Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Liburan



Hari demi hari berlalu begitu cepat. Tahap demi tahap di lalui laura dengan sangat baik. Meskipun di awal semua terasa begitu sulit bagi seorang laura, karena harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sangat jauh berbeda. Namun Hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha seseorang.


Laura yang tak mengerti apapun tentang kehidupan beragama kini mulai berusaha menjadi muslimah yang lebih baik. Tujuan utama yang awalnya hanya mencari seseorang itu kini telah berubah. Laura mulai bisa membaca kalamullah meskipun belum begitu lancar. Laura juga sudah terbiasa melakukan sholat sunnah di luar sholat wajibnya. Dan itu adalah perubahan yang sangat luar biasa bagi seorang Laura Sabrina.


6 Bulan berlalu dan liburan semester pun telah tiba. Kalau boleh memilih, laura ingin tetap belajar di pesantren ini. Tapi disisi lain, dia sudah sangat merindukan kedua sahabatnya yang ada di Jakarta. setelah 6 Bulan tanpa komunikasi sama sekali.


Hari ini semua santri akan mudik ke kampung halaman masing-masing. Termasuk laura yang sudah bersiap lepas landas ke jakarta siang ini. Kali ini bukan kedua orang tuanya yag menjemput, melainkan kevan salah satu dari kakak kembarnya yag sudah menunggu di gerbang pesantren bersama wali murid lain yang juga tengah menjemput anak masing-masing.


" Aku pulang dulu ya syah, sampai ketemu 2 minggu lagi !" pamit Laura pada aisyah sahabatnya.


" hati-hati ya ra, udah nyatet nomor telepon ku toh ? jangan lupa hubungi aku kalo udah sampai !" pesan aisyah dengan lembut.


"pasti !" tegas laura dengan senyum manis yang sebenarnya masih berat berpisah dengan teman yang sekaligus guru baginya itu walau hanya 2 Minggu.


" aku Yo ojo lali di telpon ra, awas wae lali ( aku juga jangan lupa di telfon ra, awas aja kalau lupa )!" Fitri tak ingin ketinggalan.


" kalau kamu mah, ga penting fit ! " ujar laura mencibir sahabat konyolnya itu.


Perkataan itu sukses membuat bibir tebal fitri semakin menonjol. Dan ekspresi seperti inilah yang sangat di sukai Laura dan aisyah dari sahabatnya itu. Sudah menjadi kepuasan tersendiri bagi kedua orang itu membuat fitri kesal dengan menonjolkan bibir tebalnya itu lebih mancung dari pada hidung nya.


" udah achhh, kak kevan udah nungguin di depan, nanti aku ketinggalan pesawat lagi !" ujar laura setelah puas menertawakan sahabat di depannya.


"awas kue ra !" ancam fitri masih dengan wajah kesal yang di buat-buat.


" wes, bibirnya tarik kebelakang !" ujar laura yang langsung berlalu dari hadapan kedua sahabatnya menuju dimana kakaknya telah menunggu.


" titip salam gawe kakakmu ra !" teriak fitri yang lagi-lagi mendapat jitakan dari wanita lembut di sebelahnya.


" opo salahe sih neng, kakak.e laura ganteng!" Gerutu fitri mengusap bekas jitakan aisyah.


Kevan menyambut adik kesayangannya dengan kecupan dan pelukan hangat sebelum meraih ransel yang ada di punggung gadis cantik itu dan membawanya masuk kedalam Taxi yang sengaja di minta untuk menunggu di depan pesantren.


" kangen banget gue dek sama loe !" ujar kevan saat keduanya telah berada di jok belakang Taxi.


" Laura juga kangen sama kakak, kak kevin kenapa ga ikut ?" tanya laura menyandarkan kepalanya di bahu kekar kakak laki-lakinya itu.


" kevin masih selesain project dek, lusa baru balik !" jawab kevan yang di angguki gadis cantik itu.


Sepanjang perjalanan menuju jakarta kevan tak hentinya memandangi adik yang sedang menuju dewasa itu. Melihat perubahan drastis laura membuat kevan merasa takjub. Apalagi dari tadi adiknya itu tak henti melafadzkan ayat Al Qur'an dan sholawat merdu yang menenangkan hati sebelum akhirnya terlelap dalam pundaknya.


" kakak ga nyangka kamu akan berubah drastis kaya gini dek !" gumam kevan melayangkan kecupan manis pada puncak kepala adiknya.


Tak membutuhkan waktu lama kedua kakak beradik itupun akhirnya sampai di halaman besar rumah Handika. Rasa rindu yang luar biasa dirindukan laura pada halaman rumah besar ini akan segera terbayar.


"ayo dek, turun !" ujar kevan yang telah membukakan pintu untuk adik yang masih termenung menatap luas halaman rumah yang dirindukan itu.


Laura yang tersadar segera turun dan tak sabar untuk segera memeluk wanita tercinta yang sangat bawel namun sangat di rindukanya itu.


" Assalamualaikum! "salam laura masuk kedalam rumah besar itu.


" Laura....!" pekik kedua sahabat laura yang ternyata juga sudah berada disana menyambut sahabat yang lama tak jumpa itu.


