Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Takdir



Beralih dari obrolan ngelantur sang istri semalam. Ustadz A'ab mencoba menyingkirkan fikiran negatif dari dalam hatinya dan fokus pada tujuannya hari ini menemani sang istri untuk cek up yang terakhir sebelum menyambut kelahiran buah cinta mereka. Laura sudah nampak cantik menunggu sang suami di meja makan bersama sang mertua. Laura begitu bersemangat pagi ini ingin mengetahui bagaimana kesiapan anaknya di dalam sana untuk bertemu dengannya nanti.


" sarapan dulu ya by, !" ujar laura lembut mengambilkan makanan untuk sang suami.


sementara ustadz A'ab menatap lekang wajah sang istri yang pagi ini nampak bersinar dan begitu cantik. Membuatnya merinding mengingat ucapan laura semalam. Namun dengan segera ia beristighfar dan menepis pikirannya.


" Aby kenapa sih ko ngelamun terus?" tanya laura lembut.


" ndak papa, kalau sudah selesai ayo berangkat keburu siang!" ujar ustadz A'ab mencoba setenang mungkin meski hatinya tengah gelisah.


Bu khomsah hanya menggeleng melihat tingkah anak semata wayang yang pagi ini terlihat aneh itu. Padahal istrinya terlihat sangat bersemangat menyambut harinya.


Karena masih pagi laura kebagian giliran awal dan bisa langsung masuk begitu sampai di rumah sakit. Dengan antusias laura menanyakan bagaimana kondisi bayi yang ada di dalam kandungannya.


" Jadi dokter, bagaimana kondisi anak saya?" tanya laura.


" sepertinya bayi bu laura sudah tak sabar ingin bertemu dengan ibunya, sudah masuk panggul siap untuk di lahirkan !" jawab dokter itu dengan senyum manisnya membuat laura juga ustadz A'ab tersenyum lega mendengarnya.


" ibu tidak ingin mengetahui jenis kelaminnya?" imbuh dokter itu lagi bertanya pada laura.


" yang penting sehat dokter, kami ingin itu menjadi kejutan !" Jawab laura dengan segera.


Dokter tersenyum dan memberikan beberapa resep untuk persiapan nutrisi laura menjelang persalinan yang tinggal 2 minggu lagi. Setelah itu mempersilahkan calon orang tua baru melanjutkan aktivitas selanjutnya.


Tujuan laura setelah ini adalah membeli beberapa perlengkapan untuk sang buah hati yang belum sempat terbeli beberapa waktu lalu ketika mereka berbelanja. Dengan sabar ustadz A'ab berusaha untuk tetap siaga di samping sang istri. mengekor kemanapun istrinya berjalan. Meski dengan perut membesar laura masih sangat lincah dan sering membuat sang suami kehilangan jejak.


" Aby, aku mau ke toilet sebentar ya !" pamit laura.


" Aku ikut dech, tak tungguin di depan !" jawab ustadz A'ab dengan begitu posesif.


" Aby, aku hanya ke kamar mandi kenapa pakai di tungguin sih, aby tunggu sini aja, aku cuma sebentar !" protes laura segera meninggalkan pria tersayangnya yang mendadak posesifnya kebangetan itu.


" tapi sayang,..


" stop aby disitu aja !" peringati laura dengan tegas.


Ustadz A'ab hanya mendengus pasrah jika istrinya sudah mengatakan begitu. Tapi entahlah hari ini rasanya ia benar-benar tak ingin melepaskan laura seorang diri meski itu hanya sebentar saja bahkan untuk ke kamar mandi.


" Lindungi istriku ya Allah !" Doa ustadz A'ab yang merasa hatinya semakin tak tenang.


Sementara disisi lain, Laura baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang terlihat begitu segar setelah berwudlu dan mencuci muka. Dengan segera laura melangkah kembali menemui sang suami yang dari tadi posesifnya kebangetan itu. Namun baru selangkah kakinya melangkah seseorang tiba-tiba menutup matanya dari belakang dan mengunci kedua tanganya.


" Astaghfirullah hal 'adziim, lepaskan siapa ini ?" laura mencoba melepaskan diri dari cengkeraman orang yang terus saja menyeretnya entah kemana.


Namun tanpa suara orang itu terus membawa laura hingga sampai di sebuah ruangan kedap suara yang tak jauh dari kamar mandi. Mengunci pintu rapat-rapat agar yak seorangpun tahu apa yang tengah ia lakukan kepada laura.


