
Sepanjang materi berlangsung mata laura tak juga berkedip. Jantungnya seakan berhenti berdetak. bukan karena materinya menarik, tapi karena akhirnya semua impian itu menjadi nyata. dia menemukan orang yang dicari selama ini disaat semua orang mengatakan bahwa itu hanya sebuah halusinasi. Ingin rasanya dia teriak dan memberitahukan dunia bahwa semua itu bukan mimpi. orang itu nyata ada di hadapanya. meskipun ia tak tahu bagaimana kelanjutan kisahnya setelah ini. Yang pasti bahagia itu nyata ia rasakan.
Fitri hanya menatap teman sebelahnya dengan heran. sampai sebuah sentilan dari gulungan kertas putih mengalihkan perhatian kedua sahabat itu. Sontak keduanya menoleh dari mana kertas berasal. melirik satu persatu orang di belakang sana memastikan siapa pelaku pelemparan itu. Berniat mengambil lemparan kertas yang ada tepat di bawah kaki fitri, kedua gadis itu menundukan badan di bawah meja. Belum sempat terambil, kertas selanjutnya datang dari arah berbeda membuat kedua gadis itu saling menatap heran.
" Ngapain sembunyi di bawah meja ? sudah pintar ? " Ujar si pelempar kertas yang ternyata adalah pemateri yang telah berada di samping tempat duduk laura dan fitri.
Fitri menunduk ketakutan karena tahu seberapa tegas orang yang ada dihadapannya saat ini, sedangkan laura justru melongo tak berkedip melihat orang yang ada dihadapannya.
( haduh, gimana kalo dia denger suara jantung gue ? ini lagian ngapain sih ini jantung berdebar kenceng bangetš teriak boleh ? ) ocehan hati laura yang masih saja melongo dengan orang yang dilihatnya.
" ilernya netes neng, jorok cantik - cantik ileran! " Ujar ustadz A'ab lagi menoyor kepala laura dengan kertas yang barusan di lempar dan menyahut kertas yang ada di tangan fitri yang di yakini berasal dari santri putra.
Ustadz tampan itu berlalu dari hadapan laura dan fitri menuju ketempat semula. Pernyataan itu sukses membuat fitri yang tadinya ketakutan berubah menjadi terpingkal hingga keluar bulir air di sudut matanya. Begitu juga peserta MOS yang lain yang menyaksikan kejadian itu.
" hahahahaha, makane ra ojo melongo wae !" fitri terpingkal memukul kecil bahu sahabat di sampingnya.
" ck, dasar si ustadz nyebelin, untung aja ganteng tu ustadz !" Gerutu laura kesal sambil mengusap kepala bekas toyoran ustadz tampan itu.
Di belakang si pemilik surat yang tadi melempar kearah laura sudah merasa deg degan melihat saat ini kertas yang di lempar nya bukan tepat sasaran tapi justru berada di tangan ustadz yang menurutnya sangat killer dan serba tahu itu.
" kapok kon za, kenek ustadz A'ab !" ledek sultan pada Reza si pelempar surat.
" tertawalah di atas penderitaanku tan, lagian ustadz kui kog ngerti wae sih !" kesal Reza.
" sabar za, cobaan pancen !" imbuh rozak menepuk pundak sahabatnya itu yang langsung di tanggapi dengan dengusan.
Reza, Sultan dan Rozak memulai persahabatan mereka sejak awal masuk pesantren di kelas 7 tsanawiyah. Ketiga sahabat ini sangat tenar di kalangan pesantren. tak terkecuali para santri putri dan seluruh ustadz dan ustadzah. Bukan karena prestasi yang membanggakan, tapi karena seringnya mendapat hukuman dari apa yang mereka kerjakan. Tak heran kalau ustadz A'ab begitu hafal dengan gerak gerik ketiga biang kerok itu.
"ehem"...
suara riuh mendadak sunyi mendengar suara deheman dari arah panggung.
cantik wajahmu, indah jelas terukir di senyummu,
membuat hati ini tak hentinya berdebar,
cantik, bolehkah ku tahu namamu?
Reza Sasono
Huuùuu....Sorakan dari seluruh peserta MOS menggetarkan aula saat ustadz A'ab selesai membacakan isi surat yang di dapat dari tangan fitri dan laura.
Laura hanya menanggapi ledekan itu dengan delikan tajam tanpa berniat membalas ucapan dari sahabatnya itu. sesekali melihat kebelakang penasaran dengan si pengirim surat murahan itu.
" Saya kira materinya cukup, di tutup dengan surat cintanya Reza, saya Akhiri Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh! "
Ustadz A'ab mengakhiri materi dan berlalu dari hadapan para peserta MOS melambaikan tangan kearah Reza dan kawan-kawan. Sudah pasti ketiga sejoli itu akan mendapat hadiah spesial dari ustadz A'ab hari ini karena perbuatannya. sedangkan laura yang melihat lambaian tangan itu segera menoleh kearah yang di tuju.
