
" Laura !"
" Kenapa loe semua berisik banget sih, ganggu tidur gue aja !" dengus laura meski masih terdengar lemas.
Semua orang terdiam melihat ke arah sumber suara. semua memastikan bahwa apa yang mereka dengar benar-benar dari wanita yang terbaring di ranjang serba putih itu. Daripada sekedar melongo ustadz A'ab memilih mendekat kearah dimana wanita cantiknya itu berbaring. Sebelumnya meletakkan bayi laki-laki yang tadi berada di pangkuannya ke dalam box.
" Assalamualaikum imam surgaku!" sapa laura dengan senyum manisnya saat sang suami telah berada di sampingnya.
" wa...wa'alaikumussalam, ka..kamu..kamu sudah bangun ra ?" ustadz A'ab tak bisa menahan air matanya saat melihat mata cantik yang lebih dari seminggu ini tertutup rapat itu benar-benar terbuka. Tak dapat mengutarakan betapa bahagia dan bersyukurnya dirinya saat ini melihat istrinya telah kembali membuka mata dan bisa berkumpul kembali dengannya dan kedua buah hati mereka.
" Kenapa nangis ? kamu ga suka aku bangun ?" tanya laura pura-pura merajuk.
" mana mungkin aku ga suka kamu bangun, aku sudah menunggunya, Ali dan Fatimah sudah rindu ingin di gendong uminya !" jawab ustadz A'ab dengan air mata yang masih tak tertahan.
Laura mengrenyitkan kening mendengar suaminya menyebut nama Ali dan Fatimah. Melirik perutnya yang sudah rata dan masih terasa sedikit perih disana. kembali menatap kearah sang suami mengisyaratkan tanya.
" Anak kita ?"
" iya, kamu sudah melahirkan anak kita dengan selamat sayang !" jawab ustadz A'ab berkali-kali mencium punggung tangan sang istri yang ia genggam sejak tadi.
" Terima kasih, Terima kasih telah berjuang dan kembali kepada kita ra, Terima kasih ra, Terima kasih !" imbuh ustadz A'ab tak hentinya menciumi tangan laura dan berucap terima kasih hingga laura merentangkan kedua tangannya yang masih lemah membawa sang suami yang tengah terisak itu kedalam pelukannya.
Keadaan yang semula riuh hening seketika menyaksikan bagaimana sepasang suami istri itu meluapkan kebahagiaannya. Kebahagiaan karena akhirnya laura bangun dari tidur panjangnya, bahagia laura bisa berkumpul kembali dengan keluarga kecil mereka.
" Aku pengen lihat anak kita !" ucap laura mengurai pelukannya dari sang suami.
" sebentar ya, !"
Sebelum ustadz A'ab beranjak dari posisinya bu khomsah dan Ratih lebih dulu mendekat membawa Ali dan Fatimah kepada uminya.
" Anak aku yang mana ma ?" heran laura melihat ibu dan mamanya sama-sama menggendong seorang bayi.
" dua-duanya anak kita sayang, kamu sudah melahirkan Ali sekaligus Fatimah untukku !" jawab ustadz A'ab membelai pipi sang istri dengan lembut.
" maksud kamu anak kita kembar ?" masih enggan percaya laura mencoba memastikan.
" iya, Ali dan Fatimah !"
Laura benar-benar bahagia juga tak menyangka kalau Allah memberikan Ali dan Fatimah sekaligus untuknya. Saking bahagianya tak sadar ia mencoba bangkit dari tidurnya namun terhenti saat dirasa perut bekas jahitan cesarnya masih terasa perih.
" Awwww!"
" hati-hati sayang, aku bantu !"
" kamu mau gendong?" tanya Ratih menyeka air yang membasahi pipi anak perempuannya.
Laura mengangguk dengan segera dan Ratih dengan hati-hati meletakkan bayi yang ada gendongannya ke pangkuan laura sisi sebelah kanannya disusul bu khomsah meletakkan satu lagi bayi perempuan disisi kiri pangkuan laura.
