
Hampir semalam suntuk laura tak bisa memejamkan mata karena kram perut yang berlebihan akibat tamu bulanannya. Ustadz A'ab yang melihat itu tentu tak tinggal diam. Dia begitu panik ketika mendapati wajah sang istri pucat dengan keringat dingin yang terus mengucur di wajah cantiknya. Berkali-kali menawarkan sang istri untuk di bawa ke dokter namun laura menolak. karena memang ia sudah terbiasa seperti itu, bukan di hari pertama menstruasi melainkan hari selanjutnya dan minimal rasa sakit karena kram itu akan menghilang dalam waktu tiga hari. Meskipun begitu suami mana yang tega membiarkan sang istri merintih kesakitan. apalagi baru pertama kalinya harus menangani kasus yang seperti ini.
Menjelang pagi setelah meminum obat pereda nyeri laura akhirnya bisa tertidur dengan pulas. Melihat hal itu terbitlah rasa lega di hati sang suami. meskipun sebenarnya sangat lelah setelah menerima tamu seharian dan malamnya harus menjaga sang istri yang kesakitan.
" Laura mana ustadz ?" tanya kevan melihat ustadz A'ab turun seorang diri dari kamar tanpa sang adik.
" masih tidur kak, menjelang subuh tadi baru bisa tidur karena kram di perut akibat tamu bulanannya !" terang ustadz A'ab bergabung dengan anggota keluarga yang lain tampak menunggu sarapan pagi.
" wach, jadi laura lagi datang bulan ?" sahut kevin menyeringai dan satu anggukan di berikan ustadz A'ab sebagai jawaban.
" Gagal donk produksi keponakannya !" celetuk kevin yang langsung mendapat geplakan sendok dari orang di sampingnya.
Siapa lagi kalau bukan sang saudara kembar yang selalu gemas dengan saudaranya itu. Sedangkan ustadz A'ab hanya tersenyum kecil, sementara handika dan ratih menggeleng mendengar ocehan sang anak yang suka sekali menggoda sang menantu itu.
" Laura memang selalu seperti itu nak, terkadang sampai pingsan kalau sudah terlalu lemas! " terang ratih membuka suara.
" iya bu, semalam sudah saya tawari untuk ke dokter tapi dia bersikukuh tidak mau, sampai semalaman bergulang guling kesakitan !" terang ustadz A'ab.
" panggil saja istri saya mama, dan saya papa, kamu kan sudah resmi jadi menantunya papa !" sahut Handika membenarkan panggilan sang menantu untuknya dan istri.
" oh,...iya pa...ma...!"ujar ustadz A'ab masih sedikit canggung namun ia harus terbiasa dengan panggilan itu.
Setelah menyelesaikan sarapan bersama anggota keluarga barunya ustadz A'ab kembali ke kamar dan membawakan sarapan untuk sang istri. Namun sepertinya laura masih terjaga dan mungkin terlalu lelah menahan sakit semalaman sampai belum juga menandakan akan segera terbangun.
" Alhamdulillah, terima kasih telah manjadikan gadis cantik ini sebagai pelengkap agamaku ya Allah !" ujar ustadz A'ab menyibak anak rambut yang menutupi wajah sang istri dengan lembut.
Di pandanginya setiap inci dari wajah cantik gadisnya itu dengan seksama. Dalam hati tak henti bersukur telah di jodohkan dengan gadis yang memang menjadi tempat pertama pelabuhan hatinya itu.
" Hub,...!" ujar laura dengan suara serak has orang bangun tidur masih berat membuka mata lentiknya.
" emmm,...!" jawab ustadz A'ab dengan senyum manisnya.
" kamu ga tidur ?" tanya laura membelai lembut pipi kiri sang suami yang masih betah dalam posisinya memandangi sang istri.
" kamu terlalu cantik, sayang kalau di tinggal tidur !" jawab ustadz A'ab yang tentu langsung membuat pipi putih laura memerah seketika.
" gombal,...
Ustadz A'ab benar-benar menyukai pipi merah bak tomat itu. baginya sangat menggemaskan melihat ekspresi itu dari sang istri.
" yaudah, bangun dulu bebersih, makan lalu istirahat lagi , ini makanannya udah tak bawa kesini! " ujar ustadz A'ab lembut.
Laura tentu sangat bahagia mendapat perlakuan itu dari pria yang saat ini telah sah menjadi suaminya. Hatinya selalu menghangat di setiap perlakuan dan kata yang keluar dari mulut sang suami. Bahkan ia masih berasa bahwa semua ini seperti mimpi bisa bertemu apalagi menikah dengan orang yang benar-benar ia inginkan.
Setelah nampak segar laura kembali duduk disisi sang suami yang menunggunya di shofa panjang dekat jendela kamar lengkap dengan sarapan yang tadi sudah di bawakan.