Sementara Andra yang baru saja mengunci pintu melangkah dengan tenang mendekat kearah laura yang terus berjalan mundur menghindarinya. sampai akhirnya berhasil memojokkan laura pada sisi tembok dimana laura sudah tak bisa lagi berjalan mundur. Laura amat ketakutan, bertanya-tanya sebenarnya apa yang di inginkan pria itu.


" Semakin hari kamu semakin cantik ra, aku tak tahan melihatnya !" ujar Andra dengan tatapan nakal mulai mengunci laura agar tak bisa lari darinya.


" lepasin kak, mau kak Andra apa ?" teriak laura dalam ketakutannya karena wajah Andra sudah semakin dekat dengan wajahnya.


Ingin sekali ia mendorong tubuh yang mengunci geraknya itu untuk menjauh tapi ia terlalu lemah. Apalagi dengan kondisinya yang tengah hamil besar seperti ini. Laura hanya bisa berdo'a semoga suaminya lekas menemukannya disini.


" Aku menginginkanmu ra, aku tidak bisa menahannya lagi, !" Andra mulai berani menyentuh wajah mulus laura dan semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah laura.


" itu bukan cinta kak, kak Andra hanya bernafsu memiliki tubuhku !" tangis laura akhirnya pecah karena dia tak bisa melakukan apapun dengan kondisinya sekarang. Ia benar-benar dalam ketakutan yang teramat sangat.


"hemh !" Andra tersenyum nakal.


Andra sudah mendekatkan bibirnya ke wajah laura hampir saja bersentuhan sebelum akhirnya seseorang melemparkan pukulan keras dari arah belakang membuatnya tersungkur ke lantai.


" beraninya kamu menyentuh istriku!"


Ia orang itu adalah suami laura yang dari tadi mencemaskan istrinya yang tak kunjung kembali dari kamar mandi. setelah mencarinya di kamar mandi namun ia tak menemukannya malah menemukan kalung laura yang terjatuh di depan ruangan itu sementara ruangan itu terkunci rapat. Sampai akhirnya ia memanggil petugas untuk membukakan ruangan itu untuknya.


" Aby aku takut !" ujar laura segera memeluk prianya itu dengan rasa yang tak bisa di utarakan.


" Aku disini sayang, !" ustadz A'ab mencoba memberi ketenangan pada sang istri yang kini sudah berada di dalam pelukannya itu.


Sementara Andra yang bangkit dari tempatnya tersungkur menatap pasangan suami istri itu dengan senyum kecut.


" Istri, aku sangat iri padamu ustadz karena kau mempunyai istri secantik itu, aku lebih dulu menginginkannya, tapi wanita itu malah memilihmu!" ujar Andra dengan tatapan sinis.


" cinta seperti apa yang justru berniat mencelakakan orang yang di cintai !" balas ustadz A'ab sama sinisnya.


Sementara laura dalam ketakutannya mengeratkan pelukannya pada sang suami. Rasa bersalah muncul dalam hatinya karena ada orang lain yang berhasil menyentuhnya selain sang suami.


Andra kembali tersenyum kecut dan melenggang melewati sepasang suami istri itu. Laura mulai bisa bernafas lega karena pria itu tak kembali nekat. Tapi belum sempat laut mengurai pelukannya dari sang suami tiba-tiba saja Andra berbalik dan menyiapkan kepalan yang dirasa laura pasti akan di lempar kearah sang suami dengan segera laura menghalanginya dengan membalik tubuh sang suami hingga dialah yang terkena pukulan itu dan tersungkur ke lantai.


" Laura...!" teriak ustadz A'ab melihat sang istri tersungkur keras ke lantai.


Sementara itu petugas keamanan toko yang tadi telah di panggil beberapa karyawan karena mendengar keributan segera mengamankan Andra.


Ustadz A'ab semakin panik ketika melihat darah mengucur di kaki laura. Dengan segera ia membopong tubuh mungil yang kini berisi anaknya itu berlari keluar.


" pak, tolong kemudikan mobil saya, saya harus cepat membawa istri saya !" ujar ustadz A'ab pada salah satu pengunjung memohon melihat mata laura yang hampir saja terpejam dengan darah yang tak henti menetes.


Ketakutan itu seperti menjadi nyata. Apa yang semalam menjadi ketakutannya seperti benar-benar terjadi. Meski begitu ia masih berharap bahwa takdir Allah berbeda dengan apa yang ada dalam kekhawatirannya. Ia masih berharap laura akan berjuang untuk menemaninya bersama-sama membesarkan buah hatinya nanti.