" Norak banget tu cowok, masih jaman aja surat-suratan !" gumam laura menatap ke arah 3 sejoli yang telah berlalu membuntuti ustadz A'ab melewatinya.
" Yo memang cuma itu yang bisa di lakukan santri kalo mau berkomunikasi ra, wong kita ndak pegang HP !"
" iya juga sih, !" Laura mengangguk mengerti.
ustadz A'ab memang bukan orang yang banyak bicara dan basa-basi. di kalangan santri ustadz tampan ini di anggap sebagai ustadz yang paling killer karena ketegasanya dalam menegakkan aturan. Tak heran memang kalau hampir semua santri patuh layaknya kepada pak yai. Namun dalam keadaan berbeda, Ustadz yang satu ini juga bisa berubah humoris bahkan sangat lembut dan penyayang terhadap anak-anak. sebenarnya ia hanya berusaha untuk Profesional dalam mengemban amanah yang sering kali di anggap killer oleh para santri
Reza dan kawan-kawan menikmati hukuman yang di berikan ustadz A'ab dengan membersihkan toilet asrama putra. Sedangkan santri yang lain bersiap membersihkan badan untuk mengikuti kegiatan selanjutnya di pesantren.
Sore ini kamar mandi yang berada di dalam asrama putri sangat penuh dengan antrian begitu panjang. Fitri mengajak laura untuk melihat kamar mandi yang berada di belakang asrama berharap akan ada celah untuk mereka berdua bisa mandi lebih cepat. Dari kelima pintu yang ada, nampak masih tersisa satu pintu yang masih terbuka. dengan segera fitri menarik tangan sahabatnya menuju kesana. kamar mandi belakang memang jarang penuh, karena kebanyakan santri merasa tidak nyaman karena takut dengan berbagai cerita dari santri terdahulu yang mengatakan bahwa kamar mandi itu menyeramkan. sehingga mereka lebih senang antrian panjang di dalam dari pada harus mandi keluar yang menurut cerita menyeramkan itu.
"kamu tunggu sini aja, aku tak mandi dulu !" perintah fitri pada sahabatnya itu.
laura mengangguk dan mencari posisi seenak mungkin untuk menunggu sahabatnya itu keluar. Duduk di bebatuan besar sebelah pintu kamar mandi yang di masuki fitri menjadi pilihan laura saat ini. Selama menunggu pikiran laura melayang kesana kemari. mengingat kejadian yang di alaminya hari ini. tersenyum saat mengingat wajah tampan yang telah lama di cari itu, mendadak sebal mengingat apa yang di lakukan padanya siang tadi.
" ck, perasaan dulu dia nolongin gue manis banget kenapa tadi siang berubah jadi menyebalkan gitu !" celoteh laura di setiap bayangan yang melintas dalam pikiranya.
Saat tengah asyiknya melamun tiba-tiba orang dari lamunannya muncul seperti keluar begitu saja dari otaknya berjalan melintas di sampingnya. berkali-kali mengucek kedua matanya memastikan apa yang dilihat.
"masa iya, gue nglamun bisa langsung keluar dari kepala gue ?" berkali-kali laura menepuk kepala yang mulai nglantur itu.
Tapi memang itu kenyataannya, orang itu benar-benar dapat dilihatnya saat ini. Iya, setiap sore memang kegiatan rutin ustadz A'ab adalah mengajar ngaji di mushola kecil sebelah pesantren. Sebelum resmi jadi ustadz pesantren kesibukannya memang mengajar di mushola kecil itu, sehingga sesibuk apapun dia tak pernah meninggalkan rutinitas sekaligus hiburannya itu.
mushola kecil itu tepat berada di belakang asrama putri hanya terbatas pagar besi. Nampak ustadz A'ab sangat menikmati peranya bersama anak-anak kecil itu. Laura yang sedari tadi memperhatikan hanya senyam senyum sendiri melihatnya. Laura hampir tak habis fikir dengan orang yang tengah dilihatnya saat ini, tadi siang begitu menyebalkan tapi yang dilihat saat ini dia begitu mengemaskan bermain bersama anak-anak itu.
"la opo nglamun wae ra, wes ndang aduso ( Ngapain ngelamun aja ra? sudah sana mandi )!" ujar fitri membuyarkan lamunan laura.
"ck, ganggu aja lo fit !" dengus laura kesal merasa lamunannya terganggu.
"wes ndang aduso, ojo nglamun reza wae( sudah na mandi, ga usah nglamun ini reza mulu ) !" ujar fitri meledek dan berlalu dari hadapan laura.
Lagi-lagi ledekan itu hanya di tanggapi dengan delikan tajam oleh laura. Membuat fitri terkekeh melihat wajah kesal sahabat seharinya itu. Laura berlalu dengan membanting pintu kamar mandi membuat fitri yang masih berada disana mendelik kaget.