Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
kedatangan om Reno



sesuai dengan permintaan kedua orang tuanya, hari ini bobi ikut pulang bersama kedua orang tua yang sempat hadir di acara wisudanya beberapa waktu lalu. Bukan tanpa alasan Reno meminta sang anak untuk kembali ke Indonesia, karena bobi adalah anak satu-satunya maka ia juga harus mulai mempelajari usaha dari keluarganya.


Reno dan Wina sudah tak sabar untuk menemui keponakan tercintanya yang saat ini telah menyandang gelar sebagai seorang istri itu. saking tak sabarnya kedua orang itu begitu sampai di bandara langsung menuju ke rumah sang kakak dan membiarkan anak semata wayang mereka membawa sendiri barang-barangnya kerumah. Bukan bobi namanya jika tak melayangkan protesan kepada kedua orang tuanya, tapi tetap saja kedua orang itu acuh pada setiap protesan dan ucapan sang anak.


" pengantin barunya mana mas, sepi banget rumahnya kaya kuburan ?" tanya Reno pada sang kakak begitu tiba di dalam rumah besar keluarga handika.


" mudik ke surabaya, tapi udah perjalanan pulang, sejak kapan kamu nyampe jakarta ?" Handika balik bertanya pada adik semata wayangnya itu.


" dari bandara langsung kesini, kangen sama anak wedok ech malah orangnya g ada !" jawab Reno menarik nafas lesu.


" lah, anakmu mana ? " kini ratih yang bertanya melihat adik iparnya itu hanya berdua bersama sang istri.


" nganter barang-barangnya kerumah dulu, ntar nyusul !" jawab reno yang di angguki semua orang disana.


sementara itu orang yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Sepasang pengantin baru yang sudah begitu dirindukan seisi rumah itu. Termasuk Reno dan wina yang sudah tak sabar bertemu dengan sang keponakan.


" Assalamualaikum, !" salam keduanya begitu sampai di rumah.


" wa'alaikumussalam,


" om Reno, !" pekik laura berhambur memeluk adik dari papanya meninggalkan sang suami yang berjalan bersamanya.


" anak gadis om sudah jadi istri kenapa masih manjanya kebangetan gini? " Reno membelai lembut kepala keponakan yang tengah memeluknya dengan erat itu.


Sementara sang suami yang tadi berjalan bersamanya berpamitan untuk meletakkan barang bawaan mereka ke kamar terlebih dahulu setelah lebih dulu mencium tangan para tetua yang ada disana.


" laura kangen sama om, om jahat banget sih ga dateng di acara nikahanya laura !" ujar laura dengan manja.


" kebiasaan kalau ada omnya lupa kalau punya bapak!" celetuk Handika mencibir.


" papa ga usah lebay dech, lagian laura udah lama ga ketemu om reno, kalau sama papa kan baru satu minggu ga ketemu! " sahut laura tak terima dengan cibiran sang papa.


" Alesan, mana pernah kamu sama papa gelayutan kaya anak monyet gitu, apalagi semenjak punya suami, beh....nempel sama suaminya mulu !" Cibir Handika yang hanya di balas delikan tajam oleh sang anak.


Sementara itu para istri hanya menggeleng mendengar drama para suami yang meskipun hanya saudara satu-satunya tapi tak pernah ada akur-akurnya itu. Ditambah lagi dengan laura yang juga selalu mendramatisir setiap kali bertemu dengan adik sang papa itu. Membuat suasana tak pernah tenang saat ketiga orang itu di persatukan.


" bobi ga ikut om ?" tanya laura kemudian setelah perang adu mulut bersama sang papa berakhir.


"gue disini, kenapa loe ? kangen sama gue ?" sahut bobi yang kebetulan baru saja tiba dan mendengar namanya di sebut oleh sang sepupu.


" gue mah ga kangen sama loe bob, gue cuma mau nagih kado dari elo !" jawab laura ketus.


" Baru aja yang tua diem, yang muda udah mulai lagi, kayaknya dirumah ini yang diem cuma menantuku dech !" Sahut ratih menepuk kepalanya pusing mendengar perdebatan yang tak ada hentinya itu.


