Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
mulai sensitif



seperti biasa sepertiga malam laura selalu terbangun. Namun kali ini bukan bangun dengan sendirinya seperti biasa, ada suara berisik yang sangat menganggu di telinganya. melirik jam juga baru jam 2 malam, dan suasana rumah sudah sangat kacau. melirik orang di sampingnya juga sudah tak berada di posisinya. ia yakin betul yang membuat kegaduhan pastilah suaminya. Tapi apa yang di lakukan pada hari yang masih malam seperti ini. Laura beranjak dari tempat tidurnya dan mencoba mencari keberadaan sang suami yang tiba-tiba saja menghilang dari sisinya.


" Huby ngapain ?" heran laura yang masih dengan malas berjalan mendekati suara berisik yang dibuat sang suami.


" kamu bangun sayang ? apa aku terlalu berisik ?" tanya ustadz A'ab mendekat kearah sang istri yang memperhatikannya di ambang pintu kamar mandi.


" kamu ngapain ? ini masih jam dua ?" masih dengan pertanyaan yang sama laura mengusap keringat yang ada di kening sang suami.


" Biar kamu ndak usah nyuci, kasian dedeknya nanti kecapean, ech malah kamunya kebangun !" jawab ustadz A'ab cengengesan.


Laura tersenyum mendengar jawaban sang suami. Segitu perhatian dengannya dan calon anak yang ada di dalam kandungannya.


" aku masih bisa nyuci huby, adiknya biar tambah sehat kalau di pakai beraktivitas, lagi pula itu bukan tugas berat ko !" ujar laura lembut.


" uhibbuki ! " satu kecupan di berikan ustadz A'ab dibibir sang istri.


" sholat yuk, aku ngantuk mau bobo lagi !" ajak laura bermanja mengalungkan tangannya di leher sang suami.


" aku selesaikan dulu ini tinggal sedikit, habis itu kita sholat, ok !" ujar Ustadz A'ab yang jawab anggukan oleh laura.


Laura menunggu sang suami menyelesaikan membilas cuciannya di kursi dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi. Karena saking ngantuknya laura kembali terlelap menyandarkan kepalanya di atas meja.


Melihat hal itu rasanya ustadz A'ab tak tega untuk membangunkan sang istri. ia menggendong tubuh mungil itu kembali ke kamar dan meninggalkannya untuk sholat malam. Sepertinya laura terlalu lelah setelah seharian menemani kevan kerumah zahra.


Baru setelah masuk waktu subuh ustadz A'ab membangunkan laura untuk sholat subuh berjamaah. mengecup perut sang istri kini menjadi kebiasaanya, membisikkan do'a di perut yang hampir terlihat menonjol itu. baru setelah itu membangunkan laura dengan kecupan hangat di kening dan memanggil namanya dengan lembut.


" Bangun sholat subuh yuk !" bisik ustadz A'ab dengan lembut di telinga laura.


Meski tengah berbadan dua laura masih belum bisa mengontrol dirinya untuk tidak bergerak berlebihan. mendengar kata sudah masuk waktu subuh membuat mata laura terbuka lebar dan segera berlari ke kamar mandi. Mengingat tadi niatnya adalah ingin melaksanakan sholat malam tapi gara-gara tertidur ia jadi melewatkannya.


" Hati-hati ra, !" teriak ustadz A'ab memberi peringatan kepada sang istri yang sudah berlari sangat cepat ke kamar mandi.


Lepas sholat subuh ustadz A'ab menahan laura untuk tidak beraktivitas terlebih dahulu sebelum membacakan ayat suci Al Qur'an untuk anak yang ada di dalam kandungannya agar lebih tenang dan menjadi anak yang cerdas.


" aku aja yang masak hari ini !" ujar Ustadz membelai lembut kepala sang istri yang masih berbalut mukena itu.


" kamu sudah nyuci loch tadi, biar aku yang masak !" ujar laura.


" Biar aku memanjakan istriku yang cantik ini pagi ini, !" ujar Ustadz A'ab lagi membuat wajah laura merona dengan perlakuan manis itu.


" Boleh dech, aku sudah kangen masakan dari suamiku tercinta ini !" ujar laura mencubit gemas pipi sang suami.


wanita mana yang tidak baper jika mempunyai suami yang selalu memperlakukannya dengan semanis itu. Pagi itu laura merasa menjadi tuan putri. meski sang suami selalu manis terhadap laura tapi pagi itu lebih spesial.


