Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Nikmat yang Haqiqi



" awww, sakit mas !"


semua orang yang tengah menunggu laura tersadar dari pengaruh obat bius di gegerkan dengan jeritan dan ringisan putri yang sepertinya akan melahirkan hari itu juga. Kevin mulai panik, dengan segera ia mengangkat tubuh sang istri untuk dibawa ke ruang bersalin sesuai dengan arahan orang tuanya.


" Mas temenin !" ucap putri menahan sakitnya.


" tapi sayang, aku...


" mas....


"ok baiklah,..


Sejak kecil kevin takut dengan darah tapi apa boleh buat melihat wajah memohon sang istri ia juga tak tega. Meski tak yakin akan bertahan, kevin menemani putri untuk masuk ruang bersalin. Tubuh kevin sudah gemetar melihat istrinya terus meringis kesakitan. Berusaha memberi semangat meski dalam hatinya ketakutan.


"Aaaaaa,..... aku ga kuat mas....!" jerit putri yang membuat hati kevin semakin teriris


" kamu pasti kuat sayang, !" ucap kevin panik mengecup dan mengusap keringat yang membasahi kening sang istri.


Kevin benar-benar tak tega melihat istrinya kesakitan. Membiarkan tubuhnya menjadi pelampiasan kebrutalan sang istri menyalurkan rasa sakitnya. Rambut, baju , tangan, entahlah semua telah mejadi korban. Dan....


oek..oek


Bersamaan dengan itu tubuh kevin jatuh ke lantai melihat tubuh bayi mungil penuh darah yang di angkat suster. Begitupun dengan putri yang telah menghabiskan sisa tenaganya untuk melahirkan sang buah hati langsung pingsan begitu tangisan terdengar.


Merepotkan memang si kevin, istrinya yang melahirkan dianya malah ikut pingsan membuat kerepotan yang bertambah-tambah. Kevan yang mendengar berita kedua adiknya melahirkan juga langsung meluncur kerumah sakit bersama istri dan anaknya.


" Bangun woy...!" teriak kevan di telinga saudara kembarnya yang tak kunjung sadar padahal istrinya sudah sadar dari tadi.


" Apa sih loe van, kuping gue ga budek !" dengus kevin menampol pipi saudara kembar yang masih di sampingnya.


" tampang aja loe yang tengil, lihat istri lahiran aja pingsan!" cibir kevan mencebikkan bibir.


Kevin hanya mendengus tak bisa menampik karena yang dikatakan saudara kembarnya itu memang benar. Bisa-bisanya dia pingsan disaat penting seperti saat ini. padahal ia belum sempat melihat wajah buah hatinya.


" Bini gue mana van ?" tanya kevin.


" di culik alien !" jawab kevan sekenanya.


memutar bola matanya malas kevin lebih memilih bangun dan mencari keberadaan istri dan anaknya dari pada meladeni saudara kembarnya yang menyulut emosi itu.


" salah arah !" ucap kevan yang sedari tadi mengekor di belakang ayah baru itu.


" ck, kenapa ga bilang dari tadi sih !" decak kevin bergantian mengekor di belakang saudara kembarnya.


Putri telah menyambut kedatangan suaminya dengan senyum manisnya di temani adik beserta ayahnya. Handika juga berada disana sementara Ratih masih di ruangan laura karena sampai saat ini laura masih belum sadarkan diri. Karena lahirannya bersamaan Handika dan Ratih harus membagi tugas. Agar sama-sama adil dan tidak pilih kasih.


Di dalam ruangan putri telah menyambut kevin dengan senyum manisnya. Rasa syukur tiada tara, penantian yang berbuah manis. Setelah menanti lebih dari 2 tahun lamanya akhirnya hari ini terbayar sudah dengan lahirnya bayi perempuan mungil dengan berat 3, 3kg dan panjang 49cm. Kevin segera menghampiri gadis cantik yang telah bertaruh nyawa melahirkan buah hatinya itu.