" oh iya, ngomong-ngomong suamimu mana ndhuk ?" tanya Reno yang baru menyadari kalau ustadz A'ab belum juga bergabung dengan mereka setelah berpamitan meletakkan barang bawaannya beserta istri beberapa waktu lalu.


Laura yang juga baru menyadari itu langsung turun dari pangkuan Reno dan bergegas menemui sang suami. Takut terjadi sesuatu mengingat sudah lumayan lama sang suami pergi dan belum kembali.


Namun ke khawatiran itu tak terbukti karena setelah sampai di kamar melihat sang suami tengah duduk manis di atas sajadah menengadahkan tangan. Timbul perasaan hangat dan bahagia dalam hati laura. begitu bersukur mendapat suami yang begitu taat beragama dan tak meninggalkan sunnahnya meski dalam keadaan lelahnya.


" ngapain diam disitu ?" tanya ustadz A'ab melihat laura hanya terdiam melamun di depan pintu.


" ach....ga, kamu di cariin om Reno dan yang lainnya! " jawab laura tersentak dari lamunannya tentang sang suami.


" oh,...aku ganti baju dulu ya...!" ujar ustadz A'ab kemudian beranjak merapikan perlengkapan sholatnya.


Memang tak salah jika laura memilih menunggu dan mencari orang yang saat ini menjadi suaminya. Rasanya penantian itu terbayar sudah dengan begitu bahagianya ia mendapat suami orang sholih seperti ustadz A'ab.


" Terima kasih huby, terima kasih telah menungguku selama 4 tahun itu, !" Tak bisa menahan rasa bahagianya laura memeluk sang suami yang baru saja hendak mengganti pakaian dari belakang dan berkali-kali berucap terima kasih karena telah menunggunya waktu itu.


" hey, bidadariku ini kenapa tiba-tiba bersikap aneh seperti ini ?" heran ustadz A'ab membalikkan tubuhnya yang masih telanjang dada menatap sang istri.


" Jangan pernah tinggalkan aku huby, maafkan aku yang tak bisa sempurna menjadi istrimu !" ujar laura tulus menatap orang yang ada dihadapannya.


" kamu ini ngomong apa sih, kenapa tiba-tiba ngomongnya aneh seperti itu ? aku ini suamimu, tentu aku tidak akan meninggalkanmu kecuali jika Allah memang sudah berkehendak, maka tidak ada yang bisa aku lakukan !" selalu bisa memberi jawaban yang menenangkan bagi laura itulah yang membuat laura yakin bahwa pilihannya adalah tepat.


" ya sudah aku ganti baju dulu, keluargamu sudah menunggu di bawah,...!" ujar ustadz A'ab lagi menghapus bulir air mata haru yang menetes dipipi sang istri.


" satu lagi, sudah dewasa sudah punya suami lo, masak masih minta di peluk dan di pangku sama om reno sih, aku kan juga cemburu meskipun dia om kamu !" imbuh ustadz A'ab teringat sikap sang istri yang menurutnya berlebihan itu.


Laura terkekeh mendengar perkataan itu, memang benar ia sudah bersuami tapi saking dekatnya laura dan reno sampai laura suka lupa mengontrol diri saat bertemu dengan adik dari papanya itu.


" maaf om, tante, sudah menunggu lama, !" ujar ustadz A'ab begitu sampai di ruang keluarga dimana semua orang tengah berkumpul.


" akhirnya datang juga menantu om, sini duduk samping om !" ujar reno menggeser duduknya mempersilahkan ustadz A'ab untuk duduk di sebelahnya.


" pa, inget anak papa yang ini !" celetuk bobi tak terima dengan perhatian sang papa kepada sepupu iparnya itu.


" loe mah di buang kelaut aja bob, gampang kan !" sahut laura sekenanya membuat orang yang di maksud mendengus kesal.


Sementara itu reno dan handika sudah asik berbincang dengan anggota baru keluarganya itu tanpa memperdulikan anak dan keponakannya yang tak juga pernah akur seperti dirinya dan sang kakak. Sedangkan wina dan ratih tengah memasak untuk makan siang mereka semua.