Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Hari terakhir lajang



semua orang benar-benar disibukan dengan acara pernikahan si kembar yang tinggal menghitung hari. Meski kevin berkata kalau ia akan mengurus pernikahannya sendiri mana ada orang tua yang tega membiarkan itu terjadi. Pastilah Handika dan Ratih tetap mengusahakan yang terbaik untuk anak-anaknya.


Kesibukan itu juga dirasakan laura dan ustadz A'ab yang turut serta membantu persiapan pernikahan kedua kakak kembarnya. Sampai mereka memutuskan untuk tetap tinggal dirumah orang tuanya sampai acara pernikahan selesai di gelar. Barulah mereka akan kembali pulang kerumah dan mengadakan acara aqiqahan si kembar yang terpaksa di kesampingkan dulu karena harus fokus dengan acara pernikahan si kembar senior.


" yuhuuuuu, twins om kevin datang !" suara melengking yang selalu memengarkan telinga dan selalu berhasil mengusik tidur twins junior.


" Bisa ga sih kalau masuk ga pake berisik, fatimah baru tidur kak, tuch jadinya nangis kan!" omel laura pada kakak laki-lakinya yang satu itu dan hanya di tanggapi kekehan kecil tanpa rasa bersalah.


" suara om kevin merdu lo fa, apa saking terharunya kamu sampai nangis !" ucap kevin dalam kekehannya.


plak...sendal yang semula di kaki segera berpindah ke kepala pria tampan 30 tahun itu. membuatnya meringis kesakitan. Siapa yang tidak gemas coba dengan pria seperti itu. sudah untung hanya sendal yang berpindah ke kepala belum kursi rias yang sedang diduduki sang adik yang di lempar.


" kira-kira donk dek kalau lempar, gimana kalau gue gagar otak coba, ga jadi kawin kan gue jadinya !" keluh kevin mengusap bagian kepalanya yang terkena lemparan sendal sang adik.


" cih, sombong amat yang mau nikah, !" decak laura dengan bibir mencebik yang hanya di acuhkan oleh sang kakak membuatnya semakin sewot dengan calon pengantin yang satu itu.


" Ali gue bawa keluar ya, biar ngehibur orang-orang yang lagi pada stres no di luar !" ujar kevin yang telah mengangkat tubuh ali kecil kedalam gendongannya.


" loe pikir anak gue badut !" Gerutu laura yang lagi-lagi tak di anggap pusing oleh kakak laki-lakinya yang lebih memilih melenggang keluar membawa keponakan laki-lakinya itu. Tak peduli jika induknya terus mengaung, yang terpenting bocah menggemaskan itu sudah berada di tangannya.


Sementara Fatimah yang tadi menangis karena kaget mendengar suara kevin mulai kembali tertidur dalam gendongan sang umi. Karena laura juga ingin bergabung dengan keluarga yang lain yang mempersiapkan pernikahan kedua kakaknya, laura membawa fatimah yang tengah terlelap itu menyusul Ali ke ruang tengah dimana semua keluarga berkumpul.


" kata kak kevin fatimah tidur mi ?" tanya ustadz A'ab melihat kedatangan sang istri bersama anak perempuannya.


" iya, tapi mana tega aku ninggalin di kamar sendiri bi, !" jawab laura.


Sementara kevin sudah heboh bermain dengan Ali yang sudah bisa merespon celotehnya dengan senyuman lebar tanpa suara. Membuatnya semakin gemas dan tak ingin berpaling dari bocah berumur satu bulan itu. mengabaikan semua orang yang tengah sibuk menyiapkan acara pernikahannya. Membuat semua orang menggeleng segitu lupa dirinya kevin kalau sudah berurusan dengan keponakannya.


" Habis ini langsung tancap gas aja vin, buat sendiri yang kaya ali !" Handika membuka suara melihat tingkah anak laki-lakinya itu.


" itu mah bisa di atur pa, so pasti lah, secara istrinya kevin bidadari turun dari kahyangan, mana betah kevin nunda nunda !" jawab kevin dengan bangganya lagi-lagi membuat semua orang mendengus.


" percaya gue kak kalau loe ga mungkin kalau ga langsung nyosor, masalahnya gue kasihan sama mbak putri apes banget hidupnya dapet laki kaya elo !" celetuk laura.


"justru dia beruntung lah dek dapat laki kaya pangeran di negeri dongeng kaya gue !" jawab kevin santai.