" Ali sangat mirip denganmu nak!" ucap ratih membelai lembut pipi mungil di pangkuan anaknya itu dan laura tersenyum menatap anak laki-lakinya itu.
"dan Fatimah mirip sama aby nya !" kini bu khomsah membuka suara dengan segera laura juga melirik ke bayi perempuannya itu dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.
" Fatimah di jodohin sama ozil ya ra ?" Akhirnya setelah saling terharu fitri membuka suara saat nama Fatimah di sebut oleh ibu mertua laura.
" ndak bisa, pokoknya di jodohin sama shulton ab, itu kan anakmu juga, kamu temenku!" sahut ustadz fauzy kembali tak terima dengan ucapan fitri.
Laura yang semula menikmati memangku kedua buah hatinya merasa kembali terusik dengan perdebatan kedua orang yang berhasil membangunkannya itu.
" ogah gue jodohin anak gue sama anak kalian berdua, ozil anaknya Reza sama fitri udah jelas kaga bakal ada kalem kalemnya, sulthon anaknya ustadz fauzy yang melow sama ustadzah izza yang garangnya kebangetan, mending gue jodohin sama azmi noh yang jelas-jelas emak bapaknya kalem, dan gue udah jatuh hati sejak pertama ketemu sama tu bocah, untung punya anak cewek jadi bisa gue jadiin mantu tu bocah !" cerocos laura meski baru sadar mulutnya seperti sudah tak perlu pemanasan untuk sekedar latihan berbicara.
Tawa membahana pecah seketika setelah ucapan laura berakhir dari semua orang yang ada disana kecuali Reza, Fitri dan ustadz fauzy yang mendengus mendengar perkataan itu merasa di lecehkan oleh wanita yang baru siuman itu.
" ck, kalau bangun aja ngeselinnya minta ampun si laura ini !" decak Reza yang segera di angguki sang istri.
" bener kamu za, dulu tak kira juga kalem sebelum jadi istrine A'ab, setelah tahu sifat aslinya jadi nyesel aku !" sahut ustadz fauzy.
" nyesel opo nyesek karena ndak bisa miliki zy ?" ustadz Farhan yang dari tadi hanya menyimak kembali buka suara membuat ustadz fauzy yang sedang meneguk minuman tersedak seketika.
Dan kembali tawa menggelegar melihat ustadz tampan itu ternistakan. Kecuali reza yang menahan tawanya karena kalau dia ikut pasti diapun akan menjadi sasaran bullyan yang sama karena dia juga pernah sama-sama mencintai laura.
" masalalu han, kenapa di bahas terus sih!" ucap ustadz fauzy tak terima terus di pojokkan karena perasaannya di masalalu.
" dia kan memang ndak pernah ngajar dan ketemu laura di masa itu ustadz, akui saja kita pernah kalah sama pesona laura !" ucap reza yang langsung mendapat delikan tajam dari sang istri.
" masalalu, please !" imbuh reza mengklarifikasi ucapannya kepada sang istri.
Sementara laura sudah acuh dengan pembahasan para tamunya yang konyol itu. dan lebih fokus pada dua bocah menggemaskan yang ada di pangkuannya. Tak hentinya laura bersyukur masih di beri waktu untuk berkumpul bersama keluarga kecilnya. Terlebih ada dua malaikat kecil yang akan melengkapi rumah tangganya bersama orang yang di cintanya.
" Terima kasih ya ra, kamu sudah berjuang untuk berkumpul bersama kita lagi !" ucap ustadz A'ab tulus pada sang istri yang terlihat begitu bahagia bermain dengan buah hatinya itu.
" semua atas kehendak Allah !" jawab laura dengan senyum manisnya.
Kalau Allah sudah berkehendak maka tak ada yang tak mungkin baginya. termasuk menghidupkan seseorang yang sudah tak ada harapan hidup menurut dokter sekalipun. karena hidup bukan di tangan dokter tapi di tangan yang maha Menghidupkan.