" Terima kasih!" ucap laura saat sang suami mengangkat tubuhnya untuk sarapan pagi itu.


" sama-sama !" jawab ustadz A'ab dengan senyum manisnya membuat laura semakin klepek-klepek di buatnya.


" Anggap saja ini hadiah ulang tahun pernikahan kita, !" ujar Ustadz A'ab yang di sambut hangat senyuman laura.


" ga bisa kaleman dikit apa loe ngetuk pintu rumah gue, rusak ni pintu gue bakar mobil loe !" cerocos laura kesal begitu pintu terbuka dan melihat wajah orang yang ada di depannya seperti tanpa dosa.


" berisik, suami loe mana ?" tanya kevan tanpa memperdulikan ocehan yang panjang nya mengalahkan sungai amazon itu.


Kevan menerobos masuk tanpa izin dan bergabung dengan sang adik ipar yang tengah menikmati sarapan paginya. Tak perduli jika sang adik terus mengomel di belakangnya.


" ada apa kak ?" tanya ustadz A'ab


" aku mau minta tolong, bantuin ngomong sama papa soal melamar zahra !" jawab kevan to the poin.


" jadi cowok ko cemen !" cibir laura.


" diem loe dek, gue lagi ngomong serius sama laki loe !" sergah kevan membuat laura semakin kesal.


" memangnya kapan ?" tanya ustadz A'ab


" rencananya 3 bulan lagi, nunggu zahra pulang dari swiss, pas juga gue bisa ambil cuti lagi !" jawab kevan.


" Memangnya kenapa kak kevan ndak berani ngomong sama papa ?" tanya ustadz A'ab lagi.


" yah bukan ga berani, bingung aja ngomongnya gimana !" jawab kevan.


" sama aja !" sahut laura ketus.


" ya sudahlah itu bisa di atur, kapan aku harus ngomong sama papa ?"


" adik ipar gue emang the best dech, ga kaya bininya yang kaya singa !" ujar kevan memeluk adik iparnya bahagia mendapat apa yang di inginkan.


Di satu sisi sang adik sudah siap menerkamnya dengan ganas karena dikatai sebagai singa. Tapi kevan memilih acuh dan mengambil makanan di piringnya, menyantap makanan yang sudah di tunggu cacing dalam perutnya.


" makan dulu ra, biar dedeknya sehat !" ujar Ustadz A'ab lembut melihat sang istri yang nampak kesal dengan perkataan sang kakak dan tak menyentuh makanannya sedikit pun.


" udah g selera akunya !" jawab laura ketus.


" kenapa ? masakanku ndak enak ?" masih dengan lembut ustadz A'ab bertanya.


Bukan menjawab laura justru menangis dengan sejadi-jadinya. Sepertinya hormon kehamilannya mulai bekerja, membuatnya menjadi lebih sensitif. Kevan yang sedari tadi acuh mendadak tersedak melihat respon sang adik yang jadi berlebihan akibat perkataan yang menurutnya hanya sebuah guyonan itu.


" dek, maaf gue cuma bercanda kog tadi, laura selalu jadi adiknya kak kevan yang manis, please...maafin gue ya dek !" ujar kevan membujuk adiknya itu untuk berhenti menangis.


" kak kevan jahat, laura sebel !" Laura membanting kursi yang dari tadi di duduki berlari menuju ke kamar membuat suami dan kakaknya menjadi kalang kabut.


kevan paham kalau itu adalah hormon kehamilan sang adik yang membuatnya demikian, tapi ia juga tak menyangka jika respon sang adik akan segitunya. Apalagi ustadz A'ab yang baru pertama kalinya menangani wanita hamil, bingung bagaimana cara menenangkan sang istri. Karena jurus jitu yang biasa di keluarkan ketika laura ngambek pun tidak mempan dalam kondisi ini.


Sementara waktu terus berjalan dan ustadz A'ab harus pergi bekerja. Namun dalam kondisi seperti ini tak mungkin jika ia meninggalkan sang istri. Akhirnya iapun juga terpaksa harus izin untuk menemani sang istri sampai benar-benar tenang. Rasanya lebih parah menangani istri yang sedang hamil daripada santri yang kesurupan.