
Keesokan harinya, Dela yang akan pergi ke minimarket yang dekat dengan rumah pun terkejut saat mobil Auriga dan Jimi berhenti di halaman rumahnya.
"Ka Dela," pekik Ara, di dalam mobil.
Dela hanya tersenyum saja, menatap Ara dia bingung ada apa mereka ke sini? Berbagai pertanyaan, berputar di kepalanya hingga semua keluarga Auriga sudah turun dari mobil.
"Ka Dela," panggil Ara dan Lula, mereka mendekat pada Dela dan memeluk Dela.
"Ara, Lula. Kenapa kalian ke sini? Ada apa?" tanya Dela, menatap kaka adik tersebut.
"Ayah mau bawa kakak, jadi ibu kami," sahut Ara antusias.
"Hah? Ibu? Maksudnya gimana?"
Dela menatap Auriga dan keluarganya yang hanya berdiri di dekat mobil.
"Ahh... Maaf, om Jimi semuanya mari masuk." Ajak Dela.
Mereka semua pun masuk ke dalam rumah sederhana tapi terasa nyaman di dalam dan di luarnya, jantung Dela sudah berdebar sejak tadi.
"Bentar yah, aku panggil bunda." Ujar Dela, meninggalkan ruang tamu.
Keano menatap sekeliling ruangan, ruangan itu sudah berubah dan terdapat banyak foto keluarga kecil Yumna. Dia menatap foto pernikahan Yumna dan Bara, yang terlihat serasi.
Zea meremas tangan Keano, dan Keano menatap Zea yang tengah menggenggam tangannya dia tersenyum.
"Aku baik-baik saja, percayalah hanya kamu yang aku cintai," bisik Keano, mengecup pipi Zea.
Zea hanya tersenyum, walau rasa takut akan Keano yang belum bisa move-on dari Yumna terus menghantui pikirannya sedari tadi. Bahkan sebelum kesini saat Jimi memberitahukan bahwa, mereka akan melamar Dela.
Tak lama Dela datang bersama Yumna, yang menunjukan wajah tak ramah. Tak lupa Dela membawakan minuman untuk mereka semua.
"Ada apa kalian datang ke sini?" tanya Yumna to the poin, membuat Dela gugup dan melirik Auriga.
Dela memutuskan untuk menghubungi Bara, dia takut terjadi sesuatu pada Bundanya.
"Ayah," panggilnya saat telpon tersambung.
"Ya sayang?"
"Ayah bisa pulang sebentar gak? Darurat nih, pleas ayah pulang yah! Aku mohon yah," rengek Dela memohon.
"Ada apa sih? Coba cerita," pinta Bara.
"Gak bisa, pokoknya ayah pulang dulu aja. Izin sama opah," pinta Dela.
"Baiklah ayah pulang," putus Bara.
Setelah selesai menghubungi Bara, Dela kembali ke depan. Dia mendapati tatapan tajam dari Yumna, dia menebak bahwa keluarga Jimi sudah memberitahukan maksud kedatangan mereka.
"Saya harap, kalian pulang saja. Karena Dela tidak akan menikah secepat itu," jelas Yumna.
Jimi dan Auriga saling pandang, walau tidak marah tapi Yumna menunjukan ketidak sukaannya pada Jimi dan Auriga. Terlebih dia tidak memandang Keano dan Zea.
Jimi beranjak dari duduknya. "Baiklah, kami tunggu jawabannya Yumna. Bagaimana pun cucu-cucu ku menyayangi Dela, mereka sudah nyaman dekat dengan Dela," ujar Jimi.
Jimi pun mengajak semua keluarganya untuk pulang, termasuk Ara dan Lula yang merengek enggan pulang. Saat mobil mereka sudah tak terlihat, mobil Bara sudah tiba di halaman rumah.
"Ayah," panggil Dela, lalu memeluk Bara.
"Kenapa? Ayok masuk, kita bicara di dalam," ajak Bara.
Yumna masih setia memasang wajah datar dan Bara menenangkan Dela, setelah Yumna memberitahu Bara bahwa Auriga datang melamar Dela.
"Kamu bohong sama bunda Dela, kamu bilang tidak berhubungan dengan duda itu. Tapi nyatanya kamu sering datang ke rumahnya," marah Yumna.
"Maafkan aku bunda, aku terlalu merindukan Ara dan Lula."
"Rindu anaknya atau ayahnya, hah?" Yumna tersenyum sinis menatap sang anak, baru kali ini dia menunjukan wajah marah di depan anaknya.
"Asal kamu tahu Dela, sampai kapan pun bunda gak akan pernah. Merestui kalian berdua mengerti," jelas Yumna.
"Tapi bun, aku mencintainya."
"Dia gak pantas jadi suami kamu, dia pantasnya jadi ayah atau paman kamu. Kamu pikir Del, dia umurnya gak beda jauh sama bunda.