" gue tadi salam kali, bukan di jawab malah dapet ledakan petasan di telinga gue !" Gerutu laura berpura-pura kesal kepada kedua orang itu.


"wa'alaikumussalam ustadzah cantiknya mama !" Ratih yang baru saja kembali dari dapur segera memeluk putri tercinta yang benar-benar di rindukan itu.


" oh iya gue lupa, udah jadi ustadzah sekarang loe ra !" Ujar Rania terkekeh meledek sahabatnya itu.


" Aamiiin, tapi ga lah gue ga pengen jadi ustadzah gue pengen jadi bininya ustadz !" ujar laura cengengesan yang membuat orang sekeliling bergidik ngeri dengan jawaban nglantur itu.


Kevan memberikan sebuah jitakan di kepala laura sebelum mendaratkan tubuh lelahnya di shofa ruang tengah rumah mewahnya itu.


" omongan elo dek sekarang, baru juga kelas 1 SMA udah mikir jadi istri !" kevan yang juga sama lelahnya mendaratkan tubuhnya di samping sang adik.


"ga nyangka gue ra, elo bisa tobat kaya gini !" ujar lolita yang dari tadi tak bosan memandangi gadis berhijab itu.


" iya, gue inget banget tiap pelajarannya pak imam guru agama kita pas SMP, loe kan biang kerok nya ngajakin kita kabur, giliran kita ketagihan loe nya sekarang tobat kaya gini !" imbuh Rania yang mendapat anggukan lolita.


"semua orang bisa berubah ran, lol, gue lebih nyaman dengan hidup gue yang kaya gini, hati lebih tenang!" Jawaban yang tentu membuat kedua orang itu melongo karena keluar dari mulut seorang laura.


" naik dulu yuk, gue belum sholat !" Laura beranjak dari tempat duduknya sedangkan kedua sahabatnya masih melongo mengawasi setiap perkataan dan gerak gerik laura yang berubah drastis.


Saat laura sholatpun kedua gadis yang dari tadi hanya mengekor kesana kemari itupun masih setia memperhatikan semua tingkah gadis cantik itu.


" loe do'a apa ra, lama banget !" celetuk Rania begitu laura selesai melepas mukena.


" berdo'a supaya loe berdua tobat, !" jawab laura menghempaskan tubuhnya di tengah kedua orang yang dari tadi memandangi nya itu.


" ck, gue kira loe bener-bener udah tobat, g taunya tu mulut masih sama aja!" decak lolita yang saat ini memposisikan dirinya terlentang seperti kedua sahabatnya.


Laura meraih dan menyalakan ponsel yang entah berapa lama tak tersentuh miliknya. Tumpukan pesan dan panggilan dari orang-orang terdekatnya memenuhi layar ponsel itu. dengan malas ia hanya menggeser-geser layar ponsel itu tanpa berniat membuka satu persatu pesan yang ada.


" loe gak kangen sama kak Andra ra ?" tanya Rania yang sebenarnya dari tadi melirik ponsel yang sedang di pegang laura yang di dominasi pesan dari Andra.


" Kenapa emang?" laura balik bertanya.


" Dia kayaknya belum bisa move on dari elo ra !" ujar lolita yang hanya di tanggapi lirikan oleh laura.


" Dia pasti bisa kog, dia pasti bisa dapetin cewek yang lebih sempurna dari pada gue !" Laura masih betah memainkan benda pipih yang lama tak disentuh itu.


📩Akhirnya online juga, udah pulang ra ?"


Panjang umur memang, satu pesan masuk langsung di terima dari pria tampan yang menjadi perbincangan tiga gadis itu.


📨iya kak, baru sampai tadi siang ! jawab laura


📩apa kabar ?


📨Alhamdulillah baik kak, !"


📩 ga keluar kah?


📨masih cape kak, besok-besok aja


📩hemmmm, boleh telfon ?


Pertanyaan itu membuat Laura terdiam beberapa saat untuk berfikir.


📩kalau ga boleh ga papa kog ra, aku ngerti !


pesan selanjutnya yang membuat Laura tak enak hati dan akhirnya mengiyakan permintaan kakak tingkat yang sempat menyukainya itu.


"ra, !" panggil seorang di ujung telfon dengan lembut.


"Assalamualaikum !" suara salam laura membuat orang di ujung telpon berdebar sekaligus malu.


"wa..wa'alaikum salam, !"jawab Andra gugup dan kembali terdiam berniat menetralisir degup jantungnya.


Laura yang sedari tadi menyalakan speaker ponselnya agar kedua sahabatnya bisa ikut mendengar percakapanya dengan andra itupun saling menatap saat seorang yang dari tadi ingin menelponya itu hanya terdiam cukup lama di ujung sana.


" kalau tidak ada yang ingin di bicarakan lagi laura tutup ya kak, laura mau mandi !" ujar laura kemudian setelah dirasa tak ada tanda-tanda perkataan akan keluar dari mulut laki-laki yang sepertinya masih belum bisa move on dengan perasaanya itu.


" oh ,..iya ra, silahkan !" Jawab Andra yang lagi-lagi dengan gugup.