Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Andra dan Rania



Untuk mempersiapkan keberangkatannya ke surabaya besok pagi laura mengajak sang suami untuk berbelanja oleh-oleh untuk sang mertua dan teman-temannya yang ada disana. kali pertama laura akan pergi bersama pasangan halalnya keluar rumah. ia juga sudah bosan beberapa hari ini hanya berdiam diri di dalam rumah.


" Ga usah pake make up, dilihatin orang aku ga suka !" tegur ustadz A'ab segera saat laura hendak menggoreskan bedak di pipinya.


" dikit aja biar g keliatan kusem !" bantah laura.


" ndak ndak, udah cantik gitu aja ,....!" dengan posesif menyaut bedak yang ada di tangan sang istri dan menutupnya kembali dengan rapat.


" pake bedak kalau di rumah aja, wes ayo jalan !" ujarnya kemudian membuat laura terkekeh karena keposesifan itu.


Padahal baru beberapa hari mereka menikah sudah seposesif itu bagaimana nantinya pikir laura. Namun ia juga tak keberatan dengan sikap itu karena memang sejatinya wanita tak di perkenankan untuk menunjukkan kecantikan nya pada orang lain selain untuk suaminya.


Setelah lelah menjelajahi pusat perbelanjaan dan mendapat apa yang mereka inginkan laura mengajak sang suami untuk makan siang terlebih dahulu. Laura sudah sangat merindukan makanan yang ada di cafe langganannya yang 5 tahun lebih ini sudah tak pernah lagi di kunjunginya.


" aku sholat dulu ya, sambil nunggu makanannya datang !" pamit ustadz A'ab pada sang istri dan laura mengangguk.


Sementara sang suami tengah melaksanakan sholat dhuhur, laura yang memang masih libur menunggu makanan yang mereka pesan. Pandangan laura tiba-tiba terfokus pada seseorang yang sepertinya sudah sangat di kenal dan baru memasuki kafe yang sama dengannya.


" Rania !" teriak laura melambaikan tangan pada gadis itu.


Tapi sepertinya ia tak sendiri, melainkan bersama seseorang yang juga sudah sangat di kenal oleh laura. ya, rania tengah bersama Andra dan kebetulan mereka akan makan siang di kafe yang sama dengan laura yang memang menjadi langganan mereka sejak SMP.


" pengantin baru kog sendiri, suamimu mana ?" tanya Andra saat sampai di hadapan laura.


" lagi sholat, kalian ngapain disini ?" laura balik bertanya.


" ya mau makan lah ra, iya kali kita ke kafe mau beli sepatu !" celetuk rania.


" kali aja loe mau bantuin mbaknya cuci piring !" sahut laura datar.


" udah jadi ustadzah, mulut masih belum juga di sekolahin, !" cibir rania.


" kalo ada udah gue sekolahin ni pasti mulut gue, besok dech gue bilang bokap biar bikin sekolah mulut !" jawab laura santai semakin membuat gemas lawan bicaranya.


" songongnya ga berubah-berubah emang ni bocah !"


meladeni laura untuk adu mulut memang tidak akan ada selesainya. Rania memilih untuk diam dan memesan makanan untuknya dan Andra sesuai dengan tujuan awal mereka yang ingin mengisi kekosongan perut. sedangkan Andra yang sebenarnya masih canggung untuk berinteraksi dengan laura lebih memilih diam nendengar percekcokan dua orang itu.


" Assalamualaikum! " salam ustadz A'ab sekembalinya dari sholat melihat anggota baru di meja makan mereka.


" wa'alaikumussalam! "


" Hai hub, masih inget kan dengan mereka ?" tanya laura menggeser duduknya membiarkan sang suami duduk di sampingnya.


" iya, tapi lupa siapa namanya !" jawab ustadz ustadz A'ab.


" Rania, temen aku dari kecil, yang itu kak Andra kakak kelas aku !" Laura memperkenalkan kedua orang di hadapanya.


Meskipun pernah bertemu di acara penikahan mereka beberapa waktu lalu. Tapi laura memang belum mengenalkan siapa nama orang di hadapanya pada sang suami. mengingat waktu itu saat laura memperkenalkan teman-temannya pada sang suami kedua orang itu lebih dulu menghilang.


" oh, mereka kan udah kerja, jadi jarang bareng kalau ga waktu libur !" jawab Andra masih canggung.


" emang kak Andra ga kerja ?"


" kepo banget sih lo ra, !" celetuk rania menyahuti obrolan kedua orang itu.


" mana ada, gue kan cuma nanya , g usah cemburu dech loe !" laura memutar malas bola matanya.


" katanya temenan dari kecil, kog yo kaya kucing sama tikus dari tadi !" ustadz A'ab membuka suara setelah meneguk minuman yang ada di depannya.


" istrinya ustadz tuh yang mulai, !" ketus rania tak terima.


" dari tadi gue nanya baik-baik sama kak andra elonya aja yang sewot !" laura tak mau kalah membela diri.


" Astagfirullah hal adziiim! " ustadz A'ab membungkam mulut sang istri agar percekcokan itu segera berhenti.


Rania yang merasa menang meledakkan tawanya dengan kencang begitupun dengan andra yang merasa lucu dengan tingkah pasangan pengantin baru itu.


" Huby apaan sih ach, aku kan ga salah !" gerutu laura begitu sang suami membuka bungkamannya.


" kupingku geli denger kalian ga ada akur-akurnya !" ujar ustadz A'ab kembali meneguk minuman di hadapanya.


Rania kembali terpingkal melihat ekspresi kesal sahabat kecilnya itu. kapan lagi mengalahkan laura dalam berbicara kalau ga di saat seperti ini.


" oh ya ra, rencananya kalian mau tinggal dimana ? Surabaya apa disini ?" kali ini rania yang sudah puas menertawakan sahabatnya membuka percakapan.


" sementara disini dulu, untuk kedepannya di pikir nanti !" jawab laura dan di angguki rania mengerti.


"gue masih kepo, kenapa loe bisa berduaan sama kak Andra ? apa kalian udah jadian ?" tanya laura penasaran.


" belum, do'ain aja kita segera nyusul kamu ra !" kali ini Andra yang menjawab membuat Rania melongo tak percaya dengan ucapan itu.


serius ? ach, jangan percaya diri dulu ran, iya kalau itu bener, kalau cuma buat terlihat tegar di depan laura loe pasti bakal kecewa,...batin Rania.


" Aamiin, semoga di segerakan !" Do'a laura tulus.


" Makasih ra, !"


" Sama-sama! "


Rania masih terdiam tak percaya dengan jawaban Andra kepada laura. Rasanya seperti mimpi, ingin percaya tapi takut kecewa.


" Kalau memang sudah saling cocok di segerakan saja, dari pada terjadi hal yang tak di inginkan, setan sangat pandai menggoda !" Nasehat ustadz A'ab yang hanya di tanggapi senyuman oleh kedua orang itu.


mau di segerakan bagaimana ustadz kalau hatinya masih nyangkut di istri ustadz, batin Rania


Andra menoleh kearah Rania dengan senyum dan tatapan yang tak dapat di artikan membuat hati Rania berdebar semakin hebat. Jantungnya berdansa kesana kemari. Rasanya baru kali ini setelah sekian lama memendam perasaannya Rania mendapat perhatian yang membuat hatinya menghangat.