Yumna mencoba menahan amarahnya, dia ingin sekali mengamuk namun Bara mencoba menenangkan Yumna.
"Kamu gak tau, apa yang mereka lakukan pada ku, ibu mu," pekik Yumna.
"Sayang sudah," ucap Bara menenangkan.
"Masuk ke kamar, mulai besok bunda yang akan mengantar kamu ke kampus," putus Yumna tak ingin di bantah.
Dengan tergesa Yumna masuk kedalam kamar, dan membanting pintu dengan keras. Membuat Dela terperanjat kaget.
"Sudah nak, biar ayah yang bujuk bunda mu. Kamu masuk kamar ya," pinta Bara, di jawab anggukan oleh Dela.
Dela menghela napas kasar, dia berharap bundanya mau berbaik hati merestui dirinya dan Auriga.
****
"Apa yang aku takutkan terjadi, ini semua karena masa lalu ku," sesal Jimi, kini Jimi dan Auriga sudah sampai di rumah.
Dan mereka kini di ruang kerja Jimi, sedangkan Keano dan Zea mengajak anak-anak jalan-jalan. Untuk mengalihkan perhatian Ara yang terus merengek.
"Sudahlah dad, ini bukan salah mu. Aku tahu dulu kamu melakukan ini untuk anak perempuan mu. Mungkin caranya yang salah," kata Auriga.
"Mungkin kita tidak berjodoh dad, aku pasrah anak-anak tidak akan mendapatkan ibu yang mereka inginkan. Dan menyayangi mereka dengan tulus seperti Dela, Dela bisa membuat Lula menyayangi Ara."
Auriga beranjak dari duduknya meninggalkan ruangan kerja Jimi, Jimi menatap punggung sang anak. Auriga mulai membuka hati dengan perempuan, saat dia sudah membuka hati dan menempatkan gadis tersebut. Pertentangan dari pihak keluarga perempuan membuatnya putus asa.
"Maafkan Daddy," ucap Jimi.
****
Kebahagiaan Dela tak sesuai dengan kebahagiaan Dika, saat ini Dika tengah menunggu Anyelir pulang kerja. Dia berencana mengajak kekasihnya tersebut menemui sang ibu.
Dika yakin ibunya tidak akan mempermasalahkan, kasta mereka yang berbeda. Saat menunggu tiba-tiba chat dari Dela membuat Dika mengabaikan permainan yang sedang dia mainkan.
Dika mendial nomor Dela, saat dering pertama dia sudah mengangkatnya.
"Uncle rese," panggilnya di sela isak tangis.
"Kenapa lo? Terus tadi kenapa gak masuk lo?" tanya Dika.
"Bunda kurung aku di kamar, terus dia gak bolehin aku ke kampus dulu." Adunya pada Dika, Dela merasa bahwa Dika yang paling mengerti keadaannya.
Dela pun menceritakan kedatangan keluarga Auriga yang melamarnya, tanpa ada yang di kurangi atau di lebihkan. Pada saat dia akan pergi ke kampus tadi, pintu kamarnya di kunci oleh Yumna dari luar. Dan Dela menceritakan pula, saat dia berbohong pada bundanya.
"Sudah gue duga, lo gak mungkin ke kost Anita. Lo akhirnya jatuh cinta sama si hot duda itu kan?"
"Iya gue cinta dia uncle rese, mau gimana lagi? Cinta datang dengan sendirinya." Ujar Dela.
Dika menghela napas, dia ingin membantu Dela untuk keluar dari kamar. Dia tidak tega untuk memisahkan orang yang sedang dalam jatuh cinta.
"Nanti gue ke rumah bareng Anyelir, lo tenang aja. Gue bakal bantu lo Del," ucap Dika.
"Makasih uncle rese," balas Dela.
Dika mematikan sambungan telepon tersebut, Dika mulai berpikir bagaimana cara dia membantu Dela keluar dari rumah kakaknya.
"Ribet banget kisah cinta lo Del," keluh Dika.
Dika tahu, kakaknya sangat protektif pada Dela. Bukan hanya Dela saja Tatiana pun sama, tapi Tatiana lebih menurut pada Bara dan Yumna.
"Kenapa?" tanya Anyelir saat mengantarkan minuman ke meja sebelah Dika.
"Ini Dela, ada masalah," ucapnya jujur.
"Oh.. Aku kerja lagi, kalo kamu bosan boleh pulang dulu ka. Nanti bisa jemput lagi," jelas Anyelir.
"Engga Nye, aku akan tunggu kamu." Kekeh Dika, Anyelir pun mengangguk dan meninggalkan meja Dika.
****
Di kamar Dela terus berpikir mencari jalan keluar.
"Menyesal gue, kasih tralis di jendela. Ayok pikir-pikir," gumamnya.
