Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Tamu tak di undang



Lama tak memainkan kuas di atas kanvas tak membuat tangan laura menjadi kaku. justru tangannya semakin mahir memainkan kuas yang lama tak di sentuh itu. Laura lebih memilih melukis dengan perasaannya, mengikuti alur hatinya ketika melukis. Itulah mengapa lukisan laura selalu penuh dengan makna. Bahkan sebelum lulus kuliah ia sering terlibat menangani proyek besar bersama sang kakak. Karena menurut mereka laura adalah pelukis yang berbakat.


Yang menjadi obyek lukis laura kali ini adalah sebuah Al Quran dengan tasbih di atasnya yang di lengkungkan berbentuk hati. Sebagai wujud rasa syukurnya telah dipertemukan dengan cinta yang selalu mengingatkannya kepada penciptanya.


" slesai !" Ujar laura dengan bangganya.


Tak lupa laura mengambil gambar dari lukisannya untuk di post di sosmed miliknya yang sudah memiliki ribuan folowwers. Bukan apa-apa hanya saja laura ingin mengabadikan karya pertamanya di tanah air.


Sebuah foto dengan caption "semoga Allah selalu menjaga cintaku " berhasil di unggah di Instagram miliknya.


Belum sempat laura beranjak dari tempat duduknya, terdengar suara ketukan pintu yang mengalihkan perhatiannya dari lukisan indah itu. Melirik jam dinding yang ada di kamarnya menunjukan pukul setengah 3. Sudah tentu itu adalah sang suami yang datang. Dengan segera laura beranjak mencuci tangan dan membukakan pintu untuk sang suami.


" Assalamualaikum!" Salam ustadz A'ab begitu pintu terbuka mendaratkan satu kecupan di kening wanitanya yang tengah berdiri di ambang pintu itu.


" wa'alaikumussalam !" Jawab laura mencium tangan sang suami tak lupa dengan senyuman manisnya yang tak pernah pudar.


" gimana melukisnya hari ini ?" Tanya ustadz A'ab berlalu masuk kedalam rumah dan laura mengekor di belakangnya.


" lihat aja sendiri !" Jawab laura mengambil alih tas sang suami dan meletakkan pada tempatnya.


Ustadz A'ab tersenyum melihat lukisan sang istri yang ada di dalam kamarnya. Terbayang begitu bersemangatnya laura hari ini. Terlihat jelas dalam lukisan yang ia lukis menggambarkan bagimana perasaan gadis cantik itu ketika melukis.


" gimana ?" Tanya laura memeluk tubuh sang suami dari belakang.


Belum sempat ustadz A'ab menjawab suara ketukan pintu lebih dulu mengalihkan perhatian keduanya. Membuat laura bertanya-tanya tentang siapa yang datang. Karena tak biasa ada orang lain selain sang suami dan kedua orang tuanya yang datang kerumah itu. Sedangkan kedua orang tuanya juga tak pernah datang di jam segini. Biasanya pagi sebelum papanya berangkat kerja, atau sore ketika pulang kerja.


" biar aku buka !" Ujar ustadz A'ab.


" aku aja, kamu ganti baju dulu !" Ujar laura.


Ustadz A'ab menurut dan membiarkan sang istri untuk membuka pintu. Sementara itu dia mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian santai.


" Assalamualaikum!" Salam beberapa anak yang masih berseragam SMA yang di yakini laura adalah murid sang suami.


" wa'alaikumussalam!"jawab laura memperhatikan satu persatu murid yang di dominasi perempuan itu.


"Maaf bu, pak Aufanya ada ? kata pak Aufa kami boleh kesini kalau nilai kami diatas 90 !" Tanya seorang siswa dengan ramah.


What ??? Bu, di kira muka gue udah kaya emak emak, batin laura.


" siapa pak Aufa ?" Laura balik bertanya mengrenyitkan kening.


Belum sempat para siswa itu menjawab ustadz A'ab lebih dulu keluar dan menampakkan diri.


