Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Hari pembalasan



Hari yang di tunggu-tunggu telah tiba. setelah melalui proses yang lumyan rumit sidang ulang itupun akhirnya jadi di laksanakan hari ini. Di dalam ruangan yang memang di khususkan untuk menyelesaikan perkara para santri kini telah berkumpul semua orang yang terlibat di dalam perkara fitnah yang di alami laura.


"Bismillah, mohon maaf semuanya jika saya harus minta sidang ulang ini, bukan karena saya membela laura tapi yang perlu kita kaji saat ini adalah barang bukti yang sebenarnya, agar kita tak mudah memutuskan suatu perkara dari satu sudut pandang saja !" ustadz A'ab mulai membuka sidang yang di ikuti dengan hikmat oleh semua peserta.


ustadz Fauzy dan ustadzah izza yang melakukan sidang awal perkara surat menyurat antara reza dan laurapun turut di hadirkan. tak lupa tersangka utama dalang dari fitnah ini. Aryun dan sari juga di hadirkan disana. raut wajah kedua gadis itu sudah terlihat sangat gelisah meskipun keduanya berusaha bersikap biasa dan itu membuat fitri yang juga ikut hadir tersenyum bangga.


Jika fitri dan aisyah tersenyum optimis akan kemenangan mereka, berbeda dengan laura yang justru khawatir akan terjadi sesuatu yang lebih buruk setelah ini. Bagaimana jika aryun semakin membencinya dan bertingkah lebih dari apa yang di lakukan saat ini ?


" Baiklah saya tanya sekali lagi, laura sabrina apakah benar kamu yang menulis surat ini ?" tanya ustadz A'ab serius.


Jika di sidang yang pertama laura menjawab dengan ngotot berbeda dengan kali ini yang hanya di jawabnya dengan gelengan ringan.


"sekarang reza, apakah benar kamu mengirim surat pada laura ? " sekarang giliran reza yang mendapat pertanyaan.


" benar ustadz! " jawab reza tegas


" baiklah, sekarang kita lihat tulisan di surat ini dengan buku yang saya bawa, ini atas nama laura, sama atau tidak ?" tanya ustadz A'ab pada semua peserta sidang dan semuanya menggeleng.


" mohon maaf ustadz, tulisan itu bisa saja di manipulasi agar tidak mirip dengan tulisan aslinya kan ?" ustadzah izza memberikan tanggapan pada apa yang di tunjukan ustadz A'ab.


" benar sekali, tapi kita juga harus tahu bahwa kemungkinan ada orang yang sengaja mengatas namakan orang lain itu juga ada, kita lihat tulisan di buku yang kedua , ini tulisannya sari, apakah sama ?" tanya ustadz A'ab lagi setelah memberikan sanggahan argumen ustadzah izza dan kembali para peserta menggeleng.


" tuh kan ustadz, mana ada aku yang mitnah laura, wong aku teman sebangkunya, ngapain juga aku di suruh ikut kesini !" celetuk sari menyahuti.


" kita lihat tulisan selanjutnya, sama persis bukan ?" ustadz A'ab melanjutkan tanpa menyauti celetukan sari.


tulisan yang terakhir yang nembuat seisi ruangan membelalakan mata tak percaya. kalau ada tulisan yang sama persis, berarti itu memang bukan tulisan laura. ustadz A'ab segera membalik halaman depan buku yang bertuliskan nama pemilik buku tersebut.


Dan benar saja sekarang sang pemilik buku tengah menunduk ketakutan karena kejahatannya telah terbongkar. begitupun dengan ustadzah izza, ustadz Fauzy dan pengurus keamanan yang menyidang kasus laura di awal yang juga tengah merasa bersalah saat ini. karena telah menjatuhkan hukuman seberat itu pada perbuatan yang tak pernah di lakukan laura.


" ustadz, a...aku...!" Aryun mencoba mencari alasan.


"stop, saya belum tanya !" tegas ustadz A'ab.


wajah saripun menjadi panik, tak mengingkari bahwa dirinya juga ikut andil dalam masalah itu.


Astaghfirullah hal 'Adziiim, sebodoh itukah aku membiarkanmu di hakimi kesalahan yang sama sekali tak kau perbuat...sesal hati fauzy


" Laura sini,...!" Ustadz A'ab memanggil laura untuk berdiri di sampingnya.


Laura sempat terkejut, namun akhirnya menurut karena intruksi dari kedua orang yang mengapitnya. siapa lagi kalau bukan fitri dan aisyah.


