
Bukan laura namanya kalau tidak mempunyai keinginan yang kuat. Dan keinginan kuat itulah yang mendukung perkembangan laura menjadi lebih pesat. Terhitung 6 bulan sudah laura menjalani pengobatannya di Amerika. Pemulihan yang sangat menakjubkan memang, jika sebelumnya di Indonesia laura di prediksi dokter akan sulit berjalan seperti sedia kala tapi dengan semangat yang luar biasa dalam waktu 6 bulan ini bahkan dia suda bisa berlari.
" selamat ya dek, akhirnya kamu berhasil !" puji kevan pada sang adik.
" Alhamdulillah kak, Bi idznillah !" ujar Laura dengan seulas senyuman.
" mau pulang ke indo kapan ?" tanya kevan
" kayaknya laura betah disini kak, pengen kaya kak kevin !" ujar laura dengan seulas senyum penuh harap.
sebenarnya bukan itu satu-satunya alasan laura untuk memperpanjang masa tinggalnya di Amerika. Melainkan berita pernikahan Aisyah 2 bulan lalu. Rasanya sesak menerima kenyataan bahwa orang yang tak pernah mau pergi dari hatinya telah dimiliki orang lain.
Laura bangkit dan melanjutkan hidupnya di Amerika. Masuk fakultas seni seperti sang kakak. Banting setir dari mimpinya sebagai penulis menjadi pelukis. Bagi laura tak masalah dia harus kembali mengambil langkah keluar dari zona ternyamannya seperti langkah yang di ambil sebelumnya ketika dia memutuskan untuk masuk pesantren. Laura tak pernah menyesalinya meskipun akhirnya ia terluka.
Laura menghabiskan 4 tahun berikutnya sebagai mahasiswa seni di salah satu universitas yang ada di Amerika. selama itu pula laura terus belajar dan belajar melukis dengan perasaanya. tanpa melupakan kewajibanya kepada sang pencipta. sebagai hiburan tersendiri untuk menuangkan perasaanya.
selama laura di Amerika sahabat-sahabatnya yang dari jakarta juga sering mengunjunginya. sementara fitri dan aisyah juga tak lupa untuk selalu menghubungi lewat ponsel baik lewat pesan maupun vidio call. Hubungan mereka tak pernah terputus. Begitupun dengan andra yang memang masih belum bisa move on dari gadis cantik itu.
" Assalamualaikum ustadzah cantik, !" sapa andra yang kebetulan hari ini mengunjungi laura di Gallery sang kakak.
" wa'alaikumussalam,, kak andra !" jawab laura masih fokus pada kanvas yang ada di hadapannya.
" udah makan ?" tanya andra yang hanya di jawab gelengan oleh laura.
" makan dulu yuk, !" ajak Andra namun sepertinya laura masih terlalu sibuk dengan garapannya.
" mau balik ke indo kapan ?" andra mengalihkan pembicaraan mengingat ajakannya tak mendapat respon.
" ngga balik kayaknya, !" jawab laura asal masih fokus pada gambarnya.
" mau ngapain lama-lama di negeri orang ra? di indo kamu juga masih bisa ngelukis !"
" kenangannya terlalu sakit !" jawab laura seenaknya.
" masih belum bisa move on ? udah 4 tahun loh ?" tanya Andra yang memang tahu cerita laura dari kedua sahabatnya.
" ngga semudah itu, loe aja belum bisa move on dari gue udah berapa tahun aja tuch!" kini laura sudah meletekkan kuasnya dan menatap lawan bicaranya.
" kalah gue kalau udah gitu jawabanya, !" Andra menarik nafas panjang tahu kelemahannya.
Laura benar Andra memang belum bisa move on meskipun sudah bertahun-tahun dan tak pernah mendapat respon dari laura.
" kak Andra ga ada niatan buka hati buat orang lain ? ga cape nungguin aku ?" kini laura bertanya serius.
" kamu sendiri ga ada niatan untuk membuka hati buat aku ? ga cape nungguin ustadz itu ?" Andra balik bertanya.
" Semoga Allah juga menghadirkan rasa itu dalam hati ini kak, !" jawab laura tulus dengan senyum manis mengembang di bibirnya.
" Aamiin,...!"
Andra bukanlah orang yang buruk, bahkan sangat baik bagi laura. Namun entah mengapa rasa itu tak juga tumbuh dalam hatinya. Perasaan bersalah selalu memenuhi pikiranya setiap kali perhatian dari andra selalu ia dapatkan.
" jadi kapan kamu balik ke indo ? kuliahmu kan sudah slesai ?" Andra mengulangi pertanyaan yang sama setelah keduanya beberapa saat terdiam.
" setelah bantuin kak kevin menyelesaikan proyek lukis yang satu ini !" jawab laura.
" kapan emang ?"
" kayaknya seminggunan kalau ga males, !"
"emmh,...
kembali andra mengangguki jawaban gadis cantik pujaan hatinya itu.
Laura memang telah menyelesaikan kuliahnya beberapa waktu lalu dan saat ini tengah membantu sang kakak di Gallerynya sambil menunggu transkip nilainya di semester akhir yang belum keluar.
Sebenarnya laura sudah merayu Handika untuk tetap tinggal bersama sang kakak, tapi orang tua laki-laki itu tak mau mengizinkannya lagi. karena sudah terlalu lamanya kedua orang tua itu kesepian tanpa celotehan manjanya.
Dan dengan berat hati ia di bantu sang kakak mengurus kepulangannya yang terjadwal seminggu dari sekarang. Tepat di hari ulang tahunya yang ke 23 nanti. Namun Handika sudah memesan kepada kedua saudara kembarnya untuk membuat laura lupa akan hari sepesial itu karena Handika dan ratih sudah menyiapkan kejutan ulang tahun untuk sang putri tercinta itu.
" ga usah cemberut aja dek, mama papa kangenya sama elo, kita mah ga penting !" ujar kevan melihat wajah kusut sang adik.
" bener banget, kita mah pulang ga pulang papa ga bakal nyari, !" imbuh kevin meraih cemilan yang ada di atas meja kecil di depan ketiga orang itu.
" padahal berjuang ngelahirin lo berdua lebih susah dari pada gue yang cuma satu !" ujar laura tanpa beban.
pletak...pletak...
Dua jitakan langsung mendarat di kepala gadis satu-satunya itu.
"sembarangan lo kalo ngomong dek, kita berdua ni saksi perjuangan mama saat hamil elo !" sergah kevin tak terima dengan ucapan sang adek.
" Bener banget, loe hidup aja itu udah untung orang loe lahir kecil banget kaya boneka berbie !" imbuh kevan langsung mendapat injakan dari laura.
" Awwww,....gede gede jadi songong kayak gini kelamaan makan infus rumah sakit !" bukan berhenti karena sudah kesakitan kevan justru tertarik untuk membuat sang adek tambah kesal.
Guyonan itu terus berlanjut hingga larut malam. Kebetulan hari ini kevan tugas pagi sehingga malam bisa menghabiskan waktu untuk bercengkrama dengan kedua saudaranya. apalagi dengan laura yang tinggal beberapa hari lagi akan kembali ke Indonesia dan kembali jauh darinya.