Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Tentang cinta



Berputar seharian di Mall memang menjadi hal yang paling menyenangkan bagi laura. Meskipun melelahkan tapi rasanya sangat bahagia. Apalagi dia memborong banyak makanan dan barang untuk teman-teman sekamarnya di pesantren atas izin dari om dan Tante nya membuat kebahagiaan laura semakin bertambah.


" makasih ya om, tante , bobi, udah nyempetin jenguk laura !" ujar laura tulus setelah sampai di gerbang pesantren.


"Kenapa ga nginep rumah tante aja sih ra ?" ujar Wina melihat wajah lelah keponakan nya itu.


" Laura ga mau ketinggalan ngaji tante, kapan-kapan aja kalo libur!" jawab laura dengan senyum manisnya tak ingin mengecewakan kedua orang itu.


Dari tadi memang Wina dan Reno sudah membujuk laura untuk menginap dirumahnya yang tak jauh dari pesantren. Namun laura terus saja menolak dengan alasan tak ingin ketinggalan mengaji. kedua orang tua bobi hanya bisa pasrah dengan keputusan keponakan ya itu.


" salam buat cowok idaman loe ra !" ujar bobi menggoda laura membuat wajah cantik itu berubah masam.


" bodo.., udah pulang sono loe !" usir laura kesal membuat bobi tertawa puas melihat kekesalan sepupunya itu.


Laura berlalu setelah mencium tangan om dan Tante nya dan mendaratkan satu jitakan pada adek sepupu yang dari tadi tak puas menggodanya itu. Mengingat waktu yang sudah Sore dan dia harus segera bersiap untuk kegiatan mengaji di pesantren.


" wah, opo wae iki ra ( apa aja ini ra) ?" tanya Fitri melihat banyaknya paper bag yang tergeletak tepat di tengah-tengah lantai kamar.


" yang di kantong plastik makanan buat kita semua, yang di paper bag ambil satu-satu tadi di beliin om sama tante !" ujar laura seraya mengambil handuk dan baju ganti dari dalam lemari bersiap untuk bersih diri.


" wah baik banget om sama tante kamu ra !" puji salah satu teman sekamar laura yang di angguki anggota kamar yang lain.


Bukan hanya laura yang bahagia hari ini kedatangan om dan tante serta sepupunya. Tapi semua teman sekamar laura juga ikut bahagia karena mendapatkan oleh-oleh dari keluarga gadis cantik itu.


Malam ini laura dan teman sekamarnya tidak makan masakan yang ada di dapur pesantren karena sudah mendapat banyak makanan enak dari laura. Mereka begitu bahagia, bahkan ada beberapa anak yang memang belum pernah makan apa yang di bawakan laura. Melihat itu ada kebahagiaan tersendiri di hati laura bisa berbagi dengan mereka yang memang membutuhkan.


" sering-sering di sambang ra, mben mangan enak terus (sering-sering di jenguk ra, biar makan enak terus) !" ujar fitri tanpa malu dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


" iyo ra, enak banget tuku nyang endi ( iya ra, enak banget beli dimana )? imbuh arumi yang juga begitu menikmati makanan dari laura.


" udah makan aja, !" jawab laura menampilkan senyum bahagia.


Laura mengakhiri makanya terlebih dahulu dan bersiap untuk mengaji yang setiap Bakda isya' di laksanakan di aula samping ndalem bersamaan dengan santri putra yang hanya terpisah satir kayu yang tingginya sebatas dada. Tak heran sebelum mendaratkan pantatnya di lantai banyak santri putra yang memanfaatkan kesempatan melirik kearah santri putri begitupun sebaliknya.


" stt **....laura..., sssttt.....!" melihat keadaan masih sepi, dan baru laura dan fitri yang duduk di bagian santri putri membuat reza tak ingin melewatkan kesempatan emas itu.


Laura yang sudah bisa menebak bahwa itu adalah suara penggemar beratnya hanya acuh dan fokus pada kitab tipis yang ada di tanganya.


" Laura. ...sssttt. .....!" Reza bukan orang yang mudah menyerah begitu saja.


" sat set, sat set ....niat ngaji opo mbedo cewek ( niat ngaji apa nggodain cewek) ?" ujar seseorang yang saat ini sudah berhasil meraih telinga reza yang dari tadi mendongak ke tempat santri putri berada.


"awww,,,,sakit ustadz, !" jerit reza kesakitan membuat Laura yang dari tadi enggan menanggapi laki-laki itu menoleh penasaran.


Laura dan fitri terpingkal begitu mengetahui orang yang dari tadi menggodanya sudah berada pada tangan yang tepat. Ya, siapa lagi kalau bukan ustadz A'ab yang ternyata malam ini di tugaskan abah untuk menggantikan beliau karena ada tausiyah mendadak di desa terangga.


