Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
terlambat ngidam



Akhir-akhir ini laura mulai kesulitan untuk tidur nyenyak di karenakan perut yang semakin membesar. dalam semalam entah berapa kali beralih posisi sampai terkadang sang suami mengalah untuk tidur di bawah agar sang istri bisa lebih leluasa bergerak.


Malam ini laura tidur lebih awal tanpa menunggu sang suami menyelesaikan pekerjaan yang masih tersisa dan harus di kerjakan dirumah. Tak seperti biasa ia pasti akan menunggu sang suami dan memintanya mendongeng sirah shahabi sampai dirinya terlelap. malam itu kantuknya sudah tak tertahan dan ia lebih memilih untuk pergi tidur terlebih dahulu selepas sholat isya.


Lepas menyelesaikan pekerjaannya ustadz A'ab menghampiri sang istri yang telah terlelap. Di pandangnya wajah cantik yang telah menemaninya selama lebih setahun itu dengan lekang. Teringat pertama kali bertemu dengan wanita cantik itu, tak sedikitpun terbayang dalam hidupnya bisa bersatu dengan wanita pertama yang membuat hatinya berdebar yang mungkin orang menyebutnya dengan cinta itu. Pandangan itu kemudian beralih pada perutnya yang kian hari kian membesar dan membuat wanitanya itu semakin sulit untuk bergerak. Terbesit rasa iba, namun juga tak ada yang bisa di lakukan selain berusaha menghiburnya agar lelah itu tak terasa.


" yang tenang di dalam perut umy ya nak, jangan buat umi kerepotan !" ujar Ustadz A'ab mengecup perut besar sang istri sebelum akhirnya ikut membaringkan tubuh lelahnya di samping sang istri.


Baru saja matanya terlelap tiba-tiba laura sudah dengan heboh membangunkan sang suami. membuat ustadz A'ab segera membuka matanya dengan lebar karena panik takut terjadi sesuatu dengan sang istri.


" kenapa sayang ? ada yang sakit, dedeknya nendang ? kenapa ?" panik ustadz A'ab mengelus semua bagian tubuh dari sang istri dengan nyawa yang masih belum genap.


" aku lapar, !" jawab laura dengan wajah memelas.


" oh, ya udah aku ambilkan makanan ya !" ujar Ustadz A'ab dengan lembut turun dari tempat tidurnya.


" aku mau makan lontong sayur, !" Laura mencekal tangan sang suami yang hendak melangkah.


Ustadz A'ab melirik jam dinding yang ada di kamar mereka menunjukkan pukul sebelas malam. Mana ada jam segini lontong sayur batinnya. Apa ini yang dinamakan ngidam ? padahal selama ini laura tak pernah sekalipun meminta hal yang aneh dan ini tiba-tiba hampir tengah malam meminta makanan yang tidak ada pada jamnya.


" aku pengen banget by !" ujar laura dengan tatapan memohon.


" tapi ini sudah malam ra, mana ada lontong sayur jam segini ?"


" pokoknya aku pengen !" kekeh laura yang saat ini sudah meneteskan air mata di pipi cubynya yang semakin mengembang.


" loh ko nangis sih ra, oke dech kita cari sampai ketemu kalau gitu !" Ustadz A'ab selalu panik setiap kali laura tiba-tiba menangis seperti itu dan itu adalah hal yang sangat ingin ia hindari selama ini karena penanganannya lebih susah dari pada menenangkan santri yang sedang kesurupan.


" kamu pakai jilbab dulu ya, aku panasin mobilnya !" ujar Ustadz A'ab lembut menyeka air mata di pipi sang istri yang belum juga berhenti mengalir.


" nangisnya udah ya, kasian dedeknya, kita cari lontong sayurnya sampai ketemu ya !" imbuh ustadz A'ab lagi mengingat tak ada sahutan dari sang istri dan air mata terus mengalir dipipinya.


