Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Rumah Baru



Pagi itu dengan menggunakan motor matic yang baru di beli dengan hasil uang tabungannya. Ustadz A'ab dan laura berangkat ke rumah baru mereka. Rumah sederhana dengan perabotan seadanya. Meskipun begitu Laura tidak merasa keberatan karena yang terpenting adalah baktinya kepada sang suami.


" kamu pernah naik motor ?" tanya ustadz A'ab dalam perjalanan mereka.


" ya pernah lah, dulu kalau naik ojek online !" jawab laura.


"emmmb,..


Keduanya kembali terdiam dan melanjutkan perjalanan ke rumah baru mereka.


Sesampainya di halaman rumah sederhana yang akan di tinggali bersama sang suami laura merasakan hal yang sama seperti awal ia akan masuk ke pesantren. Ada keraguan disana, bisakah ia menjalaninya. Tapi dengan segera di tepis, ia yakin akan bahagia hidup bersama sang suami meski dengan segala kesederhanaan.


" ra , !" ustadz A'ab membuyarkan lamunan laura.


" Astaghfirullah hal 'adziim, nggih ustadz !" laura terkejut dengan panggilan sang suami.


" kamu ndak papa ?" tanya ustadz A'ab memastikan.


" aku ga papa ko, ayo masuk !" ujar laura segera menepis pikiran negatifnya.


" maafkan aku hanya bisa mengajakmu tinggal di rumah seperti ini !" ujar Ustadz A'ab membawa sang istri kedalam pelukannya. Mengerti apa yang saat ini tengah berada dalam pikirannya.


" asalkan bersamamu Insya Allah aku bahagia !" Laura membalas pelukan sang suami.


"Terima kasih, aku mencintaimu laura !" ujar Ustadz A'ab mendaratkan satu kecupan di kening sang istri.


" aku juga mencintaimu huby !"


" kita masuk yuk, !"


Dengan mengucapkan salam keduanya memasuki rumah kontrakan sederhana yang akan menjadi tempat tinggal mereka. Sangat sederhana, rumah dengan satu kamar, ruang tamu, dapur dan kamar mandi berukuran luasnya hampir sama dengan luas kamar laura. jauh sekali dengan rumah laura yang begitu besar dan megahnya. Tapi laura yakin ia pasti bisa, di pesantren kamar laura lebih kecil dan di tinggali 10 orang di dalamnya.


Karena tak membawa banyak barang jadi tak perlu ada banyak barang yang di rapikan. Hanya membersihkan rumah dari debu dan kotoran saja karena lama tak di tinggali.


" belanja yuk, buat masak nanti !" ajak ustadz A'ab pada laura yang tengah menyandarkan diri di kursi ruang tamu yang terbuat dari rotan selepas bebersih rumah baru mereka.


" emang masih ada uang ?" tanya laura.


Ustadz A'ab tersenyum mendengar pertanyaan sang istri. sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah buku tabungan dari dalam saku bajunya.


" ini, kamu yang pegang, semua uangku adalah uangmu, tidak sebanyak uang papa tapi Insya Allah cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sampai aku dapat gaji pertamaku nanti !" ujar Ustadz A'ab menyerahkan buku tabungan yang ada di tangannya kepada laura.


" Tapi...


" Kamu pasti bisa mengaturnya !" sahut ustadz A'ab segera meyakinkan sang istri.


Laura membuka buku tabungan sang suami. sepertinya memang benar jika sang suami telah menyiapkan semua untuk kehidupan mereka. Benar tidak sebanyak uang yang di terima dari papanya, tapi kalau bisa mengatur Insya Allah cukup untuk biaya hidup mereka selama satu bulan.


" apa aku bisa ?" ujar laura ragu.


Ia tahu memang ini tak mudah bagi sang istri. Tapi ia percaya bahwa laura bisa menjadi istri yang baik untuknya. Ia juga akan selalu berusaha membahagiakan laura semampunya.


