
Dengan telaten ustadz A'ab merawat sang istri dan kedua anaknya. Meskipun ada ibu dan mertuanya ia tak lantas mengabaikan tanggung jawabnya merawat kedua buah hatinya menggantikan sang istri. Setiap pagi setelah membersihkan tubuh sang istri agar lebih segar ustadz A'ab selalu memandikan kedua buah hatinya sendiri. Baru setelah itu menyerahkan kedua buah hatinya kepada sang ibu dan mertua jika menginginkan untuk menggendong kedua cucunya yang sebelumnya kedua bayi itu di letakkan dulu disamping sang ibu. Bayi Fatimah dan Ali sangat tenang, kedua bocah itu seperti tahu kalau ibunya belum bisa merawatnya. mereka seperti tak ingin membuat aby dan kakek neneknya kerepotan.
" umy, ayo bangun fatimah sama ali pengen di gendong sama umy !" ujar ustadz A'ab seperti biasa meletakkan kedua bayinya itu di samping kanan kiri sang istri. Setelah itu mulai bersenandung melantunkan ayat suci Al Qur'an di samping anak dan istrinya. karena selain berdoa, ikhtiar inilah yang bisa di lakukan ustadz A'ab untuk kesembuhan sang istri.
Hari ini rombongan dari surabaya telah tiba di jakarta untuk menjenguk laura. Fitri yang merasa paling khawatir dengan sahabatnya itu berada dibarisan paling depan meninggalkan anak dan suami yang masih berjalan di belakang bersama rombongan yang lain. Mengingat kecelakaan laura beberapa tahun lalu yang begitu betah ia untuk menjadi putri tidur di rumah sakit. Fitri berharap itu takkan lagi terjadi. Dan laura akan segera bangun dari tidurnya.
" Laura!" teriak fitri begitu memasuki ruang rawat laura.
" Astaghfirullah hal 'adziim, mbok yo salam dulu fit kalau masuk itu !" dengus ustadz A'ab mengelus dadanya yang hampir jantungan karena suara fitri yang begitu menggelegar. Melirik bayi laki-laki yang ada di pangkuannya masih tenang tak tergoyahkan meski dengan suara fitri yang mengalahkan panci rombeng.
" Assalamualaikum!" salam fitri kemudian berjalan menuju ke tempat laura berbaring tanpa merasa bersalah dengan tingkahnya.
Fitri menatap wajah laura dengan lekang, dengan segera air matanya terjatuh mengingat kejadian beberapa tahun lalu saat dirinya yang menjadi penyebab laura menjadi putri tidur seperti saat ini. Rasanya selalu sesak saat melihat laura seperti ini. Apalagi melirik dua bocah kecil yang saat ini tengah membutuhkan kasih sayang laura. Rasa hati fitri semakin teriris.
" Dasar fitri, bisa ndak inget sama anak dan suami kalau udah kuatir sama sahabatnya !" Gerutu reza yang baru sampai di ruang rawat laura bersama dengan rombongan yang lain.
Aisyah beserta suami dan anaknya, ustadz fauzy, ustadz farhan semua hadir disana. Membuat ustadz A'ab dan keluarga laura merasa bahagia karena banyaknya orang yang menyayangi laura. Meski dengan jarak yang tak dekat dan kesibukan yang tak sedikit mereka masih meluangkan waktu untuk menjenguk laura disaat seperti ini.
" sabar yo ab, !" ujar ustadz fauzy menepuk pundak sahabatnya itu dan duduk di sampingnya.
" anakmu ganteng ab !" ustadz farhan lebih fokus kepada bayi yang ada di pangkuan sahabatnya itu.
" Makasih ya, sudah di sempatkan kesini !" ujar ustadz A'ab dengan tulus.
Sementara ketiga Sahabat itu fokus pada dua bayi mungil laura, Aisyah , Reza dan Fitri lebih fokus menatap laura yang tertidur dengan sangat cantik. Reza yang tahu kesedihan sang istri yang mendalam melihat kondisi sahabatnya segera menguatkan dengan pelukan. Fitri memang pecicilan tapi fitri sangat menyayangi laura meski mereka tak ada ikatan darah.
