
Pagi sekali lepas sholat shubuh laura dan ustadz A'ab yang sudah berencana pergi ke surabaya segera bersiap agar tak terlalu siang sampai tujuan. Mengingat ustadz A'ab besok paginya harus langsung lepas landas ke Bandung agar bisa beristirahat lebih lama untuk menyiapkan keberangkatan yang selanjutnya.
" Hati-hati di jalan ya sayang, jangan lupa ngabarin kalau udah sampai! " pesan Ratih pada anak dan menantunya yang sudah siap berangkat pagi itu.
" siap mama, !" jawab laura.
" papa titip anak papa ya ab, cubit aja kalau nakal !" ujar handika menepuk pundak sang menantu.
" mana tega aku pa nyubit gadis secantik ini, !" jawab sang menantu membuat handika dan ratih terkekeh.
Sementara sang anak gadis tersenyum malu mendengar ucapan sang suami.
" sudah sana berangkat, keburu siang !" titah Handika pada menantu dan anaknya.
" iya pa, kita berangkat dulu, Assalamualaikum! " pamit Ustadz A'ab menggandeng sang istri masuk kedalam mobil yang sudah terdapat sopir yang siap mengantar sepasang pengantin baru itu kebandara.
Sepanjang perjalanan laura tak hentinya bersukur dengan hadirnya pria disisinya yang tak sedikitpun lepas dari Al Qur'an selama perjalanan mereka. Membuat hatinya merasa tenang dan damai. menyandarkan kepala pada bahu kekat di sampingnya hingga terlelap bersama lantunan ayat suci yang di lantunkan sang suami.
Sesampainya di Surabaya ustadz A'ab tak langsung mengajak laura pulang kerumah. Ia membawa sang istri untuk sarapan terlebih dahulu mengingat tadi pagi keduanya berangkat sangat pagi dan tak sempat sarapan. ustadz A'ab membawa laura ke kedai yang beberapa tahun lalu pernah mereka kunjungi saat laura masih menjadi santri.
" senyam senyum sendiri !" cibir ustadz A'ab pada sang istri yang begitu memasuki kedai sudah senyam senyum teringat masa lalu mereka.
" pertama kali ustadz idolaku ngomongnya serius dan ga ngeselin ya disini !" jawab laura terkekeh mengingat masa itu.
" Dan pertama kali tahu, kalau istriku ini gadis yang bodoh karena diam saja di perlakukan seenaknya sama orang lain !" balas ustadz A'ab yang juga menyinggung masalalu mereka.
Laura kembali terkekeh mendengar ucapan sang suami. Lucu memang saat mengingatnnya, setelah sekian lama di pesantren keduanya hanya berdebat di setiap kesempatan dan hari itu laura melihat sisi lain seseorang yang saat ini menjadi suaminya. Begitupun dengan ustadz A'ab yang juga di buat kagum dengan gadis kecil dengan kelembutan hatinya tak peduli bahwa dirinya telah tersakiti pada masa itu.
setelah menyelesaikan sarapannya sepasang pengantin baru itu kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang kerumah sang Ibu. Namun sebelum itu ustadz A'ab mengajak laura ke pesantren terlebih dahulu untuk berpamitan kepada pak yai seperti apa yang telah di sampaikan kepada laura 2 hari lalu.
" Fitri, Aisyah....!" teriak laura yang masih berada di dalam mobil yang baru saja memasuki lingkungan pesantren melihat kedua sahabatnya tengah bercengkerama di gazebo depan pesantren.
" aku turun sini hub,..!" ujar laura bersemangat melihat kedua orang yang dirindukan sudah ada disana melambaikan tangan kearahnya.
" kita ke ndalem dulu, sowan sama abah dan umi, nanti kesini lagi !" ujar ustadz A'ab pada sang istri membuat binar bahagia yang tadi terpancar di wajah cantik itu menyurut.
Namun dengan pengertian yang di berikan sang suami akhirnya laura menurut karena memang tujuan awalnya ke sini adalah sowan ke ndalem. lagi pula laura dulu belum secara resmi pamit kepada abah dan umi saat meninggalkan pesantren.
Setelah urusan dengan abah selesai ustadz A'ab dan laura segera menghampiri fitri dan aisyah yang ternyata disana juga sudah ada ustadz fauzy dan reza yang bergabung karena mengetahui kedatangan pengantin baru itu.
" Assalamualaikum !"