" sukur kue za, hahahahaha! " umpat fitri dengan tawanya yang berkali-kali tos dengan laura merasa puas.


" Ehem...


suara deheman khas yang dengan seketika bisa menutup mulut para santri yang masih ramai dengan tawa. Dengan segera semua santri membuka kitab dan menyiapkan bolpoin untuk maknani kitab yang masih gundul. Laura yang memang belum bisa, biasanya hanya mengikuti sekaligus mendengarkan saja tanpa mengoret-oret kitab mulus miliknya.


Ustadz A'ab mengartikan satu persatu kata dan menjelaskan apa yang terdapat dalam kitab itu. Kebetulan bab yang di terangkan malam ini adalah bab kehidupan setelah menikah membuat para santri yang memang menuju dewasa itu menjadi sangat antusias mendengarkan. Apalagi dengan bawaan ustadz A'ab yang terkadang membuat lelucon di tengah penjelasannya.


" Dari tadi ustadz ngomong segitu banyaknya, emang ustadz udah pernah nikah ?" tanya laura polos usai penjelasan berakhir.


pertanyaan yang membuat para santri yang mulai riuh menjadi terdiam menatap laura heran.


Astagfirullah hal adziiim, apa anak ini terlalu polos atau bagaimana ya Allah ? batin ustadz A'ab menghela nafas panjang.


"Sekarang saya balik bertanya, kalau saya menerangkan tentang kehidupan setelah kematian apa saya juga perlu mati dulu ?" Ustadz A'ab membuka suara yang lagi-lagi di sambut tawa oleh para santri.


Laura berfikir mencerna pertanyaan yang barusan di lontarkan ustadz A'ab dan akhirnya mengangguk mengerti membuat ustadz A'ab bernafas lega karena tidak perlu lagi panjang lebar menjawab pertanyaan konyol itu.


"ustadz lagi !" kembali laura mengangkat tangan membuka suara.


Suara yang membuat ustadz A'ab ingin sekali rasanya berteriak TIDAK tapi tidak mungkin dilakukan karena memang sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang guru memberikan penjelasan kepada yang memang belum tahu. Dan akhirnya satu anggukan cukup membuat mata laura berbinar.


" Dalam islam kan ga ada pacaran ustadz, tapi bagaimana kalau jatuh cinta ? bagaimana cara mengenal orang yang kita cinta dan dekat denganya kalau tanpa pacaran ?"


Pertanyaan yang sukses membuat Sorakan semakin riuh tertuju pada laura. Dan satu lagi pertanyaan ini membuat wajah sang ustadz merah, hampir saja kejang dengan pertanyaan yang bahkan dia sendiri belum pernah merasakannya.๐Ÿ˜Š


" kamu mau curhat opo tanya sih ra ?"bisik fitri kepada sahabat yang sedang menantikan jawaban itu.


"tanya lah, kan memang aku penasaran dengan itu!" jawab laura yang memang polos dan lugu.


" Baiklah, mau di jawab sekarang di depan teman-teman apa secara pribadi ?" Lagi-lagi bukan jawaban yang di berikan ustadz A'ab melainkan pertanyaan ulang.


" idich, bukanya ga boleh ustadz berduaan kalo belum nikah ? ko ada jawaban pribadi segala ?"


Astagfirullah hal adziiim, sabar ab sabar ! Lagi-lagi ustadz A'ab beristighfar dengan pertanyaan laura yang begitu polos nya.


" Laura Sabrina, jatuh cinta itu fitrah yang memang di hadirkan Allah dalam diri manusia jadi sah-sah saja, terus bagaimana kita mengenal orang yang kita cintai sementara dalam islam tidak di perbolehkan pacaran ? bukankah kita punya Allah yang Maha menghadirkan cinta? lalu apa yang perlu kita lakukan ? ya mendekatkan diri pada yang menghadirkan cinta, untuk menjaga cinta kita mendekatkan dengan orang yang kita cinta kalau memang dia di takdirkan untuk kita, kalau tidak? berarti Allah punya rencana yang lebih indah daripada itu, !" Terang Ustadz A'ab panjang kali lebar yang hanya di tanggapi anggukan oleh si penanya.


"dan satu lagi, cinta kepada ciptaan Allah jangan sampai melebihi Rasa cinta terhadap penciptanya! " pungkas nya kemudian.


Laura telah bersiap mengangkat tangan untuk kesekian kali setelah puas mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, tapi segera di tahan oleh fitri mengingat waktu yang sudah kelewat batas karena pertanyaan-pertanyaan yang terus saja di lontarkan laura. Sedangkan santri lain hanya menjadi pendengar kedua orang itu.


"wes ra, mene meneh ( sudah ra, besok lagi)!"


Laura hanya mengeluarkan dengusan pasrah saat harus menahan rasa penasaran yang masih menumpuk dalam benaknya .


(jangan lupa like ya man teman๐Ÿ˜Š)