Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Tamu tak di undang 2



Jarum jam sudah menunjukan pukul 17.30 itu artinya adzan maghrib akan segera berkumandang. meskipun para siswa SMA itu tidak berpuasa tapi mereka tetap menghormati tuan rumah dan menunggu sampai adzan maghrib tiba untuk menikmati jajaran makanan yang sudah mereka pesan.


Tok..tok..tok..


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian semua orang yang berada di dalam ruangan minimalis itu. Ustadz A'ab beranjak untuk membuka pintu membiarkan sang istri lebih akrab dengan para muridnya.


Tak lama ustadz A'ab kembali bersama seorang pria berkemeja biru tua yang di yakini itu adalah temannya.


" loh, laura ? kamu laura kan ? laura sabrina ?" ujar pria itu dengan heboh membuat laura mengrenyitkan kening penuh tanda tanya begitupun dengan sang suami.


" Loe kenal gue ?" heran laura bertanya.


" ya kenal lah, loe anaknya pak Handika kan donatur terbesar sekolah kita ?" tanya pria itu lagi dan laura mengangguk.


Laura mencoba mengingat ingat wajah pria yang ada di samping sang suami. seperti pernah lihat, tapi tetap saja tak bisa mengingat siapa pria itu.


" Loe siapa sih ?" tanya laura lagi.


" gue Bima, teman sd loe, masa loe g inget sih ?" jawab pria bernama bima itu.


" oh, jadi pak Bima teman SD istri saya !" ujar Ustadz A'ab menyahuti.


" Istri ???


" kenapa ???"


" yah, aku kira kamu belum nikah, mana beda banget lagi penampilannya !" jawab bima dengan wajah lesu, menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.


" Jangan-jangan bapak pernah naksir sama kak laura !" celetuk Eren yang di sambut gelak tawa teman yang lain.


Celetukan itu sukses membuat wajah Bima memerah. Tak di pungkiri Bima memang pernah mengagumi laura semasa SD namun laura yang super duper cuek tak pernah menghiraukannya. Dan setelah di pertemukan kembali ternyata gadis yang di kagumi sudah bersuami. Dan lebih parahnya suaminya adalah teman mengajarnya sendiri.


Bima sengaja di undang untuk ikut bergabung buka bersama karena statusnya adalah wali kelas dari para murid SMA itu. Tak disangka kalau ternyata dia adalah teman masa kecil Laura. suasana sore itu begitu ramai di gubuk kecil Laura dan ustadz A'ab. Dan rasanya baru ini rumah mereka seramai itu. Tentu keduanya sangat bersyukur dengan nikmat yang mereka dapatkan di sore ini. Dan satu lagi, sore itu membuat laura lupa kalau hari ini sedang tak punya uang seperti yang di dirisaukan semalam.


" Loe ko bisa tinggal disini sih ra ? loe di usir sama bokap loe ?" tanya Bima masih penasaran mengingat orang tua laura adalah donatur terbesar di yayasan Bhakti Negara.


" sembarangan loe kalau ngomong, mana tega bokap gue ngusir anak secantik ini, gue cuma pengen mandiri aja !" jawab laura mendelik ke penanya.


" yah siapa tahu ra, loe kan anak orang kaya tinggal di rumah kaya gini!" celetuk Bima.


" yang kaya bokap gue bim, gue kan ga ikut punya, lagian gue bahagia kog tinggal disini sama laki gue meski sempit!" jawab laura.


" pak Aufa beruntung banget sih punya istri kaya kamu, bikin iri aja !" celetuk Bima lagi yang langsung mendapat sorakan riuh para siswa.


" Pak Bima ngarep !" celetuk Alya yang lagi-lagi di sambut gelak tawa siswa yang lainya.


Sementara yang jadi bahan tertawaan hanya mendengus tak bosan-bosanya para siswa itu membuatnya jadi bahan guyonan.


Setelah melaksanakan buka bersama dan membersihkan hasil kekacauan yang mereka lakukan, para murid SMA itu berpamitan untuk pulang. Mengingat hari juga sudah gelap dan besok mereka juga harus kembali sekolah.


" Hati-hati ya !" pesan laura.


" siap kakak !" jawab para murid dengan semangat.


" pak bima kalah cepet sama aku !" sahut ustadz A'ab menjulurkan lidahnya.


" udah sono pulang loe bim, udah malem di cariin emak loe tuch z !" ujar laura berpura-pura mengusir.


" tega banget loe ra, masih betah gue liat muka loe yang cantik itu !" ujar Bima memelas.


" inget bim, gue udah punya suami !" celetuk laura.


" sebentar aja ra, boleh ya pak Aufa !" ujar Bima memohon.


" Astaghfirullah hal 'adziim, dikira istriku tontonan , masuk sana ra biar ga bikin dosa pak bima tambah numpuk !" perintah ustadz A'ab pada sang istri yang langsung di turuti oleh laura sebelumnya menjulurkan lidah kepada bima yang sudah menampakkan wajah melasnya.


" pak Aufa mah, ga bisa liat orang seneng dikit !" dengus Bima sebelum akhirnya benar-benar berpamitan pulang.


Setelah semua tamu bersih, ustadz A'ab menutup pintu rumah dan segera menghampiri sang istri yang sudah menunggunya di dalam kamar. wajah cantik yang selalu menyambutnya dengan senyum itu membuat hatinya damai. Dan selalu ingin segera kembali kerumah kali berada di luar.


" Uhibbuki Laura sabrina !" ujar Ustadz A'ab mendaratkan satu kecupan di kening sang istri.


" uhibbuka aidhon pak Aufa !" balas laura membelai lembut pipi sang istri menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah sang suami.


" pak Aufa ?" ustadz A'ab mengrenyitkan kening.


Laura mengangguk manis sebelum akhirnya berbicara.


" keren juga panggilannya, !" jawab laura lembut masih dengan tatapan yang sama.


" anak-anak yang ngasih julukan, ya sudahlah sama-sama ada di namaku !" jawab ustadz A'ab cengengesan.


" iya, aku juga suka !"


Tak pernah puas laura memandang wajah tampan di hadapannya. Baginya masih sama sejak awal bertemu hingga lebih dari 8 tahun mengenalnya. Tak ada yang berubah, masih menjadi orang kesayangannya.


" gimana dengan hari ini ? " tanya ustadz A'ab.


" Hemmmh ?"


" sudah percaya kalau kebutuhan kita sudah di jamin oleh Allah ?" ustadz A'ab kembali bertanya pada sang istri yang sedang bermanja menyandarkan kepala di bahunya.


" Aku percaya kog!" jawab laura mengangguk.


" Allah tahu apa yang terbaik untuk Hambanya, jangan pernah lagi meragukan takdir yang Allah berikan pada kita !" ujar Ustadz A'ab membelai lembut kepala sang istri.


" Maafkan aku yang masih terlalu ke kanak-kanakan, jangan bosan mengingatkan jika aku salah !"ujar laura .


" semoga aku bisa menjadi imam yang baik yang bisa membawamu dan keluarga kecil kita menuju ridho Allah SWT., mari sama-sama belajar untuk jadi lebih baik !" ujar Ustadz A'ab.


" Insya Allah !"


Janji Allah pada orang yang menolong Agama Allah maka Allah juga akan menolongnya dan meneguhkan kedudukannya. Percayalah pada takdir Allah, tidak perlu merisaukan takdir dan berhusnudzonlah.