Ustadz, I Love U

Ustadz, I Love U
Welcome adik twins



Kevan dan zahra benar-benar menikmati masa menjadi orang tua baru. Bayi laki-laki berusia 7 bulan yang sudah mulai aktif merangkak itu menjadi pelengkap cinta yang mereka nantikan selama bertahun-tahun. Sempat ingin menyerah karena kevan tak kunjung berani datang kerumah padahal sudah banyak tawaran untuk zahra menikah. Saat itu zahra bimbang, namun hatinya meminta untuk bertahan dan akhirnya terjawablah sudah semua penantian dan do'a-do'anya. Entah apakah akan sebahagia saat ini apabila dia menyerah saat itu ? entahlah, bagi zahra kevan adalah yang terbaik. lelaki pertama dan Insya Allah Terakhir di hatinya.


" zah,


" kenapa ?


" terima kasih telah menungguku, maafkan aku yang terlalu cemen ini sampai tak peka dengan keinginanmu !" ujar kevan membawa sang istri kedalam pelukannya.


" aku bahagia karena Allah masih memberiku kekuatan untuk bertahan van, aku bahagia karena jodohku adalah kamu, dan aku bahagia menjadi ibu dari anakmu !" ujar zahra tulus semakin menenggelamkan kepalanya di dada bidang sang suami.


" Semoga Allah menjaga cinta ini sampai kesurganya nanti !" ucap kevan mengecup singkat kepala sang istri saling menyalurkan perasaan masing-masing. Saling memberi kenyamanan sampai akhirnya terlelap dalam posisi ternyaman.


Sementara itu saat ini laura sudah bersiap dirumah sakit untuk menjalani operasi caesar anak keduanya. Karena jarak kehamilan yang terlalu dekat dan kondisi rahim laura yang terlalu tipis membuatnya tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Ustadz A'ab, Handika, Ratih, bahkan kevin dan putri yang sedang hamil besar pun turut ikut menemani laura memberikan semangat. Bagi Handika bukan hal sulit untuk mendapat kenyamanan bagi seluruh anggota keluarganya. Handika kembali menyewa kamar VVIP untuk tempat istirahat keluarga yang menunggu sampai laura selesai di operasi. Apalagi saat ini menantunya tengah hamil besar yang tinggal menunggu waktu untuk menyusul putrinya.


Putri masih mengharapkan persalinan normal. Untuk itu sampai saat ini ia masih menunggu. Berbeda dengan laura yang bisa menentukan kapan anaknya akan di lahirkan karena memang secara caesar. Meski terbesit keinginan ingin melahirkan secara normal tapi bagi laura maupun ustadz A'ab itu bukanlah masalah. yang terpenting ibu dan bayinya selamat dan sehat.


" bi, apa umi dan adik akan baik-baik saja ?" pertanyaan itu keluar dari mulut polos fatimah kecil yang sedari tadi mondar mandir seperti orang dewasa yang sedang gelisah.


Ustadz A'ab yang sedari tadi menggendong Ali yang tak juga mau turun pun tersenyum kearah anak perempuannya itu. Meski usia nya masih sangat kecil, tapi jiwa dan pemikiran fatimah sudah dewasa.


" Fa punya Allah kan ?" tanya ustadz A'ab yang di jawab anggukan bocah hampir 3tahun itu.


"nah, sekarang fa mintalah sama Allah supaya umi dan adik baik-baik saja, do'a anak yang sholeha itu di kabulkan sama Allah !" ucap Ustadz A'ab memberi pengertian kepada anak perempuannya itu.


Fatimah memang penyejuk bagi keluarganya. selain sudah mandiri, di usianya yang baru hampir 3 tahun berjalan ini sudah banyak surat dan hadits yang telah dihafal dengan baik.


Sekitar 2jam lebih dokter yang menangani operasi laura keluar dari ruangan. Dengan segera seluruh anggota keluarga mendekat dan menanyakan bagaimana kondisi laura dan bayinya.


"Alhamdulillah ibu dan bayinya sehat, setelah ini bu laura bisa di pindah ke ruang perawatan !" jawab dokter dengan seulas senyuman merubah rasa khawatir dan cemas menjadi rasa lega dan bahagia.


Putri mengelus perut besarnya berharap nanti proses lahirannya diberi kelancaran dan anaknya di beri kesehatan. Berharap penantian itu akan berbuah manis.


