Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Siapa dia



Rencana awal yang hanya 3-4 hari di Surabaya menjadi lebih dari satu minggu. Karena laura yang terus menolak kembali ke jakarta dengan berbagai alasan. Disini ada Aisyah dan fitri sebagai penghiburnya, sedangkan di jakarta lolita dan rania terlalu sibuk sehingga waktu bersamanyapun sudah tak seperti dulu lagi.


" kita pulang ya, mama pasti sudah kangen sama kamu !" bujuk ustadz A'ab pada sang istri.


" di jakarta aku pasti bakal kesepian kalau kamu lagi ada kajian !" jawab laura dengan wajah manyunnya yang membuatnya terlihat semakin imut.


" mama kamu anggap apa ? mama juga butuh kamu untuk menemaninya , anak-anaknya semua jauh dan kamu juga ndak mau pulang ?" ustadz A'ab terus mencoba memberi pengertian kepada sang istri.


Mendengar kata-kata sang suami membuat laura merasa egois dengan dirinya sendiri. suaminya saja yang jelas-jelas bukan anak kandungnya sebegitu memikirkan perasaan sang mama tapi dirinya sebagai anak kandungnya justru mengabaikan hal itu dan lebih memilih kesenangannya sendiri.


" Baiklah kita pulang, !" ujar laura akhirnya membuat sebuah senyuman terbit di bibir sang suami.


" Mandi dulu gih, biar aku yang nyiapin barang-barang kita !" ujar ustadz A'ab lembut pada sang istri.


" siap pak ustadz ! " jawab laura menghentakkan kaki dengan posisi hormat seperti hormat bendera.


Sementara laura bebersih diri ustadz A'ab membereskan barang-barang yang akan mereka bawa pulang ke jakarta. Terdengar beberapa kali ponsel laura berdering. Tak ingin terlalu mengurusi privasi sang istri ustadz A'ab hanya mengabaikan panggilan itu. membiarkan sang istri untuk membukanya sendiri nanti setelah mandi. Namun saat dirasa ponsel itu tak juga mau berhenti akhirnya ia pun mencoba meraih ponsel yang ada di atas meja kecil samping tempat tidurnya itu.


Ia tertegun sejenak melihat wajah si penelpon yang terpampang di layar ponsel itu. seperti seorang yang pernah di temuinya, dan setelah mencari-cari dalam ingatannya ustadz A'ab ingat bahwa pria itu adalah pria yang ia temui bersama sang istri satu minggu lalu saat di kafe sebelum berangkat ke surabaya. Dan satu lagi, pria itu juga datang di acara pernikahannya dan mengatakan akan membawa lari sang istri jika dia menyakitinya.


siapa dia ? apa laura memang ada hubungannya dengan pria ini ?gumam ustadz A'ab dalam hati.


Tak lama laura kembali dari kamar mandi dan melihat sang suami tertegun memegan ponsel berwarna pink miliknya.


" kenapa hub? ada yang telfon ?" tanya laura pada suami yang masih tertegun itu.


" siapa Andra ?" tanya ustadz A'ab tanpa basa basi.


Laura mengrenyitkan kening heran, mengingat beberapa hari lalu ketika mereka bertemu ia sudah mengenalkannya pada sang suami.


" kakak kelas aku, kan udah pernah aku kenalin saat di kafe waktu itu !" jawab laura seraya mengeringkan rambutnya yang masih basah.


" apa kalian pernah ada hubungan sepesial ?" tanya ustadz A'ab lagi membuat laura menghentikan aktivitasnya seketika menatap heran sang suami.


" kenapa tiba-tiba tanya seperti itu ? " heran laura mendekat kearah sang suami yang terlihat tengah memikirkan sesuatu tentangnya.


" ga, cuma tanya aja... !"


" apa yang telfon tadi kak Andra? apa kamu cemburu? " tanya laura yakin betul ada yang di sembunyikan sang suami darinya.