" Terima kasih sayang, terima kasih telah berjuang melahirkan buah cinta kita !" ucap kevin mengecup seluruh wajah sang istri menyalurkan seluruh rasa terima kasihnya kepada sang istri.


" bukankah itu sudah menjadi tugasku ?" jawab putri dengan senyum tulusnya.


Tak kuasa menahan haru air mata kevin yang tertahan di pelupuk mata akhirnya tumpah bersamaan dengan pelukan putri yang membawa tubuh ayah dari anaknya itu kedalam pelukannya. Tak hentinya kevin bersyukur atas nikmat yang begitu luar biasa ini.


" ehem...buatnya aja semangat, giliran suruh nungguin istri lahiran pingsan, !" cibir Handika mengalihkan perhatian dua insan yang sedang menangis haru menyalurkan kebahagiaan menjadi orang tua baru itu.


Putri terkekeh mendengar cibiran sang mertua yang di tujukan kepada suaminya itu. Sementara kevin sudah berdecak, Andai saja yang ngomong bukan orang tuanya pastilah sudah melayang sendal yang ia kenakan ke kepala pria tua itu. Meski benar apa yang di katakan papanya itu, mana rela seorang kevin martabatnya di jatuhkan apalagi oleh papanya sendiri.


Beralih dari orang tua menyebalkan itu kevin baru teringat satu hal. Dia belum bertemu dengan bidadari kecilnya sejak tadi masuk ke dalam ruangan itu. Masih terngiang di kepala kevin tangisan pertama bidadari kecil itu sebelum dia terjatuh pingsan.


" anak kita mana sayang ?" tanya kevin membelai lembut kepala sang istri.


" Masih di ruang bayi mas, di bersihkan suster !"


Baru saja putri berhenti berucap, suster telah datang membawa bayi perempuan mungil itu kedalam ruangan putri. Bayi perempuan dengan wajah 99% hampir sama persis dengan ayahnya. Kalau laura bilang sih karena ayahnya lebih semangat ketika memproses. hehe...


" cantik sekali kaya papa sayang !" ucap kevin kagum menatap setiap inci dari wajah gadis mungilnya.


" masa sih mas ?" penasaran putri mendekatkan wajahnya ke arah bayi perempuan yang ada di gendongan suaminya.


" Kamu liat aja tuch, hidungnya mirip banget kaya aku, mirip kaya adek ali juga !" ucap kevin gemas menelusuri wajah bayi mungil itu dengan telunjuk kanannya.


" Haish, curang banget sih, kan anak aku juga, kenapa yang mirip cuma matanya doang !" protes putri melihat bayi perempuan itu benar-benar mirip seperti Ali dan kevin.


Kevin terkekeh mendengar protesan kekesalan sang istri itu. Membuat wanita satu anak itu nampak semakin menggemaskan.


" tampang boleh lah vin kaya kamu, secara kamu turunan papa ya pasti ganteng lah, asal nyebelinya ga kamu turunin juga aja !" celetuk Handika mendekat ke arah cucu perempuannya.


" sadar pa, kevin kaya gini juga nurun dari papa, ga usah ngeles lah !" dengus kevin memutar malas bola matanya.


Putri beserta keluarga hanya terkekeh mendengar percekcokan anak dan ayah itu.


Memang di fikir-fikir kalau laura dan kevin mempunyai sifat yang hampir sama secara otomatis pasti menurun dari orang tua mereka. Dan siapa lagi yang mereka turun kalau bukan papanya. Ratih kan juga bukan orang yang banyak bicara jika tidak penting. Memang sangat mudah menilai orang lain dari pada mengaca pada diri sendiri.


Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan. Dua cucu sekaligus lahir di hari yang sama melengkapi kebahagiaan Handika dan Ratih menikmati masa tua mereka. Sesungguhnya kebahagiaan bukan terlihat dari seberapa materi yang kita punya. Tapi seberapa kita mensyukuri apa yang kita punya.