Ustadz A'ab segera menitipkan Ali pada Ratih karena ia harus menyusul anaknya untuk di adzankan. Namun entahlah Ali hari ini begitu rewel saat tahu uminya akan melahirkan. Ali menolak untuk ikut bersama omanya. Akhirnya kevin mencoba membujuk keponakan laki-lakinya yang sudah sangat jarang di sentuh semenjak istrinya hamil itu. Karena kevin takut terjadi sesuatu dengan istrinya seperti saat pertama mengetahui putri hamil. Putri pingsan saat mendapat srudukan dari bocah kecil itu. Tapi untuk saat ini sepertinya hanya dirinya yang bisa menenangkan Ali.


" Ali sama om kevin ya ?" ucap kevin halus.


" ndak mau, mau abi, om evin jahat !" ucap Ali ketus.


" dah, busyet dah ini bocah !"


" sayang, abi mau ambil adek kecilnya ali dulu, kakak Ali sama opa ya ?" kini Handika yang membuka suara merayu cucu pertamanya itu.


" iya, sini beli es krim sama opa !" ucap Handika mengulurkan tangannya.


Tak membutuhkan waktu lama mendengar kata-kata es krim membuat mata ali berbinar dan segera berpindah ke gendongan sang opa.


" haish, kakak ich kaya anak kecil !" dengus fatimah membuat gemas semua orang yang ada disana. Bocil tapi omongannya udah melebihi tante tante arisan.


" lah, kan kamu memang anak kecil fa ?" ujar kevin.


" sorry ya, fa udah gede !" ucap fatimah lagi melipat kedua tangannya membuang muka membuat semua orang tergelak gemas.


Sementara ustadz A'ab yang sudah mendapat kebebasan dari Ali segera beranjak menyusul mencari keberadaan anak keduanya.


" Abi, fa ikut !" teriak fatimah berlari mengejar sang abi yang sudah berjalan lumayan jauh dari tempatnya berdiri.


Ustadz A'ab pun menoleh dan menghentikan langkahnya.


" Fa, aby mau nemuin adek dulu, nanti kalau sudah selesai abi bawa adeknya kesini !" ucap ustadz A'ab memberi pengertian.


" tapi fa mau ikut bi, fa mau lihat adeknya fa, fa janji ga akan merepotkan abi !" ucap fatimah memohon dan itu tentu membuat ustadz A'ab tak tega untuk menolaknya.


sebuah anggukan cukup membuat mata fatimah berbinar. Fatimah kecil segera berjalan mengikuti abinya menuju ke ruang dimana adiknya berada. Sementara semua orang menggeleng takjub dengan bocah 3 tahun itu. pemikirannya sudah lebih dewasa dari tampangnya yang masih bau ompol.


Begitu sampai diruang bayi sesuai dengan arahan perawat ustadz A'ab segera menghampiri bayi perempuan yang sudah diberi nama ibunya di pergelangan tangan masih bersama fatimah yang setia mengekor di belakangnya.


" adiknya fa cewe bi ?" tanya fatimah melihat abinya menggendong sang adik.


" iya, cantik kaya fa !" jawab ustadz A'ab dengan senyuman.


" boleh fa pegang ?"


Ustadz A'ab merendah sejajar dengan anak perempuannya itu. Membiarkan fatimah kecil membelai lembut rambut tebal sang adik. Melihat betapa bahagianya fatimah melihat adiknya membuat ustadz A'ab tersenyum.


" namanya siti khadijah ya bi, biar jadi wanita luar biasa seperti khadijah yang menemani Rasulullah berjuang menegakkan Agama Allah !" ucap fatimah kecil masih setia mengelus rambut sang adik.


Ustadz A'ab tersenyum kemudian membawa bayi perempuan itu kembali berdiri dan melantunkan adzan di telinganya.


Setelah selesai mengumandangkan adzan di telinga putri kecilnya ustadz A'ab mengajak fatimah kembali ke ruangan sang umi. Jika sebelumnya membiarkan bocah kecil itu berjalan mengekorinya kali ini ustadz A'ab membawa fatimah dalam gendongannya. Melayangkan kecupan demi kecupan diwajah anak perempuannya itu. Betapa bersyukurnya memiliki anak cerdas dan hatinya lembut seperti itu. Berharap fatimah kecil akan tumbuh besar sesuai dengan akhlak fatimah putri Rasulullah.