" pengen muntah gue dengarnya vin!" kevan yang sedari tadi hanya diam fokus menyiapkan keperluan untuk pernikahannya besok ikut angkat bicara.


pletak...pletak...pletak....tiga jitakan sekaligus di dapatkan kevin dari papa, mama dan adik perempuannya karena omongannya yang terlalu menggemaskan itu.


" lebih cakep dari mananya, orang muka kalian sama, cuma dari tampang kelihatan mana anak mama yang kalem mana anak mama yang kaya jaelangkung!" ucap Ratih gemas membuat semua orang tergelak saat menyebut kevin seperti jaelangkung. Sementara ekspresi orang yang di maksud sudah seperti cacing kepanasan.


" mama kira-kira donk, masa anak seganteng ini di bilang jaelangkung!" protes kevin tak terima.


" Terima aja nasip loe kak !" tawa laura kembali meledak jika mengingat ekspresi sang mama saat menyebut kakak laki-lakinya itu sebagai hantu yang datang tak di undang pulang tak di antar.


kekonyolan hakiki itu mungkin yang terakhir sebelum si kembar melepas masa lajang. setelah ini mungkin akan sangat jarang waktu mereka untuk bisa berkumpul seperti saat ini. karena pasti sudah disibukkan dengan urusan rumah tangga masing-masing.


Sudah menjadi kesepakatan kalau yang akan menemani Handika dan Ratih tinggal di rumah besar mereka adalah kevin dan istrinya. Mengingat zahra adalah putri tunggal di keluarganya mau tidak mau kevan juga ikut bersamanya untuk menemani kedua orang tua zahra yang tentu sudah tak muda lagi. Sementara laura memutuskan untuk pindah ke surabaya menemani ibu mertuanya yang memang hanya hidup seorang diri disana. Hanya saja tidak dalam waktu dekat ini, mungkin tahun depan kalau twins junior sudah bisa di ajak bepergian.


" loe serius dek mau pindah ke surabaya ?" tanya kevin meletakkan Ali kecil yang sudah terlelap dalam gendongannya kedalam boxnya begitupun dengan laura juga meletakkan fatimah yang sedari tadi memang belum mau membuka matanya.


" iya kak, ibu disana sendiri!" jawab laura dengan senyuman.


" Apa gue bisa jauh dari si kembar dek ? loe kan tahu setiap bangun tidur yang gue lihat mereka !" ucap kevin lesu tak bisa membayangkan saat jauh dari kedua keponakan kesayangannya itu.


" sudah menjadi kesepakatan laura dan ustadz di awal pernikahan kak, lagi pula kak kevin kan besok mau nikah, kak kevin juga pasti akan punya anak sendiri yang tak kalah menggemaskan dari si kembar !" ucap laura memberi pengertian kepada kakak laki-lakinya itu.


" gue juga ga yakin bisa jauh dari ali dan fatimah dek, !" ucap kevan yang tiba-tiba menghampiri kedua saudaranya merangkul keduanya dari belakang.


Ketiganya saling menatap satu sama lain. Tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya. masa kecil mereka yang indah begitu cepat berlalu berganti masa dewasa dan harus hidup dengan pilihan masing-masing. kalau boleh memilih ketiganya juga ingin tinggal satu atap terus seperi saat ini. Tapi tak mungkin itu terjadi karena situasi dan kondisi. Dan semua ini memang sudah pada fasenya. yang terpenting hubungan saudara itu tetap terjalin karena selamanya darah yang mengalir dalam tubuh mereka adalah sama.


" Jangan nangis donk kak, besok kan hari bahagia kalian berdua, kenapa jadi melo gini sih !" ucap laura menghapus air mata yang membasahi pipi kedua kakaknya yang saat itu tengah menangis memeluknya.


Bukan berarti laura tak sedih akan jauh dengan kedua kakaknya, tapi ia lebih memilih untuk terlihat tegar di depan kedua kakak kembarnya itu. Bagaimanapun laura sangat menyayangi mereka. Meski sering adu mulut tapi justru itulah bentuk kasih sayang diantara mereka.


" surabaya dekat kak, kalian bisa main kapanpun kesana !" ucap laura lagi menyunggingkan senyumnya.


" terus rumah yang baru loe beli ?" tanya kevan.


" ya di jual lagi lah kak, daripada ga di tempati, lumayan uangnya buat renovasi rumah yang di surabaya!" jawab laura yang di angguki kedua kakaknya.


Sore hari sebelum si kembar melepas masa lajang. suasana yang biasanya selalu rame karena adu mulut ketiganya berubah jadi suasana haru. saling meminta maaf dan mendoakan kebahagiaan masing-masing.