" iya, aku cemburu , dia pernah mengatakan akan membawamu lari dariku, apa itu artinya kalian pernah ada hubungan sepesial ?" ustadz A'ab mengulangi pertanyaan itu untuk kedua kalinya.


Laura tersenyum, bahagia dengan kecemburuan sang suami. setidaknya itu menunjukkan rasa cinta yang tulus dari seorang ustadz Abdurrahman kepada laura sabrina.


" kak Andra memang menyukai aku sebelum kamu, tapi cintaku ke kamu sebelum kak Andra mencintaiku, sampai saat ini dan Insya Allah selamanya, rasa itu tidak akan berubah !" tegas laura menggenggam kedua tangan suaminya menyiratkan tatapan kejujuran.


" dia hanya sedang dekat dengan rania, kalaupun dia telfon atau sms, pembahasan kami hanya sebatas itu, kamu percaya kan ?" Laura berharap suaminya mengerti di posisi apa ia saat ini. laura hanya ingin menyatukan kedua orang itu untuk sama-sama mendapatkan kebahagiaan mereka.


" aku pikir istriku ini terlalu cantik, sampai fansnya begitu banyak, tak kira sainganku cuma reza dan fauzy, ech ternyata ada satu lagi yang masih belum menyerah !" ujar ustadz A'ab mengacak rambut basah sang istri merasa gemas.


" baru nyadar ?" ujar laura yang mulai kepedean.


cup...satu kecupan di daratkan ustadz A'ab di bibir sang istri. tak tahan melihat ekspresi wajah laura yang di buat sok imut dan kepedean itu.


" mulai mesum ustadz ini !" geli laura mendorong tubuh sang suami hingga terpental ke tempat tidur.


" KDRT ini namanya, awas aja nanti malam !" ancam ustadz A'ab yang hanya di tanggapi juluran lidah oleh sang istri.


Acuh dengan ancaman sang suami laura kembali bersiap merapikan rambut dan membalutnya dengan hijab baby pink di padukan dengan long dress dark blue yang mempercantik penampilannya pagi itu.


" Lets go huby, !" teriak laura yang sudah siap di depan pintu kamar dengan rapi.


" beneran sudah tega ninggalin ibu ?" tanya bu khomsah yang tiba-tiba berdiri di belakang laura.


" sebenarnya laura masih betah disini bu, tapi mama udah kangen, !" jawab laura dengan polos.


" siapa yang ndak kangen sama anak secantik ini, ibupun pasti bakal kangen !" ujar bu khomsah membelai lembut kepala sang menantu.


" aa,...ibuk,!" laura berhambur memeluk tubuh wanita paruh baya yang mulai menjadi kesayangannya itu.


"jaga diri baik-baik, jangan lupa kabari kalau cucu ibu sudah jadi !" pesan bu khomsah yang membuat laura semakin berharap akan segera di berikan amanah itu oleh Allah swt.


" Do'akan ya bu, semoga di segerakan oleh Allah !" ujar laura penuh harap.


Sebuah senyuman cukup diberikan bu khomsah sebagai jawaban untuk mengamini harapan sang menantu. Meski baru 2 minggu menikah tapi laura berharap akan segera mendapatkan amanah itu dan tak ingin menundanya.


" sudah semua kan ra ?" tanya ustadz A'ab menghampiri ibu dan istrinya.


" udah kog, laura pamit dulu ya bu, ibu juga jaga diri baik-baik disini !" pamit Laura yang masih berat meninggalkan sang mertua seorang diri.


" A'ab juga pamit ya bu, nanti kalau sudah sampai tak kabarin !"


" Hati-hati ya,


" Assalamualaikum....


" wa'alaikumussalam


Ustadz A'ab dan laura segera berlalu setelah mencium tangan sang ibu. Meski dengan berat hati laura akhirnya menuruti permintaan suami dan kedua orang tuanya yang sudah tak sabar merencanakan bulan madu untuk sepasang pengantin baru itu.