Tak lagi ke supermarket besar, pertama kalinya laura berbelanja di pasar tradisional untuk keperluan mereka. Dan ternyata tidak seburuk yang di bayangkan. Belanja di pasar tradisional sangatlah menyenangkan. penjualnya ramah-ramah. Harganya juga jauh lebih murah.


Melihat sang suami yang begitu antusias membuat laura terkekeh. sepertinya sudah terbiasa berbelanja keperluan dapur padahal ia seorang laki-laki.


" kenapa senyam senyum sendiri ?" ujar Ustadz A'ab pada laura yang dari tadi hanya senyam senyum mengekor di belakang suami.


" kamu lucu, pake nawar kaya emak emak !" jawab laura terkekeh.


" ya iyalah, di pasar kalau ndak nawar pasti di kasih harga melejit!" jawab ustadz A'ab masih sibuk memilah sayuran yang ada di hadapannya.


" kita mau masak apa? kenapa belanjanya banyak banget ?" tanya laura melihat berbagai sayur sudah penuh di tangannya dan juga suami.


" buat persiapan juga, mulai besok kalau ndak hari ahad aku ndak bisa nganter kamu belanja! Terang ustadz A'ab.


" Ini aku malah yang nganter kamu belanja, orang aku cuma ngikut !" lagi-lagi laura terkekeh.


Ustadz A'ab memang sudah terbiasa berbelanja di pasar tradisional sejak kecil. karena sang ibu single parent tak jarang ia membantu sang ibu untuk berbelanja ke pasar. Belum lagi untuk keperluan memasak di pesantren.Jadi bukan hal baru bagi ustadz A'ab untuk berbelanja keperluan dapur meskipun ia seorang laki-laki.


" aku yang masak ya !" ujar laura begitu keduanya sampai di dalam rumah.


" yakin ?" ujar Ustadz A'ab menaikkan satu alisnya.


" Tapi nanti kamu yang nggoreng !" ujar laura cengengesan membuat sang suami mendengus. dia ingat sekali waktu pertama kali menggoreng ikan minyaknya meletus-letus. Dan rasanya masih takut untuk menggoreng lagi.


Laura telah meracik semua bahan yang akan di masak dengan melihat tutorial di youtube yang dari tadi menemaninya. sementara itu sang suami menata sayuran yang mereka beli kedalam kulkas kecil yang sudah tersedia di dalam sana.


" slesai !" ujar Ustadz A'ab menutup kuliahnya telah penuh dengan buah dan sayuran dengan rapi.


" gorengin ayamnya hub, aku takut meletus!" titah laura pada sang suami.


"lebay, emang balon meletus !" Gerutu ustadz A'ab meskipun akhirnya menuruti perintah sang istri.


" makin sayang dech, cup!" Laura beranjak dari jajaran sayur dan bumbu di hadapannya mencium pipi kiri sang suami yang sudah menyalakan kompor siap menggoreng ayam sesuai dengan perintahnya.


" kalau ada maunya !" ujar Ustadz A'ab pura-pura cuek meski dalam hati menghangat karena tingkah sang istri.


" ya udah kalau ga mau, apa aku harus cari suami sampingan buat di cium ?" goda laura menaikkan satu alisnya.


" Astaghfirullah hal 'adziim, pikirannya !" ustadz A'ab mencubit gemas kedua pipi cuby sang istri yang seenaknya berbicara itu.


" sakit tau huby, udah tu goreng ayamnya ntar gosong, keburu cari suami baru akunya !" gerutu laura melepas tangan sang suami dari pipinya.


" ga bakalan dapet juga suami yang kaya gini !" cibir ustadz A'ab beralih pada gorengan ayamnya.


Terkadang serius, terkadang juga pecicilan, begitulah seorang laura. Tapi tak sulit bagi ustadz A'ab untuk menyelami sikap sang istri yang seperti itu. Dan baginya itu adalah unik membuatnya semakin mencintai perempuan yang usia nya jauh darinya itu.