Meski dengan lelah dan kantuk yang begitu berat ustadz A'ab tetap berusaha menjadi suami siaga untuk sang istri. Apalagi ini baru pertama kalinya laura menginginkan hal yang aneh. ia tetap berusaha menuruti entah apa hasilnya nanti.


Entah sudah berapa jauh perjalanan mereka mengelilingi kota. Tak satupun pedagang lontong sayur di temukan sampai di tengah malam. Laura yang dari tadi bersemangat sampai kembali terlelap dalam perjalanannya.


" inikah yang dinamakan ngidam ? maaf ya ra, aku belum bisa menemukan apa yang kamu inginkan !" ujar Ustadz A'ab membelai lembut kepala sang istri yang telah terlelap bersandarkan bahunya.


Karena tak kunjung menemukan apa yang di inginkan sampai jam 2 dini hari akhirnya iapun memutuskan memutar balik mobilnya dan kembali pulang toh laura juga sudah terlelap dan tak mungkin juga ia menemukan pedagang lontong sayur di malam yang selarut ini.


Adzan subuh berkumandang, laura melirik ke samping tempatnya berbaring. Melihat sang suami tak berada disana membuatnya segera beranjak dan mencari dimana keberadaan pria tercintanya itu.


" aku pasti sudah membuatmu kelelahan semalaman, maaf aby !" ujar laura lembut mengecup pipi sang suami yang masih terlelap diatas sajadahnya.


" kamu sudah bangun? maaf aku belum menemukan lontong sayurnya!" sesal ustadz A'ab masih mencoba mengumpulkan separuh kesadarannya.


Laura tersenyum mendengar perkataan sang suami. sejatinya ia sendiri tak tahu kenapa tadi malam ia begitu menginginkan makanan yang tak mungkin di temukan di tengah malam itu. padahal saat ini juga ia sudah tak menginginkannya.


" sholat subuh dulu yuk !" ajak laura lembut.


" cium dulu !" ujar Ustadz A'ab bermanja menunjuk bibirnya dengan telunjuk.


" beneran aby mau di cium disitu ?" tanya laura dengan tatapan jahilnya.


" ga jadi dech, ayo sholat !" ustadz A'ab segera bangun dari tempatnya berbaring dan berlari ke kamar mandi.


Melihat tatapan jahil itu ustadz A'ab lebih memilih untuk mundur. karena sudahlah pasti bisa di tebak seperti apa nasipnya nanti saat jiwa jahil laura keluar.


" by, !" ucap laura menghentikan lantunan ayat suci Al Qur'an yang di baca sang suami lepas sholat subuh.


" kenapa sayang ?" tanya ustadz A'ab lembut.


" aku pengen masakannya ibu !" jawab laura yang lagi-lagi dengan memelas.


" ya udah sabtu aku jemput ibu ya, biar masakin kamu !"


" ko malah ibu yang kesini sih, kan kasian aby ibu sudah tua !"


" terus kamu maunya gimana? perut kamu juga udah sebesar ini masa iya kita mau ke surabaya, ibu pasti mau ko kesini buat nemenin kamu !" ujar Ustadz A'ab selembut mungkin tak ingin membangunkan sisi sensitif sang istri.


" tapi aku juga kangen sama fitri sama aisyah !" ujar laura mulai menunjukkan mata berkaca-kaca.


" sementara ini vidio call dulu ya, sabar sebulan lagi dedeknya kan lahir !" ujar Ustadz A'ab membawa sang istri yang sudah siap menumpahkan air matanya itu kedalam pelukannya.


" ingat, sekarang bukan hanya memikirkan diri kamu sendiri, ada malaikat kecil kita di dalam sini yang harus kamu jaga !" tutur ustadz A'ab lagi memberi pengertian pada sang istri.


Sejujurnya laura sangat ingin pergi ke surabaya tapi dengan kondisi yang seperti ini memang tak memungkinkan baginya. Dengan terpaksa ia harus menunggu sampai anaknya lahir nanti agar bisa bertemu dengan kedua sahabat dan ibu mertuanya yang berada di surabaya.