
Saat semua sudah berangkat melakukan aktifitasnya, Yumna menatap jendela kamar memikirkan masa lalu yang dia alami saat mencintai Keano. Dia harus merelakan Keano untuk wanita lain, tapi itu bukan masalah. Sekarang dia memiliki Bara yang mencintai dirinya, bahkan memilki dua orang putri yang cantik.
"Yusra, apa yang harus aku lakukan?" tanyanya di sebrang telepon.
Dia memutuskan untuk mencari jalan keluar bersama saudaranya tersebut, ternyata cinta membuatnya lemah dan tak pernah bisa berpikir. Dia terlalu mencintai kedua putrinya, makanya dia selalu membatasi pergaulan dengan teman lelaki mereka.
"Apanya?"
Membuat Yumna berdecak kesal.
"Aku harus gimana sama Dela dan Auriga?"
"Ya menurut ku sih, kamu restui aja. Jika kamu masih mau Dela menganggap mu ibu," ujar Yusra.
"Tapi aku masih benci Jimi,"
"Ya ampun Yumna, kamu nih. Belajar memaafkan Yumna. Itu gak akan membuat mu rendah di hadapan orang itu," ujar Yusra.
"Jangan memupuk dendam dan benci terlalu lama, kamu gak kasian sama Ara? Dia sudah menyayangi Dela Yumna. Aku tahu rasanya tak mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, walau aku memiliki dua ibu waktu itu," kekeh Yusra.
"Jangan sampai Dela membenci mu, dan jauh dari mu. Kamu akan menyesal," lanjutnya lagi.
Hening yang terjadi, Yumna membenarkan bahwa dia masih menyimpan rasa benci secara tak sadar.
"Akan aku coba, semoga saja aku bisa berdamai dengan masa lalu ku."
"Ya sudah, aku tutup teleponnya. Aku mau jenguk Dela, katanya udah pengen pulang."
"Iya kah? Kok aku gak tau ya?"
"Tuh kan aku juga bilang apa, Dela gak mau kamu terlibat dalam hal apa pun lagi kan?"
Yumna menutup panggilannya secara sepihak, dia menahan sesak, benarkah sang anak tidak ingin lagi dia tahu apa yang dia lakukan?
"Dela sebenci itu kah, kamu ke bunda?" tanyanya.
Suara bel membuyarkan lamunan Yumna, bergegas dia ke depan dan membuka pintu. Yumna terkejut dengan kedatangan Jimi.
"Yumna apa kabar?" tanya Jimi tersenyum hangat.
"Masuk," ucap Yumna tanpa membalas pertanyaan Jimi.
"Ada apa?" tanya Yumna dingin, setelah Jimi tamunya duduk.
"Aku ingin minta maaf Yumna."
Yumna tersenyum tipis menatap Jimi, apa dia tak salah dengar?
"Sebenarnya permintaan maaf anda itu sangat telat, tapi ya sebagai mahluk sesama ciptaan Tuhan. Aku memaafkan anda tuan Jimi," ujar Yumna.
"Jika tujuan mu kesini untuk minta maaf maka jawabnya adalah aku memaafkan anda, sekarang anda boleh pergi." Usir Yumna.
"Yumna dengarkan aku dulu, restui hubungan Dela dan Auriga. Apa kau tak kasian pada Ara? Dia sakit dan memanggil terus nama Dela," jelas Jimi, dalam sorot matanya tersimpan harapan dan permohonan.
"Itu bukan urusan ku," kukuh Yumna pada pendiriannya, yang tak ingin merestui hubungan Dela dan Auriga.
Jimi berdiri dia meninggalkan rumah milik Yumna, sulit sekali meruntuhkan pendirian Yumna.
****
Rumah Zea
"Ara sayang, makan dulu yah." Pinta Zea.
"Aku gak mau tante, aku mau ketemu ka Dela," lirih Ara.
"Anak sakit malah di tinggal," omel Zea, Zea memutuskan untuk melakukan panggilan dengan Dela.
Namun panggilan itu pun sama sekali tak Dela jawab, Zea tak tahu bahwa Dela tengah di rawat.
"Malah gak di angkat."
Zea menghembuskan napasnya secara pelan, dia akan mencari cara untuk menghubungi Dela. Tak lama dia kepikiran tentang Mario kakeknya Dela, Zea meminta nomor ponsel Mario dari Jimi. Dan Jimi pun memberikan nomor Mario pada Zea.
"Semoga berhasil," gumamnya.
"Hallo tuan Mario, saya Zea. Ingin bicara dengan Dela, apakah dia ada di sekitar anda?" tanya Zea mengigit bibir bawahnya gugup.
"Saya di kantor, Dela di rumah sakit." Jawabnya singkat.
"Rumah sakit!" pekik Zea.
"Dia kenapa tuan? Bolehkah saya menjenguknya?"
Hening tak ada jawaban dari Mario yang sedang bingung ingin menjawab apa? Tapi jika di larang dia terus mencari akan mencari informasi.
"Dela mencoba bunuh diri," jawabnya setelah sekian menit terdiam.
"Bunuh diri?" tanya Zea tak percaya.
"Datanglah ke rumah sakit Harapan, yang tak jauh letaknya dari rumah Dela." Beritahu Mario.
"Baiklah, terima kasih tuan."
Sambungan telepon pun terputus, Zea bersiap-siap ke rumah sakit dia memutuskan untuk mengajak Ara. Sebelum pergi, Zea menghubungi pihak sekolah Manda bahwa dia akan telat menjemput sang anak.
"Ara kita ke ka Dela yah! Tapi kamu harus makan dulu," bujuk Zea.
Ara langsung membuka mata, binar semangat terpancar di mata bulatnya.
"Benar tante?"
"Iya, tapi kamu harus makan yah!"
"Iya tante, aku mau makan."
Ara pun makan dengan semangat, setelah menghabiskan setengah buburnya dia memakan obat turun panas. Tak lama Ara dan Zea sudah siap.
"Dad dari mana?" tanya Zea, sedangkan Ara berusaha dia gendong sebab masih lemas.
"Dari rumah Yumna, kamu mau kemana?"
"Ke rumah sakit,"
Jimi bergegas menghampiri Zea dan mengecek keadaan Ara.
"Bukan Ara dad, tapi Dela. Kata tuan Mario, dia masuk rumah sakit. Jadi aku dan Ara berniat menjenguknya," papar Dela.
"Ya sudah daddy ikut, biar daddy yang bawa mobil." Putus Jimi.
Semoga suka 💞
tbc...
Maaf typo
Pengen banget buat cerita sendiri Dela dan Auriga, tapi takut sepi 😂