" gadis ini kalian tahu betapa mulia hatinya ? dia sebenarnya menolak sidang ulang ini dengan satu Alasan tidak ingin memperpanjang masalah, dan kalian tahu dia juga melaksanakan apa yang kalian perintahkan, ta'ziran tanpa barang bukti yang jelas, padahal jelas dia sudah membantah dan membawa tulisannya kehadapan kalian !" ujar ustadz A'ab serius menatap tajam satu persatu wajah para pengurus dan kedua orang temannya." Bisa-bisanya, seorang pengurus pondok pesantren yang terpilih tentu bukan sembarang orang, dan juga kalian berdua , Astagfirullah hal adziiim, aku benar-benar malu saat mendengar penjelasan dari gadis ini, dengan tak punya hati kalian menghukum gadis tak bersalah ini, !" lanjutnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Laura tersentuh dengan kata-kata orang yang saat ini ada di sampingnya itu. membuatnya melayang membayangkan kejadian 10 tahun lalu dimana pria yang di sampingnya itu membawa tubuh mungilnya menghindar dari laju mobil yang hampir menerkam tubuhnya dengan gagah.


" Dan kalian berdua !" saat ini menunjuk sari dan Aryun. " kalian tahu apa yang dikatakan gadis ini sebelum masuk kedalam ruangan tadi ? dia sudah memaafkan kalian dan tidak ingin kalian berdua menanggung hukuman yang berat, padahal kalian tau saat dia menjalani hukuman dia sampai pingsan dan tak sadarkan diri berjam-jam, !"


" maafkan aku ra,...maafkan aku....!" aryun dan sari sudah menangis sesenggukan karena tak dapat mengelak lagi dengan perbuatannya.


" aku dan juga semua pengurus juga minta maaf ra, karena sudah menuduh tanpa barang bukti !" ustadzah izza kini sudah mendekat merangkul laura yang masih tertegun di samping ustadz A'ab menyesali perbuatannya.


" Tiwas seneng aku ra, tak kiro beneran kamu yang bales suratku !" celetuk reza di tengah suasana haru itu dengan wajah di buat melas.


" kudu nguncali sandal aku za( pengen nglempar sendal aku za), lagi serius-seriusnya juga !" fitri mendelik tajam dan mengangkat sandal sebelah kirinya.


" ojo galak galak fit, dadi prawan tuo loch ( jangan galak-galak fit, jadi prawan tua loch )!" goda reza yang tak tahu situasi.


" Na'udzubillah, amit-amit ....!" sahut fitri segera.


" reza, fitri, kalian ini ga tahu situasi banget toh, !" gerutu aisyah.


Suasana haru berubah jadi kacau karena perdebatan reza dan fitri yang tak tahu tempat dan situasi.


" Baiklah kita teruskan, meskipun laura bilang sudah memaafkan saya harap ustadzah izza bisa memutuskan balasan yang sesuai untuk apa yang telah mereka lakukan!" ujar ustadz A'ab kemudian.


" iya ustadz, kami akan segera memproses kedua santri ini !" jawab ustadzah izza.


" kalau untuk biang kerok yang satu ini di buang ke sungai depan aja zy !" ujar ustadz A'ab menoyor kepala reza yang kemudian berlalu karena merasa tugasnya meluruskan permasalahan telah selesai.


" Alhamdulillah! " sukur fitri dan aisyah yang juga menggandeng laura keluar dari ruang sidang membuntuti ustadz A'ab.


Sedangkan aryun dan sari di sidang ulang oleh pengurus dan ustadzah izza untuk menentukan hukuman apa yang pantas di terima kedua santri wati itu.


" ustadz,...!" panggil laura membuat sang pemilik nama menghentikan langkahnya.


" terima kasih !" ucap laura tulus.


"sudah seharusnya itu yang kulakukan !" jawab ustadz A'ab dengan seulas senyuman.


" ustadz,...


" hemmh...


" pernahkah ustadz melihat aku sebelumnya ? sebelum aku jadi santri disini ?" tanya laura.


Aduch, ra pertanyaan macam apa itu ...? jerit hati laura yang menyadari betapa anehnya pertanyaan itu.


ustadz A'ab mengrenyitkan kening mencerna apa yang baru saja di tanyakan laura.


" sudahlahlah ustadz, ga jadi .....!" laura membalikkan tubuhnya karena wajahnya yang sudah memerah karena malu.


" memangnya kita pernah bertemu sebelum disini ?" ustadz A'ab balik bertanya pada gadis yang membelakanginya itu.


" tidak, lupakan saja , fitri dan aisyah pasti sedang mencariku, aku permisi dulu sekali lagi terima kasih ustadz, Assalamualaikum! " laura yang sudah salah tingkah memilih melarikan diri dari pertanyaan konyolnya.


Aneh sekali ? apa maksud dari pertanyaan itu ? apa pernah kita bertemu sebelum dia jadi santri sini ? jelas saja tidak, rumahnya saja di jakarta aku di pelosok desa....


* ngarang sambil ngantuk-ngantuk, semoga masih menarik😊, happy reading *