
Sepulang dari rumah sakit kevan mengajak sang istri untuk kerumah adik perempuannya. Kebetulan mereka sudah lama juga tidak main bersama si kembar karena kesibukan kevan yang akhir-akhir ini sulit di tinggalkan. Sekalian memastikan bagaimana kondisi sang adik apakah sudah lebih baik.
Memasuki rumah laura yang ternyata tidak di kunci. Nampak sepi sepertinya si kembar sedang tidak berada dirumah atau mungkin sedang tidur. kevan dan zahra melenggang masuk karena dari tadi salam tidak juga ada jawaban.
" Assalamualaikum!" salam kevan di depan pintu kamar sang adik yang terbuka lebar.
" wa'alaikumussalam, kak kevan, mbak zahra !" ternyata laura tengah menidurkan fatimah
sementara Ali kembali di bawa kevin karena telah di janjikan akan di belikan mobil-mobilan oleh kevin tapi karena ada berita laura hamil dan semua orang kerumah laura akhirnya pagi tadi tak jadi pergi. Bisa dibilang kalau Ali lebih dekat dengan kevin daripada kedua orang tuanya. Pasalnya sejak kecil Ali lah yang lebih sering di bawa kevin karena fatimah selalu menangis setiap mendengar suaranya. Bahkan tak jarang Ali tidur bersama dengan kevin dan putri. Laura dan ustadz A'ab pun tak merasa keberatan karena kakaknya itu memang sudah sangat menginginkan anak namun belum juga diberikan amanah itu. setidaknya Ali bisa menjadi hiburan untuk mereka. Toh kevin juga bukan orang lain.
" Ali mana dek ?" tanya kevan telah memposisikan diri duduk di tepi ranjang dimana laura menidurkan fatimah diikuti zahra di belakangnya.
" Ali di bawa kak kevin, biasa !" jawab laura masih menepuk punggung fatimah karena belum sepenuhnya terlelap.
" suami ?"
" ada hajatan di kampung sebelah, tadinya sih ga mau, tapi aku suruh berangkat !" jawab laura yang di angguki kakak laki-lakinya itu.
Setelah memastikan fatimah terlelap laura mengajak kakak dan iparnya mengobrol di ruang tengah. Takut akan mengusik tidur anak perempuannya. Sadar diri karena dirinya terkadang sering kelepasan saat berbicara.
" perutnya mbak zahra sudah besar, apa kabar mbak ?" tanya laura menyodorkan minuman dan beberapa cemilan untuk kakak dan iparnya.
" Alhamdulillah baik ko dek, yang di perut juga sehat !" jawab zahra.
" Alhamdulillah, semoga lancar sampai lahiran !"
"Aamiin, loe sendiri gimana dek ? apa udah enakan ?" tanya kevan.
" Alhamdulillah sudah kak, semenjak minum obat yang dari dokter !" jawab laura.
Beberapa saat ketiganya berbincang tentang masa kehamilan masing-masing. Zahra menceritakan tentang masa kehamilannya selama ini. Begitupun dengan laura yang berbagi cerita tentang pengalamannya saat mengandung si kembar. Obrolan itu begitu asik sampai sebuah suara berbunyi dari saku celana kevan.
" Assalamualaikum, apa vin ?" tanya kevan.
" wa'alaikumussalam, dimana loe ? bini gue pingsan, loe bisa kesini ga ?"
" gue dirumah adek, ok gue meluncur !"
" gue tunggu, Assalamualaikum!"
"wa'alaikumussalam!"
Laura yang sedari tadi menguping obrolan di telfon kedua kakaknya itupun ikut panik mendengar kalau putri pingsan. Takut kalau itu ulah anak laki-lakinya yang banyak tingkah.
" aku ikut kak !"
" ga dek, loe di rumah aja, lagian fatimah lagi tidur dan kondisi loe juga belum terlalu fit, loe harus mikirin makhluk kecil yang ada di perut loe juga, !" jawab kevan memberi pengertian kepada sang adik.
Kevan benar tapi ia juga ingin mengetahui bagaimana kondisi putri.
Zahra adalah gadis lembut yang tak pernah sedikitpun meninggikan suara nya di atas kevan. Belum pernah juga sekalipun menolak apa yang dikatakan suaminya. Bagi kevan zahra adalah istri yang sempurna. Begitupun bagi zahra, kevan selalu memperlakukannya dengan lembut. Jadi tidak ada alasan untuk zahra membantah atau meninggikan suara di depan suaminya.
