Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Akhir sebuah cerita



Karena lahir di hari yang sama, acara aqiqah anak pertama kevin dan putri serta anak kedua laura dan ustadz A'ab pun di laksanakan dalam waktu yang bersamaan di kediaman keluarga Handika. Tak sedikit keluarga dan sahabat serta rekan kerja yang hadir dan memberi ucapan selamat sekaligus do'a untuk kedua bayi perempuan itu. Meski tak terlahir dari rahim yang sama, Nyatanya kedua bayi itu nampak seperti bayi kembar karena wajah mereka sangatlah mirip.


" Alhamdulillah, Terima kasih atas kehadiran bapak/ibu dan teman-teman semuanya untuk turut memberikan do'a kepada anak-anak kami, anak kedua sekaligus ketiga kami ini namanya siti khadijah, nama yang di berikan kakak kecilnya yang tak kalah cantik, berharap kalau suatu saat adiknya akan menjadi orang luar biasa seperti siti khadijah yang menemani perjuangan Rasulullah dalam menegakkan Agama Allah!" ucap ustadz A'ab di depan semua undangan.


" kalau anak perempuan kami ini namanya balqis khansa aulia, apalah itu artinya bisa tanya adik ustadz !" ucap kevin cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.


Acara aqiqah berjalan dengan lancar, kebahagiaan terpancar dari wajah setiap orang yang ada disana. Apalagi hari ini turut hadir pula anak-anak yatim yang sengaja di hadirkan untuk berbagi dan mendoakan kedua bayi mungil itu.


" Laura....!" pekikan yang tak asing di telinga laura.


" dari mana aja loe demit, kenapa baru kemari ? loe udah lupa sama gue ? sampai anak gue brojol udah tiga baru nongol ?" omel laura panjang kali lebar membuat wanita yang baru saja tiba dari luar negeri itu terkekeh geli.


" gue kangen banget sama loe ra, gila anak loe udah banyak banget gue baru mau nikah !" Rania memeluk sahabat yang lama tak bertemu itu dengan erat.


" loe mau nikah ? kapan?" tanya laura melepaskan pelukan sahabatnya itu karena merasa sesak.


" bulan depan, he...!" jawab Rania cengengesan.


" terus selama ini loe kemana ga pernah ngabarin gue juga hah?" tanya laura lagi masih kesal karena selama ini sahabatnya itu tak pernah ada kabar.


" sorry ra, gue sibuk banget, gue sebenarnya juga kangen sama loe, tapi mau gimana lagi, gue ga bisa pulang!" jawab Rania memelas mengharap pengertian sahabatnya itu.


" Alasan aja loe, dan loe juga kemana aja baru nongol loli ?" omelan laura beralih kepada sahabat yang satunya. meskipun sama-sama di jakarta tapi karena kesibukannya Lolita sangat jarang ada waktu untuk menemui laura. Tak heran jika laura akan mengomel saat bertemu kedua orang itu.


" sorry dech sorry, !"


Akhirnya setelah sekian lama tak jumpa karena kesibukan masing-masing ketiga sejoli yang sudah seperti saudara sejak kecil itu bisa berkumpul kembali di hari bahagia laura dan kevin.


" ra, jadi yo ozil sama fatimah ? bocah sekecil itu udah pinter dan bawel banget !" ujar reza menghampiri laura bersama fitri yang menggendong buah hatinya mengekor di belakang.


" kagak, gue ga mau jodoh-jodohin anak gue, loe pikir zaman siti nurbaya apa jodoh-jodohan, gue sama abinya aja kaga pake di jodohin !" tolak laura tegas.


" ayo lah ra, kalau ndak boleh fatimah boleh lah khadijah buat ozil ?" ujar reza lagi masih belum menyerah.


" sebenere kamu mau anak e opo ibuk e toh za ?" ustadz Farhan membuka suara.


" ustadz ini lagi-lagi ikut-ikut aja !" dengus reza kesal.


" la wong kamu, laura udah bilang ndak mau masih maksa, pakai minta ganti khadijah lagi, mbok yo terima nasip, kalau memang ndak bisa bersatu sama ibunya yo sudah wong bukan jodoh !" celetuk ustadz farhan panjang kali lebar membuat reza semakin mendengus kesal.


Mungkin ada benarnya kalau rasa kagum reza masih tersisa pada wanita cantik yang pernah membuatnya tergila-gila itu. Tapi rasa cintanya terhadap fitri juga sudah tak bisa di ragukan, karena semenjak menjadi istri dan ibu dari anaknya rasa cinta reza terhadap fitri semakin hari semakin bertambah pada wanita yang telah menjadi istrinya itu.


