
3 bulan berlalu, hari lamaran sekaligus pertunangan kevan pun tiba. seluruh anggota keluarga telah di sibuk kan dengan persiapan acara besar putra sulung keluarga Handika itu. Termasuk juga laura dan suami yang turut membantu persiapan lamaran keduanya.
Usia kandungan laura kini telah memasuki bulan ke 7. Meski dengan kondisi perutnya yang sudah membesar tak membuat laura kesulitan untuk bergerak. Laura masih laura yang ceria dan sangat aktif. Tingkat kesensitifannya juga mulai berkurang. Dan laura sangat menikmati kehamilannya saat ini.
" gue grogi dek !" ujar kevan yang memang lebih memilih satu mobil dengan adik perempuan dan adik iparnya daripada kedua orangtua dan saudara kembarnya.
" Bismillah, kakak pasti bisa !" ujar laura menggenggam erat tangan sang kakak memberi kekuatan.
" adek ipar, nanti loe yang ngomong di depan bapaknya zahra ya !" ujar kevan pada adik iparnya yang saat itu beralih profesi jadi pengemudi sementara dirinya dan laura duduk sebagai penumpang di jok belakang.
pletak, satu jitakan di berikan laura kepada sang kakak membuat sang empu meringis kesakitan.
" yang mau kawin siapa ? kenapa jadi laki gue yang ngomong sama mertua loe !" delik laura tak terima.
" gue kan belum pengalaman dek, laki loe kan udah biasa ngomong dimana-mana !" jawab kevan mengelus kepalanya yang masih sakit bekas jitakan sang adik.
" ya tetep aja yang mau nikah elo, kenapa laki gue yang jadi repot !" ujar laura sinis.
" dek bilangin sama umy, om kevan izin pinjem aby ya please !" ujar kevan berbicara dengan makhluk kecil yang ada di perut sang adik.
Satu tendangan cukup keras berhasil membuat laura meringis kesakitan. makhluk kecil itu seperti merespon apa yang di katakan oleh kevan.
" anak gue aja ga ngizinin kak aby nya loe manfaatin, udah dech kalau loe ga berani ngomong biar kak kevin aja yang ngomong, biar kak kevin yang di kawinin sama mbak zahra !" ujar laura setelah berhasil menenangkan anak yang ada di dalam perutnya.
" sembarangan loe dek kalau ngomong, selamanya gue gak bakal rela zahra jatuh ketangan orang lain, apalagi si kevin, zahra juga ga bakalan mau !" sahut kevan tak terima dengan ucapan sang adik.
" muka loe kan sama kak, bapaknya zahra juga ga bakal ngenalin !" sahut laura datar.
" sudah sampai !" ujar Ustadz A'ab menghentikan percekcokan antar saudara itu.
Dada kevan kembali berdebar hebat saat mobil yang membawa mereka telah berhenti di pekarangan rumah zahra. tampak beberapa kerabat zahra telah menyambut di depan pintu membuat rasa gugup itu tak dapat di sembunyikan lagi oleh kevan. Dan sekali lagi laura mencoba memenangkannya. Berjalan mengapit kakaknya itu bersama sang suami. sedangkan kevin dan kedua orang tua mereka berjalan di depan.
Tak sedikit dari kerabat zahra yang memuji ketampanan kevin karena mengira bahwa yang akan bertunangan adalah kevin. Meskipun wajah mereka sama tapi kevin lah yang berada di tengah kedua orang tuanya. sedangkan kevan hanya menunduk karena saking gugupnya tak memperhatikan sekitar.
sesampainya di dalam rumah ternyata zahra juga telah di rias dengan begitu cantik dan anggun. membuat para tamu undangan terpesona akan kecantikannya. Tak hanya kevan, kevinpun terpesona melihat teman SMA nya itu kini bertambah semakin cantik setelah sekian lama tak bertemu.
" loe cantik banget zah, !" puji kevin saat tiba di depan teman SMA nya itu membuat zahra tersipu malu.
Sementara kevan yang berada di belakang menendang kaki saudara kembarnya merasa cemburu.
" awww, apa sih van ?" ringis kevin.
Kevan hanya mendengus karena kenyataannya ia memang tak mampu berkata apapun saat di depan Zahra. Namun itulah daya tarik kevan untuk seorang zahra. Zahra menyukai kevan yang lebih pendiam dan pemalu dari pada kevin yang pecicilan dan menyebalkan meskipun wajah mereka sama persis.
