Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Peresmian Perpustakaan



Ruangan usang dan berantakan yang kemarin di tata dan di bersihkan oleh laura dan ustadz A'ab hari ini akan di resmikan menjadi perpustakaan khusus santri putri. Sedangkan untuk santri putra menggunakan perpustakaan lama yang di tata ulang dan di setting lagi sesuai dengan kebutuhan.


Buku-buku yang dikirim dari jakarta oleh Handika telah sampai kemarin malam. Para pengurus dan ustadz/h yang menata dengan sedemikian rupa tanpa melibatkan banyak santri mengingat di malam hari kegiatan para santri juga sangat padat.


Laura, fitri dan aisyah tampak antusias untuk mengikuti acara peresmian Perpustakaan baru di pesantren tercintanya itu. Apalagi laura husus memang di hadirkan disana sebagai bentuk terima kasih pihak pesantren kepada keluarga laura yang sudah bersedia menjadi donasi dalam menunjang kebutuhan pesantren itu.


" papa ? jadi papa ?" ujar laura masih tak percaya saat orang tua laki-lakinya yang di sebut sebagai donatur utama pendirian perpustakaan pesantren dalam pidato yang di sampaikan langsung oleh sang kyai itu.


"Terima kasih saya ucapkan kepada mbak laura selaku wakil dari keluarga bapak handika, Insya Allah Allah akan membalas dengan balasan yang sebaik-baiknya. dan Insya Allah untuk klinik pesantren yang sudah di minta ayahnya mbak laura akan segera kami wujudkan , sekali lagi terima kasih, Kiranya cukup dari saya semoga perpustakaan ini dapat menjadi manfaat bagi kita semua, wal 'afwa minkum Tsumassalaamu'alaikum warahmatullah wabarokatuh !" pungkasan dari pidato kyai mahmud yang di sambut dengan tepuk tangan meriah dari semua santri yang turut hadir dalam acara peresmian tersebut.


"makasih ya ra !" ujar aisyah memeluk sahabat di sampingnya yang masih belum juga bisa percaya dengan apa yang baru saja di dengar.


" iyo ra, bapakmu sugih dunyo sugih ati ( ayahmu kaya harta kaya hati) !" fitri juga menghamburkan pelukan pada laura dan aisyah.


Laura bahkan masih tak bisa mempercai semua kenyataan ini. Papanya bukan hanya mendukung langkahnya, tapi juga bersedia menjadi donatur di tempat yang menjadi tempat tinggalnya sekarang ini. Ingin rasanya laura memeluk dan berterima kasih pada orang tua laki-lakinya itu. Namun sayang orang itu tak berada di sisinya sekarang ini.


"Assalamualaikum! " sapa seseorang dari belakang ketiga gadis yang masih berpelukan itu.


"wa'alaikumussalam! " jawab ketiganya.


"ech, ustadz !" fitri menunduk hormat.


"kang fauzi !" aisyah dengan senyum ramahnya.


Laura hanya menatap dengan seulas senyuman tanpa melibatkan kata-kata. Dan senyum ketiga gadis itu di balas senyuman manis pula oleh sang ustadz tampan.


"Terima kasih ya mbak laura, sudah ikut menunjang fasilitas belajar di pesantren ini !" ujar ustadz Fauzi kemudian setelah saling menyapa.


" Bukan saya ustadz, tapi papa saya !" terang laura dengan sopan.


" Iya, maksud saya itu, tolong sampaikan terima kasih saya pada papa kamu !" ujar ustadz Fauzi yang entah kenapa setiap bertemu laura selalu membuatnya salah tingkah.


" Insya Allah ustadz, !" jawab laura lagi-lagi dengan senyumnya yang membuat hati ustadz fauzi berdegup kencang.


Astagfirullah hal adziiim, ojo senyum gitu toh ra, ga kuat aku ! Batin Fauzi


" ustadz, kita pamit dulu nggih mau Diniyah !" Pamit laura pada ustadz yang masih terdiam di hadapanya itu.


Laura dan kedua sahabatnya berlalu dari hadapan sang ustadz untuk mempersiapkan diri berangkat diniyah seperti apa yang dikatakan. sedangkan ustadz Fauzi kembali ke ruangannya untuk melakukan aktivitas selanjutnya. Dengan hati berbunga dan senyum yang selalu mengembang di bibirnya melewati setiap lorong menuju ruanganya. sebagian orang menganggap aneh dan sebagian lagi memilih cuek dengan sikap ustadz fauzi pagi ini.


"mengsam mengsem terus (senyam senyum terus ) !" ujar ustadz A'ab mencibir sesampainya sahabatnya itu di dalam ruangan yang sama dengannya.


"opo sih ab, g seneng tenan sahabate bahagia ( apa sih ab, g suka banget sahabatnya bahagia)!" gerutu fauzi menyurutkan senyum yang dari tadi mengembang di bibirnya.


" mesti bar ketemu laura!" tebak A'ab


" sok tau kamu ab, tapi emang iyo sih !" fauzy kembali memasang senyumnya mendengar nama laura di sebut.


" kari ngomong iyo ae kog dowo tenan (tinggal bilang iya aja kog panjang sekali) !" gerutu A'ab memutar bola matanya dan kembali fokus pada koran di tangannya.


" karepku lah, kon nek cemburu ngomongo (terserah aku lah, kamu kalau cemburu ngomong aja)!" cletuk fauzi sinis.


Iya begitulah kedua orang itu saat berkumpul menjadi satu. keduanya adalah santri senior yang di angkat menjadi ustadz di pesantren ini. Bedanya Fauzi masih mempunyai keluarga lengkap dan juga mampu untuk membiayai kehidupannya di pesantren. Sedangkan A'ab sejak kecil bisa menimba ilmu di pesantren karena belas kasihan keluarga ndalem. Meskipun demikian ia tak pernah minder dan juga selalu berusaha keras hingga menjadi ustadz muda yang bertalenta seperti saat ini.


"Ab,...!" panggil fauzi stelah keduanya beberapa lama terdiam.


"hemm...


"awakmu gk tertarik karo laura to ?" tanya


fauzy memastikan.


"emang layangan tertarik !" jawab A'ab datar membuat si penanya geram.


" awas aja berani ngrebut yayang laura dariku !" ancem fauzi pada sahabat yang dari tadi tak mengalihkan padangan dari koran di hadapanya itu.


Sedangkan orang yang di maksud hanya menaikan alis melirik ke arah lawan bicaranya sebelum akhirnya membuka suara." Jodoh, maut, rizky wes ono seng ngatur, ora usah ngatur sing nggawe urip ( jodoh maut rizky sudah ada yang ngatur, ga usah mengatur yang maha menghidupkan) !" tutur A'ab yang kemudian beranjak dari tempat duduknya membawa tumpukan kitab yang sudah siap di ajarkan pada anak didiknya yang kebetulan hari ini sedang ada jam di kelas putra.


" inggih pak ustadz !" Jawab fauzi meledek.


A'ab hanya menggeleng sebelum melenggang pergi dari hadapan sahabat yang sedang kasmaran itu menuju kelas putra yang mungkin sudah menunggunya di sana.


*mohon maaf baru up, author habis pulang kampung, di sana g ada signal, Terima kasih udah setia membaca , Jangan lupa jempolnya ya😊*