
Setelah mempersilahkan Laura dan Yumna duduk, Mario mulai menjelaskan semuanya pada Yusra. Tanpa ada yang di tutupi.
Yusra yang mendengar penjelasan Mario pun, hanya menatap Laura datar. Tanpa mereka semua tahu antara senang, sedih dan kecewa menjadi satu.
Mati-matian Yusra menahan air matanya, sedangkan Yumna menatap Yusra dengan tatapan yang sulit di artikan. Yusra menyadari jika Yumna menatapnya dengan begitu lekat, pandangan mereka bertemu dan Yumna tersenyum pada Yusra. Tapi Yusra langsung memalingkan wajahnya, membuat Yumna menghela nafas secara kasar.
"Jadi Yusra, Laura adalah ibu kandung mu. Dan Yumna adalah kakak mu," terang Mario.
"Ou," jawab Yusra singkat, membuat hati Laura sedih akan reaksi sang anak.
"Yusra apa kamu tidak senang bertemu dengan ibu mu?" tanya Mario heran, sebab Yusra terlampau santai.
"Aku senang pi, tapi yang lebih senang dalam hidup ku yaitu, ketika mami Dania mulai menyayangi ku." Jawab Yusra datar.
"Aku tidak peduli, jika nanti papi sama ibu Laura akan kembali. Dan kalian menjadi keluarga yang utuh, aku tidak akan meninggalkan mami Dania, yang sudah sudi merawat aku dan menerima ku menjadi anaknya. Walau aku bukan anak kandungnya," sambungnya lagi, dengan diselingi ucapan bohong.
"Yusra," lirih Laura.
"Yusra jaga bicara mu," tegas Mario.
"Apa pi? Papi gak pernah perhatian kepada ku, walau papi tau aku anak kandung mu, iya kan? Anak dengan wanita, yang papi cintai. Papi selalu sibuk dengan masa lalu papi, yang belum selesai dengan ibu Laura. Ok aku memang senang bertemu dengan ibu kandung ku, tapi aku tidak bisa hidup dengannya pi. Aku menyayangi mami Dania pi, aku menyayangi mami Dania." Pekik Yusra, dengan napas terengah menahan emosi dan air mata.
"Yusra." Bentak Mario.
Mario tidak suka, jika Yusra berubah menjadi anak yang pembangkang dan keras kepala. Selama ini Mario selalu maksimal dalam memberikan kasih sayang pada Yusra, walau dihatinya masih mengharapkan Laura.
Sementara Yumna hanya menyimak saja, dia bisa melihat rasa kecewa dan sedih dari matanya. Yumna juga tahu bahwa Yusra merindukan Laura, tapi Yusra juga takut menyakiti hati Dania yang sudah mulai terbuka padanya.
"Sebaiknya aku dan ibu pulang saja, lain kali kita bertemu lagi. Aku sudah tau bahwa anda adalah ayah saya om," sahut Yumna, memecah ketegangan yang ada.
"Tidak sayang, kamu tetap disini. Kita makan malam terlebih dulu, abaikan perkataan Yusra yang menyakiti hati mu dan ibu mu."
Yumna menggeleng, dia menatap Laura yang sejak tadi menahan tangis.
"Tidak om, aku tidak mau melihat ibu menangis. Sudah cukup selama ini dia bersedih, karena harus berpisah dari anaknya yang lain." Terang Yumna menatap Yusra, yang memalingkan pandangannya.
Yumna menarik tangan Laura.
"Ayo bu, kita pulang." Ajak Yumna, dan Laura pasrah saja.
"Tunggu Laura, aku mohon jangan pergi." Pinta Mario, menahan Laura dan Yumna di pintu.
"Maaf om, kami permisi. Lain kali saja," Yumna melepaskan cekalan tangan Mario pada Laura, mereka pun keluar dengan tergesa.
"Laura, Yumna. Tunggu Laura, Yumna." Teriak Mario, saking kesalnya Mario meninju tembok di sebelahnya. Dia tidak peduli dengan tangannya yang memar.
Mario masuk kedalam, dan menatap tajam Yusra yang dengan santainya meminum pesanannya.
"Ada apa dengan mu? Kenapa sikap mu seperti itu hah!!" marah Mario.
"Memangnya aku kenapa pi?" tanya Yusra santai.
"Kenapa papi membentak ku? Apa salah ku?" pekik Yusra.
"Salah mu, sudah kurang ajar pada ibu mu dan kakak mu Yusra."
Yusra tersenyum sinis, menatap Mario.
"Dia yang kurang ajar pi, dia meninggalkan aku di saat aku membutuhkan ASI dan kasih sayangnya. Dia tidak sekali pun melihat ku pi, sedangkan dia yang kau sebut kakak ku, yang beruntung mendapatkan kasih sayang seorang ibu." Lirih Yusra, matanya berkaca-kaca.
"Maafkan papi, Yusra. Bahkan kamu lebih beruntung dari Yumna, dia tidak mendapat kasih sayang seorang ayah. Dan kamu mendapat kasih sayang dari papi dan mami,"
Yusra memejamkan matanya, dia pun membenarkan bahwa dia beruntung mendapatkan kasih sayang lengkap. Dan tidak mendapat perundungan saat dia masih kecil, saat dewasa pun, ada Hito yang selalu bersamanya. edangkan Yumna dari kecil sudah di bully oleh teman-temannya, sampai akhirnya dia berteman dengan Keano.
Sama halnya gadis kembar tersebut, mendapatkan laki-laki yang mau melindunginya.
Terjadi keheningan antara Mario dan Yusra, makan malam yang di pikir Mario akan indah. Tak sesuai dengan keinginannya, tanpa mereka sadari sedari tadi Dania memperhatikan mereka. Awalnya memang dia iri tapi, setelah melihat reaksi Yusra Dania sangat senang.
"Jangan kau pikir untuk menang Laura," gumam Dania tersenyum sinis.
********
Sementara itu, Laura dan Yumna sudah berada di dalam taxi Laura menangis di pelukan Yumna.
"Sudahlah bu, jangan di pikirkan. Nanti aku akan bicara dengan Yusra yah,"
"Ibu sedih Na, Yusra membenci ibu." Isak Laura.
"Engga bu, Yusra gak benci sama ibu ko. Udah ya bu, ibu jangan sedih, ibu gak kasian apa sama aku, aku lapar bu dari sore belum makan." Rengek Yumna, melepaskan dekapan Laura.
Yumna mengusap air mata Laura.
"Ibu jangan sedih lagi, aku janji akan buat Yusra gak benci sama ibu. Ok,"
Laura pun mengangguk.
"Jadi ayo kita makan, di pinggir jalan b. Dulu aku, ibu, sama oma selalu makan bertiga di warung pinggir jalan," kenang Yumna, Laura tersenyum dan membenarkan perkataan Yumna.
"Baiklah, pak tolong berhenti sebentar di warung pecel lele ya,"
"Baik bu,"
tbc....
Maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys, makasih 🙏
slow up