"wa'alaikumussalam! "
"apa kabar ra ?" tanya Aisyah menyerahkan sang anak pada laura yang sudah mengulurkan kedua tangannya untuk membawa bocah 3 tahun itu.
" Alhamdulillah seperti yang kamu lihat syah!"jawab laura yang langsung mengajak balita 3 tahun berceloteh kesana kemari.
" Bikin sendiri lah ra, kan udah ada yang di ajak bikin !" cibir fitri melihat laura begitu bersemangat bermain dengan balita itu tanpa memperdulikan sekitar.
" lampunya aja ga ijo ijo fit, gimana mau bikin !" ustadz A'ab angkat bicara menyauti omongan fitri membuat semua orang yang berada disana melongo menatapnya karena ucapan itu. sementara laura masih saja acuh dan bermain dengan balita di depannya yang begitu menggemaskan.
" Jadi kamu belum ???" Tanya ustadz fauzy mewakili semua mata yang menatap ustadz tampan itu penasaran dan hanya di jawab dengan gelengan lesu yang mengundang tawa seluruh orang yang ada.
" nasip ustadz, wes di tunggu lama, giliran udah sah malah lampu merah !" Tawa reza yang juga diikuti yang lainnya.
" untung aku mundur ab, kalau ga nasipku bakal semalang nasipmu !"imbuh ustadz fauzy.
Sementara orang yang di jadikan bahan bullyan hanya mendengus mendengar ejekan para sahabat dan mantan santrinya itu.
" apa maksudnya mundur ?" laura mengrenyitkan kening mulai mengikuti pembicaraan orang-orang itu.
" ora popo ra, rahasia antara aku dan suamimu !" jawab ustadz fauzi.
" aku juga tahu ustadz, !" sahut fitri yang juga tahu bagaimana cerita kedua sahabat itu sama-sama mengejar cinta laura.
" kog aku ndak tau sih fit ? emang ada apa kang A'ab sama kang fauzy ?" tanya aisyah sama penasarannya dengan laura.
" sudahlah, masalalu ga usah di bahas lagi !" lerai ustadz A'ab tak ingin lebih jauh membahas apa yang telah terjadi pada persahabatannya dengan ustadz fauzi yang sempat memanas karena keduanya sempat mencintai orang yang sama beberapa tahun lalu.
" curang, aku juga mau tahu hub !" ujar laura kini sudah memajukan bibirnya karena sebal.
" Ndak usah kepo kamu ra, Rahasia antara aku, suamimu dan ustadz fauzy !" sahut fitri menjulurkan lidahnya.
" lah, kog aku juga ndak di kasih tahu rahasianya ?" Reza juga terpancing penasaran karena sang istri menyebutkan hanya dirinya dan kedua ustadz itu yang tahu.
" kamu sih zy, bawa-bawa masalalu kita, jadi ribet kan urusannya kalau sama bocah bocah ini !" gerutu ustadz A'ab menunjuk ke 4 orang yang sempat menjadi muridnya termasuk sang istri.
" lah, opo salahku? istrimu aja yang terlalu kepo !" sahut ustadz fauzy tak terima di salahkan.
Obrolan perdebatan antar sahabat itu terus berlangsung tanpa ujung sampai akhirnya ustadz A'ab mengajak sang istri untuk pulang kerumah ibunya agar sang istri berhenti untuk terus mengorek tentang masalalunya dengan ustadz fauzi yang sempat sama-sama mencintainya semasa sang istri masih menjadi santri di pesantren.
Baginya semua telah usai meskipun hubungan keduanya sempat renggang tapi akhirnya ustadz fauzy yang menyadari bahwa laura juga mencintai ustadz A'ab memilih mundur dari perasaannya dan melupakan laura.
" wes ayo pulang dulu, ibu pasti sudah nungguin !" ajak ustadz A'ab pada sang istri yang juga masih kekeh ingin tahu rahasia apa yang di tutupi sang suami, fitri dan ustadz fauzy.
" tapi aku masih pengen tau,,,rengek laura.
" hmmmh...iya nanti aku kasih tahu, sekarang pulang dulu !" ujar ustadz A'ab kemudian yang akhirnya membuat laura setuju dan menuruti apa kata sang suami.
" wes na pulang ra, siapa tahu lampunya udah ijo bisa langsung buat yang kaya azmi !" celetuk fitri yang hanya di tanggapi delikan oleh laura.
sementara itu ustadz A'ab yang sudah pusing menghadapi sang istri yang selalu kekeh terhadap pendiriannya hanya menggeleng dan membuang nafas pasrah.