" gimana ? udah enakan perutnya, ? " tanya ustadz A'ab pada sang istri yang sudah menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
" emmm,...!" cukup jawaban singkat beserta anggukan yang di berikan laura.
" makan dulu, nanti minum obat lagi !" ujar ustadz A'ab membelai lembut rambut sang istri yang masih betah pada posisinya.
" kenapa ? apa minta di suapin ?" tanya ustadz A'ab.
" Andai kamu tahu rasanya, pasti juga sama !" jawab laura semakin bermanja.
Hemh,...Ustadz A'ab menarik panjang nafasnya. memang benar ia tak pernah tahu apa yang di rasakan sang istri. Tapi setidaknya kalau ia tidak mau makan justru akan membuatnya semakin sakit.
Dengan berbagai macam rayuan akhirnya laura mau menghabiskan makanan yang di bawa oleh sang suami. Meski harus melalui drama yang panjang.
" Hub,...!" panggil laura saat keduanya telah bersantai usai menghabiskan sarapannya.
" hemmh...
" ada banyak hal yang masih membuatku penasaran! " ujar laura mengacak acak acara televisi di depannya.
" katakan, apapun itu kalau aku bisa menjawab akan tak jawab !" ustadz A'ab tak bosan mengelus rambut indah sang istri.
" sejak kapan kamu mencintaiku ?" laura membuka pertanyaannya.
" bukankah sudah pernah aku katakan? sejak awal kamu masuk pesantren, !"
" masa cuma gitu tok, awal ceritanya gimana ?" laura mulai beralih menatap sang suami.
" harus emang ?" tanya ustadz A'ab di angguk laura dengan serius
"ayolah serius,...!" ujar laura memohon.
" Dengar, setelah ini tidak ada siaran ulang!" ustadz A'ab memegang kedua pundak laura dan menatapnya dalam-dalam.
" aku berada disisi abah saat papa memasrahkan kamu pada abah waktu itu, papa bercerita banyak tentang kamu dan disitulah dadaku berdebar mendengar ada seorang gadis dari keluarga yang tidak pernah mengenalkannya pada agama, tiba-tiba saja ngotot minta di sekolahkan di pesantren, apalagi melihat penampilan papa waktu itu yang sudah pasti bisa di tebak kalau kehidupanmu pasti serba mewah, dan yang membuat kagum adalah mana mungkin anak orang kaya mau sekolah di pesantren yang kumuh dan tidak terkenal seperti itu !" terang ustadz A'ab seperti yang diminta laura.
" Tapi saat pertama bertemu dan seterusnya kamu selalu ngeselin !" Bibir laura maju lima centi meter mengingat awal pertemuan dengan sang suami yang menurutnya tak pernah indah.
" Aku cuma ndak ingin perasaan yang belum waktunya itu akan menggoyahkan imanku, !" ujar ustadz A'ab mencubit gemas pipi sang istri.
" Awww,...Alesan.....!" ringis laura diikuti cibiran sinis yang membuat sang suami semakin gemas dan ingin segera memakan gadis mungil itu.
Tanpa meminta persetujuan ustadz A'ab mencium bibir sang istri dengan lembut dan tentu itu membuat mata laura terbelalak kaget. Tanpa merespon ataupun menolak karena ini memang pengalaman pertamanya. Namun lama kelamaan keduanya larut dalam kemesraan itu sampai sebuah telpon dari ponsel laura menghentikan adegan suami istri itu.
"ck,...apaan sih ganggu aja !" decak ustadz A'ab sedangkan wajah laura yang sudah memerah dan salah tingkah segera berlari meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur.
" siapa ra ? kenapa ga di angkat ?" tanya ustadz A'ab melihat sang istri hanya terdiam memegangi benda pipih dengan bunyi nyaring itu.
Sebenarnya laura yang masih merasa gugup dan gemetar mencoba menetralisir detak jantungnya sehingga belum terfokus pada benda pipih itu meski sudah berada di tangannya.
" Ach...i...iya..om Reno !" jawab laura dengan salah tingkah tak mungkin dengan kondisi seperti saat ini ia menerima telpon.
" Sudah sahkan ? kenapa harus malu ? itu wajar di lakukan suami istri, kita tidak melanggar aturan agama, justru menambah pahala !" ustadz A'ab mencoba memberikan pengertian sang istri bahwa mulai saat di sahkan keduanya sebagai suami istri maka laura harus mencoba terbiasa dengan hal-hal seperti yang baru saja mereka lakukan.
Laura hanya menanggapi ucapan itu dengan seulas senyuman di bibirnya. dalam hatinya berharap akan bisa menjadi yang terbaik untuk sang suami.