" Oh, Assalamualaikum! " sapa laura ramah mendongak ke arah sumber suara.
" wa'alaikumussalam, sendiri aja ?" tanya orang itu.
" sama lolita sama rania kog kak, kak andra sendiri ? Tanya laura.
Orang itu adalah Andra yang entah dari mana tiba-tiba saja menghampiri laura.
" aku sendiri, boleh duduk ?" tanya Andra.
Laura berfikir sejenak, dia adalah wanita bersuami bagaimana mungkin duduk berdua dengan laki-laki lain yang bukan makhromnya. Tapi untuk menolak juga tidak mungkin, ya sudahlah akhirnya laura mempersilahkan Andra untuk duduk di kursi yang berseberangan dengan kursinya.
" Gimana kabarmu ra ?" Tanya Andra.
" Alhamdulillah baik kog kak, gimana hubungan kak Andra sama Rania ?" laura balik bertanya.
Andra hanya menjawab dengan sebuah senyuman yang tak dapat di artikan.
" Kenapa kak ?" tanya laura lagi.
" ga kog ra, ga papa !"
" Apa kak Andra sudah membuka hati kak Andra untuknya ? tanya laura masih membahas tentang rania.
" Aku pasti akan membuka hatiku ra, tapi belum untuk saat ini, Rania gadis yang baik aku takut menyakitinya !" jawab Andra.
" sampai kapan kak ? sampai kapan kak Andra akan bertahan dalam harapan yang sia-sia seperti ini ? kak Andra berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik, lepaskan perasaan itu, !" pinta laura serius.
" tidak semudah itu melepaskanmu ra, bahkan ketika aku tahu kamu tak kan pernah bisa jadi milikku, !" lagi-lagi Andra memang belum bisa move on.
" Karena dia gadis yang baik, maka aku tidak ingin menyakitinya dengan menjadikannya pelampiasan cintaku padamu ra, dia juga berhak bahagia itulah kenapa aku melepaskannya, setelah beberapa hari mencoba mendekatinya aku semakin ragu membuka hatiku untuk gadis sebaik itu, aku takut mengecewakannya ra, !"
Tanpa di ketahui ternyata Rania telah kembali dari kamar mandi dan mendengar semua pembicaraan Andra dan Laura tentang dirinya. Entah perasaan apa yang saat ini dirasakannya. Sakit iya, tapi ada rasa bahagia ketika Andra masih memikirkan perasaanya. Tetap saja yang utama bagi Andra masihlah laura meskipun ia tahu bahwa laura telah menjadi milik orang lain.
Lolita yang baru saja kembali setelahnya terheran melihat rania yang telah menangis sesenggukan. Sekilas melirik apa yang tengah dilihat sahabatnya itu lolita menjadi penuh tanda tanya. Melihat yang disana itu adalah Andra dan laura, lalu apa hubungannya dengan rania.
" ran, loe kenapa ?" tanya lolita pada sahabatnya itu.
" lo..lolita...gue ga papa kog !" jawab rania gugup mengusap air matanya karena kepergok oleh lolita.
" loe jangan bohong ran, gue tahu dari tadi loe nangis disini, ada apa sih ?" Lolita masih penasaran.
" gue ga papa lol, !" lagi-lagi jawaban rania berbohong.
" terus kenapa loe disini ga gabung sama mereka ?" tanya lolita lagi terheran menunjuk kearah laura dan andra.
" gue nungguin loe, udah yuk sana !" alasan rania.
Lolita masih terheran dan yakin betul kalau ada yang di sembunyikan oleh sahabatnya itu darinya. Dan mungkin tebakannya benar kalau itu ada hubungannya dengan Andra dan laura.
" hai kak, udah lama ?" sapa lolita kemudian duduk bergabung bersama laura dan Andra sementara rania hanya mengikut di belakangnya.
" lumayan, !" jawab Andra singkat.
" gue kira loe berdua kesasar, ketoilet lama banget !" Gerutu laura kesal.
" lebay loe, baru juga beberapa menit !" sahut lolita.
Rania hanya terdiam sesekali melirik kearah Andra begitupun dengan Andra yang masih merasa bersalah terhadap gadis itu. setiap kali tatapan keduanya bertemu rania selalu menghindar, entahlah bagaimana perasaannya saat ini.
Lolita sedari tadi juga memperhatikan gerak gerik kedua orang itu. menurutnya ada yang janggal di antara mereka. Melirik ke arah laura yang hanya cuek bebek menikmati minuman yang ada di hadapanya. dan dapat di simpulkan bahwa ada sesuatu di antara andra dan rania.
" ra, udah buka tuh tiketnya, temenin gue yuk !" ajak lolita pada laura.
" gue aja lol, !" sahut rania berdiri dari duduknya.
" gapapa, gue sama laura aja ok !" lolita segera menyaut tangan laura untuk pergi bersamanya.
lolita yakin laura tahu sesuatu tentang Andra dan rania. Jadi dia membawa laura pergi untuk mengintrogasinya.
" pelan-pelan donk loe narik tangan guenya, lecet gue bilangin laki gue loe !" gerutu laura.
" ck, udah ach gue ga mood ngeladenin omongan ngaco loe, gue mau nanya serius! " decak lolita tak ingin berdebat dengan laura.
" apa ?" heran laura.
" loe pasti tahu sesuatu kan tentang Andra dan rania? tadi pas balik dari toilet rania balik duluan, dan pas gue balik dia udah nangis aja liatin loe berdua sama Andra, sebenarnya ada apa ?" terang lolita beserta pertanyaanya.
" Jadi dia denger omongan gue sama kak Andra ?"
Lolita hanya mengangkat bahu mengsyaratkan ketidaktahuan.
" jadi ada apa di antara mereka ?" tanya lolita lagi masih penasaran.
" Rania suka sama kak Andra sebelum kak Andra nembak gue malam itu,!" jawab laura.
" terus ? kenapa dia ga pernah cerita ke gue ?" Heran lolita karena selama ini rania tak pernah sekalipun menceritakan hal itu padanya meski mereka sering bersama.
" dia takut loe nganggep dia nusuk gue dari belakang, padahal loe tahu gue ga pernah ada rasa sedikitpun dengan kak Andra !"terang laura.
" Dan bodohnya lagi, kak Andra masih belum nyerah meskipun tahu kalau gue udah nikah! " imbuh laura.
Ada rasa kecewa dalam hati lolita. mengingat bagaimana kedekatan mereka sejak kecil tapi rania tak pernah sedikitpun menceritakan hal itu padanya. Juga rasa bersalah tak bisa menjadi pendengar saat sahabatnya itu butuh tempat untuk mencurahkan isi hatinya. Pasti sakit memendam rasa kepada orang yang tak pernah mengerti perasaannya, apa lagi dia tahu orang itu mencintai sahabatnya sendiri.