
3 Hari sudah laura menjalani masa kritisnya. Laura memang sangat kuat menurut dokter. Dengan kondisi yang selemah itu masih bisa bertahan sampai saat ini. Bahkan pagi ini dokter sudah menyatakan kondisi laura membaik dan berhasil melewati masa kritisnya. Hari ini juga laura akan di pindah keruangan yang sama dengan kedua anaknya. Berharap kehadiran dua buah hatinya itu akan mempercepat pemulihan kondisi laura.
" sebentar suster, pakaikan ini dulu di kepala istri saya !" ustadz A'ab menyodorkan sebuah jilbab pada perawat wanita yang akan memindahkan laura ke ruang perawatan. Mengingat beberapa hari lalu terlalu banyak alat yang menempel di tubuh laura dan tak memungkinkan untuk menutup auratnya. hari ini saat semua alat itu telah terlepas ustadz A'ab tak ingin jika aurat istrinya terlihat banyak orang. Apalagi diruang perawatan nanti pasti banyak orang yang akan menjenguknya.
Alhamdulillah, terima kasih ya Allah kau telah mengabulkan doa kami, kau masih memberi kesempatan laura untuk berkumpul bersama kami lagi, Terima kasih ya Allah, Terima kasih.
Bahagia itu jelas tergambar di wajah ustadz A'ab meski saat ini air matanya tak mau berhenti mengalir. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata bahagia karena sang istri telah berhasil melewati masa kritisnya. Bersyukur karena Allah masih memberikannya kesempatan untuk kembali berkumpul dengan laura dan kedua anaknya. Meski saat ini laura belum terbangun, dokter bilang mungkin tidak akan lama lagi laura akan tersadar karena kondisinya sudah stabil.
Semua orang bahagia melihat laura tiba diruang perawatan. Satu persatu orang yang berada disana mendekat kearah brangkar dimana laura berbaring. sementara itu ustadz A'ab segera mengambil Ali dan Fatimah untuk di dekatkan dengan ibunya. Berharap kedua bocah itu akan menjadi semangat laura untuk segera bangun dari tidurnya.
" Ra, lihat ini Fatimah kita, dia sangat cantik !" ujar ustadz A'ab meletakkan Fatimah disisi kanan sang istri kemudian mengambil Ali dari gendongan sang ibu dan meletakkannya di sisi kiri sang istri." nah, kalau yang ini wajahnya persis sama kaya kamu, ini Ali !"
" kamu wanita yang hebat ra, Kamu sudah memberikan Ali sekaligus Fatimah untukku, bangunlah mereka sudah ingin di gendong uminya !" ucap ustadz A'ab berbicara pada Laura yang masih anteng dalam tidurnya.
Para tetua yang ada disana merasa terharu melihat bagaimana perhatian ustadz A'ab kepada sang istri yang tak pernah luntur.
Disisi lain, saat ini kevin tengah menemui Andra di kantor polisi. Ia akan meminta penjelasan tentang kelakuan andra pada adik kesayangannya. Kevin tak seorang diri tapi saat itu ditemani Lolita sahabat laura yang juga sama tak percayanya dengan kelakuan Andra. Andra yang terlihat begitu tulus mencintai laura. Andra yang seperti hanya memikirkan kebahagiaan laura di atas kebahagiaannya. Rasanya masih sulit di percaya kalau Andra bisa melakukan hal sejahat itu pada Laura.
" maksud loe apa ngelakuin itu sama adek gue ?" tanya kevin serius.
" ngelakuin apa kak ? aku hanya mencintainya, apa itu salah ?" jawab Andra seperti tanpa dosa.
" cinta loe bilang? loe udah hampir bunuh laura loe bilang cinta?" Lolita yang dasar tidak pernah bisa mengendalikan diri langsung ngegas mendengar jawaban santai dari kakak kelasnya itu.
" gue ga pernah apa-apain laura, gue cuma mau nonjok suaminya malah di halangin sama dia, apa salah gue kalau dia yang kena ?" Andra yang seperti sudah kehilangan akal menjawabnya dengan santai tanpa beban.
" kak kevin, loe mau ngapain ? bisa-bisa loe ikut masuk di sel kalau loe mukulin dia, mending kita buat aja dia mendekam seumur hidup di penjara !" ujar Lolita menghentikan pergerakan kevin yang hampir saja memukuli Andra.
Kevin berdecak karena gagal melakukan pukulannya. Tapi Apa yang dikatakan Lolita benar, jika ia menghajar Andra disini pastilah semua akan semakin rumit jika dia juga harus mendekam di tahanan. cukup ia tahu bahwa Andra memang sepertinya sudah kehilangan akalnya karena patah hati. Matanya telah dibutakan oleh cinta. itulah penyebabnya ia melakukan semua hal yang tak masuk akal itu pada adiknya.
" gue jamin loe ga akan keluar dari sini !" ujar kevin memperingati Andra dengan tegas.
Seperti acuh Andra hanya menyambutnya dengan senyuman tanpa ingin membalas ancaman dari kevin. Dia tak peduli jika memang harus selamanya mendekam di jeruji besi itu. Daripada di luar ia semakin sakit melihat laura bahagia bersama orang lain. sepertinya di dalam sana akan lebih nyaman baginya.
Kevin dan Lolita yang mendengar laura telah melewati masa kritisnya langsung menuju Rumah sakit setelah memberi peringatan kepada Andra. Tentu keduanya tak ingin ketinggalan memberi semangat kepada laura agar segera bangun dari tidurnya dan berkumpul dengan dua malaikat kecil yang sudah lama dinantikannya.
" dek, ini kak kevin, loe ga kangen ngatain gue dek ? gue kangen berantem sama loe dek, apa lagi noh, si fatimah sama Ali pasti udah pengen banget loe gendong !" ujar kevin berbicara dengan sang adik yang masih juga setia menutup matanya.
" Kenapa kangen berantem loe sebutin juga sih kak ? ya mana mau laura bangun cuma buat berantem sama loe !" protes lolita yang dari tadi berada di samping kakak laki-laki laura itu.
" yah kali aja, dia kan nyebelin banget !" ucap kevin menanggapi protesan Lolita.
pletak...satu jitakan Handika layangkan di kepala anak laki-lakinya itu.
" Beraninya kamu ngatain anak papa nyebelin !" ucap Handika tak terima.
" awww, sakit tau pa, kali aja laura itu kangen berantem sama kevin terus dia bangun, kenapa jadi kevin yang ternistakan sih !" Dengus kevin mengelus bekas jitakan sang papa yang masih terasa panas. membuat semua yang ada di ruangan itu terkekeh, suasana yang penuh haru dan ketegangan mencair melihat tingkah ayah dan anak itu.
Laura memang jelmaan dari kevin begitu dengan sebaliknya. Disaat seperti inipun masih bisa cengengesan meski hatinya tak demikian. Berbicara sembarangan dan tak tahu situasi dan kondisi.