Setelah mendapatkan ide, Dela menelepon adiknya Tatiana. Untuk membukakan pintu. Setelah sambungannya terangkat, Dela memohon pada sang adik.
"Gak mau, nanti aku di marahi bunda ka."
"Ayolah, Tiana. Kali ini aja kamu bantuin kaka, selama ini kaka selalu bantu kamu. Bahkan selalu abisin makanan yang kamu gak suka," mohon Dela.
"Ya udah, mumpung bunda lagi keluar."
"Iya cepet ya."
Dela pun memutuskan panggilan telepon dengan sang adik, kali ini dia akan melawan bundanya. Dia sangat mencintai Auriga dan kedua anaknya, biarlah orang akan berspekulasi apa tentang dirinya.
Tak lama Dela mendengar, suara kunci di putar dan pintu terbuka.
"Tiana," pekik Dela, memeluk sang adik.
Dela sudah siap kabur hanya membawa beberapa baju di dalam tasnya, gak lupa ponsel dan dompet. Dela memberikan koleksi foto BTS dan boneka BT21 kesayangannya pada Tiana.
"Itu buat kamu, tapi jangan bilang kalo kamu yang bukain ok!" ucap Dela.
"Iya ka, aku simpan ini di kamar kakak aja. Takut bunda curiga,"
Dela memeluk Tatiana dan membelai wajahnya, Tiana yang mirip dengan sang ayah.
"Makasih Tiana, aku sayang kamu." Ucapnya mencium kening Tiana.
"Aku juga." Tatiana memeluk Dela dengan erat, untuk pertama kalinya setelah mereka besar ini adalah pelukan pertama mereka.
"Aku pergi dulu Tiana, ingat jangan kasih tau bunda!"
Tatiana pun mengangguk sebagai jawaban, dia menatap Dela yang keluar dengan tergesa. Kini tujuan utama Dela adalah apartemen Auriga.
****
Semetara itu Auriga yang tak pergi bekerja pun memutuskan untuk menenangkan diri di apartemennya, Lula dan Ara mereka di titipkan di rumah Zea.
Terdengar suara bel membuat Auriga mengerutkan keningnya, dan bergegas ke depan membuka pintu. Saat membuka pintu Dela langsung menghambur ke pelukan Auriga.
"Aku rindu kamu ka," ucapnya jujur.
Auriga tersenyum dan membalas pelukan Dela erat, tapi sedetik kemudian. Dia melepaskan pelukan itu, membuat Dela menatap Auriga heran.
"Kenapa?"
"Seharusnya kami jangan ke sini, sudahlah lupakan semuanya. Terima kasih kamu sudah mencintai anak ku," jelas Auriga.
"Auriga."
"Dela kamu bukan tipe ku, aku butuh wanita dewasa yang seumuran dengan ku atau setidaknya dia mengerti kebutuhan ku. Kamu masih kuliah dan mungkin akan sulit mengimbangi ku," ujar Auriga.
Dela tak percaya Auriga bisa berbicara sepertu itu, selama ini dia anggap apa kehadirannya.
"Lebih baik kamu pulang Dela, dan jangan pernah temui aku dan anak-anak." Usir Auriga.
"Kamu mengusir ku? Aku bersikeras memperjuangkan mu, seharusnya kita saling menguatkan bukan menyuruh ku pergi dan mengakhiri hubungan yang baru kita mulai ini Auriga," pekik Dela, sekuat tenaga dia menahan air matanya agar tak jatuh.
Tapi sialnya air matanya tanpa permisi membasahi pipinya, dan kelemahan Auriga adalah air mata Dela. Dia benar-benar tak tega, Auriga pun di buat gamang. Dia pun memeluk Dela erat, seolah tak ingin Dela pergi.
"Aku mencintai mu Dela, sangat. Jangan pergi tetap di sini bersama ku dan anak-anak," ucap Auriga, Dela pun mengangguk sebagai jawaban.
Tanpa Dela tahu, bahwa di rumahnya terjadi kehebohan karena dirinya yang pergi. Yumna pun menanyai Tatiana.
"Tiana kemana kaka mu?" tanya Yumba.
"Aku mana tau bun, dari tadi di kamar terus." Balasnya bohong, Tatiana gugup tapi berusaha untuk menyembunyikannya.
"Yakin kamu?"
"Yakin bun," cicitnya takut.
"Ya sudah masuk kamar," perintah Yumna, Tatiana pun dengan langkah cepat masuk menuju kamar tanpa sepatah kata pun.
"Huff... Hampir saja," ucap Tatiana.
Yumna memutuskan untuk menunggu Bara, dan mencari Dela ke rumah Jimi. Kini kesabarannya di uji oleh putri sulungnya tersebut.
"Jika kamu benar di rumah Jimi, maka bunda akan membawa mu pergi jauh." Ancam Yumna, mengepalkan kedua tangannya.
tbc...
Maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