
Laura masih anteng dalam tidur panjangnya. terhitung sudah hampir satu bulan laura tertidur. Padahal dokter bilang bahwa tidak ada benturan serius di kepala laura. Hanya shok saja yang mungkin tidak akan berlangsung lama. Tapi nyatanya sampai saat ini laura masih tertidur pulas tak juga mau membuka matanya.
Setiap Hari selepas mengajar ustadz A'ab selalu menyempatkan untuk mengunjungi laura seperti yang di minta Handika. Untuk merangsang kesadaran laura. Membacakan ayat suci Al Qur'an yang utama, terkadang juga menceritakan kisah-kisah penyemangat meskipun tak ada respon dari laura tapi dengan telaten ia melakukan hal itu.
" sudah hampir satu bulan kamu tidur, apa tidak cape ? tuch si fitri sama neng ais udah kangen !" celoteh ustadz A'ab menunjuk fitri dan aisyah yang kebetulan hari ini juga berada disana.
" iya ra, kita disini !" sahut aisyah.
" iyo ra, kamu ndak kangen sama reza toh ?" imbuh fitri berharap guyonan itu akan terekam oleh otak laura.
Tapi sepertinya gadis itu masih betah untuk memejamkan matanya. Tak ada sedikitpun tanda bahwa ia akan segera bangun. matanya masih tertutup rapat.
Handika berinisiatif untuk memindahkan putrinya berobat keluar Amerika dimana kedua anak kembarnya juga menitih karir disana. Mengingat sampai detik ini belum juga ada perkembangan pada putrinya. Ia sudah menghubungi si anak kembar untuk mencarikan dokter ortopedi terbaik untuk menangani laura. Kebetulan kevan bekerja sebagai dokter disana, sedangkan kevin adalah seorang seniman, laura selalu berharap bisa mengikuti jejak sang kakak yang satu ini.
" Kapan bapak akan membawa laura ke Amerika ?" tanya ustadz A'ab yang telah mengetahui rencana itu.
" Dokter bilang menunggu sampai laura sadar, begitupun dengan kakaknya yang ada di amerika, terlalu beresiko kalau dalam kondisi yang seperti ini di bawa terbang kesana! " Jawab Handika.
" kalau begitu sebelum laura pergi kesana, bolehkan saya melamar anak bapak saat dia sadar nanti ?" tanya ustadz A'ab pada Handika serius.
Handika tersenyum kagum dengan pertanyaan itu. Handika tahu betul selama hampir sebulan ini bagaimana kesungguhan orang yang ada di hadapannya pada sang putri. Menurut Handika pria ini adalah pria luar biasa dan sangat tepat bagi sang putri.
" Apa yang akan kamu berikan kepada anak saya kalau saya menerima lamaranmu ?" Handika balik bertanya.
" saya tidak bisa memberikan atau menjanjikan apapun pak, karena saya hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa, tapi saya akan berusaha membahagiakan anak bapak semampu saya, berusaha menjadi imam yang baik untuk anak bapak dan juga keluarga bapak !" jawab ustadz A'ab yang lagi-lagi membuat handika terkagum.
Ratih yang dari tadi mendengarkan pembicaraan kedua orang itupun tak kalah kagum dengan handika. Merasa beruntung sang putri di cintai pria sepesial seperti itu.
Hari sudah semakin sore, karena membawa fitri dan aisyah hari ini ustadz A'ab tak berlama-lama di rumah sakit. setelah berbicara sejenak dengan Handika ia berpamitan kembali ke pesantren mengingat fitri juga harus mengikuti kegiatan berikutnya.
" aku pamit yo ra, kamu lama banget tidure kayak putri tidur, awas nanti nek bangun tak uyel-uyel kamu udah biarin aku tidur sendirian tiap malem !" pamit fitri di iringi dengan celotehan yang berharap akan di dengar laura.
Aisyah dan fitri berlalu lebih dulu keluar kamar dan menuju parkiran. sementara ustadz A'ab berpamitan paling akhir di antara ketiganya.
" tuch kamu denger kan bagaimana mereka merindukanmu, Aku juga merindukanmu wahai bidadari surgaku !" ujar ustadz A'ab dengan seulas senyum manis membuat Ratih dan Handika yang memperhatikan dari ujung sana terkekeh sekaligus terharu dengan perlakuan manis yang jarang mereka temui itu.
" Ternyata ustadz kalau jatuh cinta lebih so sweet ya pa,...!" ujar Ratih pada sang suami.
" jadi menurut mama, papa gak romantis ?" tanya Handika memicing.
" bukan gitu pa, ya beda aja gitu lah, mama mau mantu yang kaya gitu pa !" gemas ratih terus mengawasi sang ustadz yang masih belum bergeming dari sisi sang putri.
Setelah dirasa cukup berpamitan dengan putri tidur yang terbaring di ranjang serba putih itu ustadz A'ab membalikkan tubuh berniat menyusul fitri dan aisyah yang lebih dulu keluar ruangan.
Namun Langkah itu terhenti saat melihat tangan mungil di sampingnya tergerak dengan sangat pelan. satu persatu jari itu tergerak. Dengan segera ia memberitahukan itu kepada Handika dan Ratih dan lekas memanggil dokter untuk segera mengecek keadaan laura.
" Bagaimana keadaan anak saya dokter ?" tanya Handika usai pemeriksaan berakhir.
" Alhamdulillah, kondisi anak bapak sepertinya mengalami kemajuan, teruslah di rangsang dengan kata-kata yang membuatnya tersentuh, Insya Allah tak lama lagi pasti dia akan segera bangun !" terang sang dokter.
" Alhamdulillah, terima kasih banyak dokter !"
Dokter berlalu setelah menjawab ucapan terima kasih dari handika. Dan kembali handika menatap pria yan berhasil menyentuh hati sang putri dengan lekang. Di peluknya pria berusia 29 tahun itu dengan sangat erat. sebagai bentuk terima kasih yang tak dapat di ungkapkan.
" Di terima jadi mantu !" ujar Handika setelah melepaskan pelukannya dari ustadz A'ab.
"Alhamdulillah! " jawab ustadz A'ab dengan seulas senyum Bahagia.
Bahagia karena laura akhirnya telah menunjukan tanda kehidupan. Bahagia dengan ucapan Handika sebagai restu untuk melamar laura sebagai penyempurna separuh agamanya.
Semoga saat kamu bangun nanti, kamu juga akan menerimaku seperti keluargamu, maafkan aku yang tak tahu saat kamu terluka karena ku waktu itu, Segeralah bangun agar aku bisa minta maaf di hadapanmu, Maafkan aku yang selalu berpura-pura acuh di hadapanmu, Maafkan kemunafikan ini....