Para tamu undangan telah kembali kerumah masing-masing. Begitupun laura dan ustadz A'ab beserta ketiga kurcacinya yang langsung kembali pulang kerumah bersamaan dengan para tamu yang berlalu.


" Assalamualaikum aby !" salam Laura menghampiri sang suami yang tengah sibuk membolak balik buku tebalnya di ruang keluarga.


" wa'alaikumussalam, sini sayang !" ustadz A'ab menutup buku tebalnya, meletakkannya di atas meja dan menepuk sisi sofa sebelah kanannya.


Laura melangkah, bermanja di pelukan sang suami adalah posisi ternyamannya. Apalagi disaat lelah yang begitu terasa seperti saat ini. Rasanya tak ingin sedikitpun bergeming dari sisi pria tersayangnya itu.


" Anak-anak sudah tidur ?" tanya ustadz A'ab membelai lembut kepala sang istri.


" emmmm....


Hanya sebuah anggukan yang diberikan laura. Matanya sudah terpejam dengan nyaman bersembunyi di dada bidang ternyamannya itu.


" cape ?" tanya ustadz A'ab lagi.


" hmmm...


Dan lagi laura hanya menjawab dengan anggukan dan mata terpejam.


" maafkan aku belum bisa banyak membantumu, masih sering membuatmu lelah mengurus rumah dan anak-anak kita seorang diri, maafkan kekurangan ini ra !" ujar ustadz A'ab membelai lembut rambut panjang sang istri yang tergerai indah malam itu.


Laura beranjak dari posisi ternyamannya. Mendongak menatap dengan tulus orang yang ada di sampingnya. Senyum kecil di berikan laura. cukup membuat hati ustadz A'ab menghangat dan tentram. Meski menurut penilaian orang laura bar-bar dan pecicilan tapi bagi ustadz A'ab laura adalah istri yang sempurna.


Laura lahir dari keluarga kaya raya dan terbiasa di manja. Tapi Nyatanya saat ini meski dengan hidup yang sangat sederhana dan apa adanya laura mampu melakukan semua tugasnya sebagai istri sekaligus ibu dari ketiga anaknya seorang diri. Sejak pertama itulah yang menjadi daya tarik ustadz A'ab memperjuangkan dan menunggu cintanya terlepas dari nama mereka yang memang telah tertulis di lauhil mahfudz.


" ustadz, suamiku sayang dengarkan aku !" ucap laura tulus menatap sang suami. Begitupun dengan ustadz A'ab yang membalas tatapan itu dengan penuh cinta.


" bohong kalau aku ga lelah, Tapi aku bahagia, aku bahagia bisa mengurus rumah dan anak-anak kita, jika fatimah seorang putri Rasulullah saja harus melakukan semua pekerjaanya seorang diri, siapa aku ini by ? aku hanya wanita biasa, derajatku tidak setinggi beliau, apa iya aku masih pantas untuk mengeluh lelah sedangkan aku tak harus menumbuk dan mangayak biji gandum seperti apa yang selalu di lakukan fatimah ?" ucap Laura tulus menggenggam kedua tangan sang suami meyakinkan.


Ustadz A'ab tersenyum dan kembali membawa wanita cantik yang telah melahirkan ketiga anaknya itu kedalam pelukannya.


" Alhamdulillah, Aku memang bukan manusia yang sesempurna nabi , aku juga bukan suami yang seperti Ali bin abi thalib, tapi aku akan selalu berusaha untuk menjadi suami sekaligus Imam yang baik untuk keluarga kita ra !" ucap ustadz A'ab tulus membelai lembut rambut sang istri dan semakin mengeratkan pelukannya. Menyalurkan rasa cinta sekaligus syukur atas nikmat yang begitu luar biasa yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya.


"Aamiin !"


Tak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Hakikatnya bukan bahagia yang akan membuat kita menjadi manusia yang bersyukur. Tapi Bersyukurlah yang membuat kita bahagia.


Menangislah, mengeluhlah, setelah itu pasrahkan semua urusan pada dzat yang Maha memiliki alam semesta dan seluruh isinya. Sesungguhnya Dialah (Allah) solusi dari segala urusan kita. Dan Dialah ( Allah) sebaik-baik dzat tempat kita memohon dan meminta pertolongan. Semua berasal dariNya dan pasti akan kembali padaNya.


-------------END----------------