" Ra, seneng banget toh kamu tidur di rumah sakit kaya gini ? opo ga lebih nyaman tidur di rumah ? aku belum sempet kerumah barumu loch, kamu sudah kaya gini !" celoteh fitri pada sahabatnya yang masih anteng dalam tidurnya.
" iyo ra, aku pengen ngerti anakmu wajahe mirip sopo ?" sahut Reza yang langsung mendapat lirikan tanda tanya dari fitri juga aisyah yang dari tadi berdiri bersamanya di samping laura.
" anaknya kan sudah lahir reza, kalau penasaran ya lihat sana, ngapain ikut ikutan disini?" celetuk aisyah tak habis fikir dengan teman sekolahnya itu.
" embuh neng, utekke kari nang omah ( ga tau neng, otaknya ketinggalan dirumah )!" dengus fitri memutar bola matanya dengan malas.
" ra, fatimah di jodohin sama anakku yo !" teriak Reza yang saat ini bergabung bersama para ustadz memperhatikan junior laura yang begitu cantik.
pletak..satu jitakan di dapatkan reza dari ustadz yang ada di sampingnya.
" ndak, pokoke fatimah sudah tak boking jadi istrine sulthon anakku !" ujar ustadz fauzy yang dari tadi memang sudah sangat gemas dengan kecantikan bayi perempuan itu.
" ndak bisa gitu lah ustadz, fitri kan sahabate laura, yo berarti ozilku lebih berhak jadi jodohnya fatimah !" ujar reza tak terima.
perdebatan itu terus berlanjut karena baik ustadz fauzy maupun Reza tak ada yang mau mengalah. Sama-sama kekeh ingin meminang fatimah untuk anak mereka. sementara yang lain hanya menggeleng melihat tingkah kedua orang itu sebelum sebuah celetukan menghentikan keduanya.
" kalian berdua ngomong aja kalau menyelesaikan rasa yang tertunda, ga bisa bersatu dengan ibunya makanya mau jodohin anaknya !" celetuk ustadz farhan dengan datar membuat fitri segera melayangkan tatapan tajam pada sang suami.
Dasarnya semua orang sudah tahu bagaimana perasaan ustadz fauzy juga Reza kepada laura dimasalalu. melihat perdebatan itu membuat ustadz farhan mengeluarkan jurus pamungkas untuk membungkam keduanya.
Sementara fitri yang mencerna perkataan ustadz farhan itu ada benarnya segera berjalan mendekat kearah sang suami yang tengah memangku anak laki-lakinya dengan tatapan siap menerkam.
" mau jodohin ozil sama fatimah biar bisa sering ketemu laura ?" fitri menginterogasi dengan tatapan tajam. Dan saat inilah reza mulai takhluk tak berani hanya sekedar menggaruk telinganya yang gatal.
" bukan gitu fit, coba lihat tuh fatimah cantik banget kan, cocok buat ozil kita yang ganteng ini!" jawab reza.
Fitri melirik kearah bayi perempuan yang saat itu ada di pangkuan ustadz Farhan. Memang tampak cantik dengan bulu mata lentik dan matanya bulat sempurna. Dan melirik lagi kearah bayi laki-laki yang berada di pangkuan sang ayah yang begitu mirip dengan laura. Kemudian kembali fokus pada sang suami di hadapannya.
" tapi fatimah secantik itu, sayang juga kalau ga di jadiin mantu !" ucap fitri bergumam pada diri sendiri.
" tu kan fit, cocok buat ozil kita yang ganteng ini kan ?" ujar reza menyahuti omongan sang istri.
" ndak bisa pokoke calone sulthon, !" tegas ustadz fauzy tak terima.
Dan suasana kembali ramai dengan perdebatan ketiga orang itu. Sementara yang lain hanya menjadi penonton sampai sebuah suara mengalihkan perhatian semua orang yang ada disana.
" Berisik...