Kevan berangkat kerumah kevin. Dan meski dengan berat hati laura tinggal dirumah bersama zahra. dalam hati berdo'a semoga kakak iparnya selalu dalam lindungan Allah dan baik-baik saja.
Tak lama kevan telah sampai, dengan segera kevan bergegas mencari keberadaan kevin dan putri di kamarnya.
" kenapa bisa pingsan vin?" tanya kevan.
" tadi kesruduk pas main sama ali, gue juga ga tahu kenapa srudukan ni bocah keras banget !" jawab kevin dengan Ali yang masih di gendongannya karena dari tadi ali tidak mau turun dari gendongan kevin meski oma dan opanya yang meminta.
kevan mulai memeriksa putri yang tengah terpejam. Dan satu senyuman cukup membuat kevin ingin menjitak kepala saudara kembarnya itu. bisa-bisanya di saat ia panik karena kondisi sang istri si kevan malah nyengir begitu saja.
" selamat bapak kevin, anda akan menjadi seorang ayah !" ucap kevan kemudian yang sukses membuat mulut kevin menganga.
Hap....gulungan kertas di atas meja kecil masuk kedalam mulut membuat kevin gelagapan dan membuat Ali kecil terbahak menyaksikan penderitaan om kesayangannya itu.
" sialan loe van, !" decak kevin membuang gulungan kertas yang menyumpal mulutnya dengan kasar.
Sementara Ali dan kevan sudah tertawa ria di atas penderitaan calon ayah yang satu itu.
" tadi loe serius bilang bini gue hamil ?" tanya kevin memastikan mengabaikan rasa kesalnya kepada kembarannya itu. Kali ini informasi dari kevan lebih penting daripada jiwa ingin balas dendamnya.
" mending besok loe cek sendiri di rumah sakit, gue bawa Ali ya ? kebetulan mau jemput zahra masih disana!" ucap kevan.
" ok dech, hati-hati, mainannya di meja tengah, sekalian fatimah minta buku cerita juga udah gue beliin !" Jawab kevin tak lupa mencium pipi gembul keponakannya yang satu itu.
Setelah selesai memeriksa putri kevan berpamitan untuk menjemput sang istri dirumah laura. Sementara kevin masih yang masih sulit mempercayai ini terus memandangi wajah istrinya dengan lekat. mengelus perut rata sang istri.
" Apa iya disini sudah ada isinya !" gumam kevin mengelus perut sang istri yang masih dengan anteng memejamkan mata.
Putri yang merasakan sentuhan kevin perlahan mulai membuka mata. Melihat mata kevin yang tampak berkaca-kaca membuatnya semakin tak mengerti.
" kenapa mas? Ali mana ?" tanya putri.
" Alhamdulillah kamu sudah bangun, Ali di bawa kevan pulang sehabis memeriksa kamu !" jawab kevin.
" terus kenapa mata mas kevin kaya pengen nangis gitu ?" tanya putri lagi.
" Aku bahagia, kerja keras kita akhirnya membuahkan hasil, dan lebih ga nyangka lagi kalau junior kita bakal barengan sama adeknya twins!" jawab kevin di akhiri dengan kekehan.
" maksud mas ?"
" Aish, Lola banget sih istri cantikku ini, kamu hamil sayang !" Gemas kevin mencubit hidung mancung sang istri.
Bahagia? Pasti! Dua tahun sudah keduanya menantikan hadirnya makhluk kecil yang akan menjadi pelengkap rumah tangga mereka itu. Meski di awal tak pernah saling mengenal sebelumnya tapi pasangan ini adalah pasangan yang saling melengkapi satu sama lain. Putri merasa hidupnya lebih berwarna setelah mengenal kevin. Kevin selalu bisa membuat putri tersenyum bahkan tak jarang membuat putri kesal. Tapi itulah yang membuat hidup putri yang selama ini tertutup menjadi lebih berwarna.
Berita bahagia yang kedua inipun segera menyebar keseluruh anggota keluarga. Terutama laura yang begitu bahagia mendengar kabar itu, mengingat selama ini putri sering mencurahkan isi hatinya pada laura. Itu juga alasan laura selalu membiarkan ali kecil untuk dibawa kakaknya. Meski kadang laura tidak suka karena kakaknya itu terlalu memanjakan Ali sehingga berdampak pada kemandiriannya. Tapi ya sudahlah untuk sementara saja memberikan kevin dan putri kebahagiaan rasanya mengurus anak. Dan setelah ini laura dan suami punya tugas untuk mengembalikan pendidikan ali dengan cara mereka.