Laura hanya melongo melihat satu persatu anak SMA itu masuk kedalam rumah dan melewatinya. Sebelum sang suami mengikuti para siswanya itu lebih dulu laura menarik kaos sang suami dari belakang menghentikan langkahnya.


" apa-apaan ini huby, ngapain kamu ngundang bocah-bocah genit itu kerumah ?" Gemas laura sudah siap memakan sang suami dengan ganas.


" aku ndak ngundang, mereka datang sendiri!" Jawab ustadz A'ab santai.


"Awas aja kalau nanti genit-genit !" Ancam laura namun tak dihiraukan sang suami.


Ustadz A'ab justru merangkulnya masuk kedalam rumah dan bergabung dengan para muridnya yang sudah menunggu didalam sana. Sebelumnya memang ustadz A'ab yang telah mengetahui kalau yang datang adalah muridnya lebih dulu menggelar tikar dan menggeser kursinya ke tepi sehingga ruangan kecil itu masih muat kalau duduknya lesehan.


" Istri bapak memang cantik !" Puji salah seorang siswa perempuan bernama Alya.


" tentu, dia bukan hanya cantik tapi juga pandai melukis !" Jawab ustadz A'ab dengan santai namun cukup membuat hati laura menghangat.


" wah hebat sekali, bu..


" Jangan panggil gue bu, gue ga setua itu kali !" Sahut laura segera tak terima dengan panggilan murid sang suami.


" ibu memang masih muda dan cantik, tapi kan ibu istrinya pak Aufa jadi ya kita manggilnya ibu lah !" Jawab seorang murid bernama kania.


" pokoknya gue ga suka, panggil aja kak laura ok, dan satu lagi ga usah seformal itu sama gue, gue risi gue ini juga kakak kelas loe kali !" Cerocos laura yang membuat lelaki di sampingnya merasa gemas sementara para siswa yang ada disana terkekeh.


" iya dech boleh, kita juga bingung kalau harus ngomong sesopan ini, hee....!" Jawab eren cengengesan.


" laga loe, gue mah udah tau model kaya loe kaga bisa diem !" Celetuk laura.


" kaya kamu !" Sahut ustadz A'ab datar.


Lagi-lagi para murid disana terkekeh sementara itu sang suami hanya menggeleng melihat tingkah sang istri yang tak lebih dewasa dari para muridnya.


Laura mudah akrab dengan para murid sang suami. Apalagi dasarnya laura yang pecicilan sangat klop dengan Alya and the geng. Sementara sang suami lebih memilih menjadi penonton drama sang istri dan para muridnya.


Kedatangan para siswa SMA itu adalah untuk merayakan nilai ulangan harian mereka yang berubah drastis dari sebelumnya. Cara mengajar ustadz A'ab yang berbeda membuat semangat para siswa meningkat hingga bisa mendapatkan hasil yang sangat memuaskan. Awalnya mereka mengajak ustadz A'ab merayakannya dengan makan bersama di restoran mewah. Namun ustadz A'ab menolak karena ingin berbuka puasa bersama sang istri dirumah. Akhirnya para siswa berinisiatif untuk membawa makanannya kerumah dan ikut berbuka bersama pasangan suami istri itu. Sekaligus mereka begitu penasaran dengan sang istri yang selalu di sebutkan setiap saat itu.


" ga nyangka gue, istrinya pak Aufa gaul dan seru banget, gue kira bakal kalem dan lemah lembut gitu !" celetuk Eren mengacungkan ke dua jempolnya pada laura.


" Jangan salah, gue mah fleksibel, tergantung lawan !" ujar laura dengan bangganya.


" percaya dech kita kak, kan kita seperguruan !" celetuk Alya membuat semua tergelak.


Meski di sambut dengan tak mengenakan tapi akhirnya para siswa SMA itu puas bisa mengenal laura yang ternyata sangat menyesuaikan dengan mereka. Ditambah lagi dengan cerita dari perjalanan bagaimana kisah cinta kedua pasangan itu hingga bisa menikah. Menjadi inspirasi bagi mereka yang memang masih dalam masa penemuan jati diri.