Prosesi pertunangan kevan dan zahra berjalan dengan lancar. Meskipun awalnya kevan malu-malu akhirnya tetap ia sendiri yang mengutarakan niatnya pada keluarga zahra karena laura tak mengizinkan suaminya untuk menjadi wakil bicara sang kakak. Apalagi sang papa yang sedari awal sudah menolak, mengingat ia tak pernah melihat putra sulungnya itu mau berbicara di depan umum meskipun profesinya sebagai dokter.
" untung loe tadi berani ngomong van, kalau ga udah gue gantiin dech !" celetuk kevin.
" sembarangan loe jomblo, nyari yang kaya gini susah tau, main rebut aja !" delik kevan tak terima.
Para undangan terkekeh mendengar percekcokan antar saudara itu. sementara zahra yang berada disisi laura dan tak jauh dari pria yang resmi menjadi calon suaminya itu tersipu malu. Membayangkan betapa serunya keluarga kevan, mengingat dirinya hanya anak tunggal yang kesepian saat berada dirumah.
" usia kandungan dek laura sudah berapa bulan ?" tanya zahra ramah.
" masuk ke tujuh bulan mbak, !" jawab laura.
" wah sebentar lagi donk lahiranya, semoga lancar !"
" Aamiin !"
Mengingat perutnya yang sudah membesar laura mulai mudah lelah. Apalagi sejak dini hari sudah bangun dan membantu persiapan pertunangan sang kakak. Laura dan ustadz A'ab izin pulang terlebih dahulu karena kondisi badannya yang sudah meminta untuk di istirahatkan. Sementara kevan dan keluarga yang lain masih menentukan tanggal pernikahan kevan dan zahra.
" kita ke dokter dulu ya, cek kondisi si dedek !" ujar Ustadz A'ab ketika keduanya telah berada di dalam mobil.
" aku cape banget by, bisa besok aja kah ?" Jawab laura dengan nafas yang memang sangat kentara sangat lelah.
" ya sudah, kamu tidur aja dulu kalau gitu !" ujar Ustadz A'ab membelai lembut kepala sang istri kemudian turun di perut besarnya.
Laura mengangguk, dan tak lama segera terlelap bersandarkan bahu sang suami yang tengah mengemudi mobil yang mereka tumpangi. Sepertinya laura memang terlalu lelah seharian ini. Meski sudah di peringatkan untuk tidak usah membantu tapi laura tetap bersikukuh ingin membantu sang kakak. Alhasil dia menjadi sangat kelelahan hari ini karena saking semangatnya mempersiapkan hari spesial kakak sulungnya itu.
Sampai di depan rumah laura masih anteng dalam tidurnya. Tentu sang suami tak tega jika harus membangunkan tuan putri yang tengah begitu kelelahan itu. Dengan hati-hati ustadz A'ab memindah kepala sang istri yang menyandar di bahunya ke bantalan kursi mobil dan beranjak keluar untuk membuka pintu disisi sang istri dan mengangkat tubuh yang tak ramping lagi itu dengan hati-hati.
Meski tubuh sang istri sudah tak ramping lagi, bukan hal berat bagi ustadz tampan itu untuk sekedar mengangkatnya ke kamar tidur. Karena semenjak hamil kebiasaan laura adalah tidur di sembarang tempat.Dan akhirnya mau tidak mau sang suamilah yang harus memindahkannya ke kamar.
" Terima kasih, pasti berat sekali membawa anakku di dalam sana !" ujar Ustadz A'ab mengecup kening sang istri yang tengah terlelap kemudian mengelus perut besarnya.
Laura sepertinya sama sekali tak terusik dengan sentuhan itu. Namun berbeda dengan makhluk kecil yang ada di dalam perutnya yang sepertinya ia justru sedang ingin bermain dengan sang ayah.
Ustadz A'ab yang merasa gemas bercerita kesana kemari dengan sang jabang bayi yang ada di dalam perut sang istri. Dan tentu semakin gemas dengan respon sang jabang bayi yang sepertinya juga sangat menyukai ceritanya itu. Membuatnya semakin tak sabar melihat malaikat kecilnya itu segera terlahir ke dunia dan menghiasi hari-harinya beserta sang istri.